Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meminta Tiongkok untuk membantu meringankan sanksi-sanksi internasional terhadap Korea Utara selama kunjungan terakhirnya ke Beijing pada pertengahan Juni, menurut surat kabar Jepang Yomiuri Shimbun.

Mengutip sumber anonim, Yomiuri Shimbun melaporkan pada 1 Juli bahwa Kim telah meminta pemimpin Tiongkok Xi Jinping untuk membantu mengakhiri sanksi-sanksinya karena pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump telah “berhasil disimpulkan.”

Sebagai tanggapan, Xi mengatakan dia akan melakukan “upaya maksimal.”

Kunjungan Kim bulan Juni adalah yang ketiga tahun ini, yang menegaskan bahwa sekutu komunis dan mitra dagang utama masih mengandalkan hubungan diplomatik mereka. Itu terjadi kira-kira seminggu setelah pertemuan bersejarah Kim dengan Trump di Singapura.

Sementara itu, administrasi Trump secara terus-menerus mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk menegakkan sanksi-sanksi sampai denuklirisasi di semenanjung Korea sepenuhnya tercapai.

Pekan lalu, Trump mendesak Beijing untuk melanjutkan upaya-upaya terhadap sanksi-sanksi tersebut dan mengatakan perbatasan antara Tiongkok dan Korea Utara “semakin sedikit melemah sekarang.”

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada sidang Senat AS pekan lalu bahwa dia telah melihat “sedikit” kemunduran pada Tiongkok.

“Kita telah mengamati Tiongkok tidak memaksakan kontrol atas wilayah lintas perbatasan mereka dengan penuh semangat seperti enam atau 12 bulan lalu,” kata Pompeo.

Sejak Kim melakukan kunjungan pertamanya ke Beijing pada bulan April, kegiatan antara perbatasan telah meningkat. Media Korea Selatan melaporkan bahwa sejumlah besar pekerja Korea Utara dikirim ke Tiongkok.

Dan awal tahun ini, Dewan Keamanan PBB memasukkan daftar lusinan kapal dan perusahaan pelayaran yang menyelundupkan minyak dan batu bara ke Korea Utara, termasuk lima yang berbasis di Tiongkok.

Kantor berita Kyodo Jepang melaporkan minggu lalu bahwa pemerintah Tokyo telah memperingatkan PBB tentang dugaan insiden pengiriman kapal ke kapal pada 21 Juni yang melibatkan kapal tanker Korea Utara di Laut China Timur.

Sementara itu, para pejabat intelijen AS mengatakan kepada The Washington Post dalam laporan 30 Juni bahwa Korea Utara memiliki rencana untuk menipu Amerika Serikat tentang jumlah sebenarnya hulu ledak nuklir dan keberadaan fasilitas nuklir yang dirahasiakan, menunjukkan bahwa ia tidak berniat untuk sepenuhnya denuklirisasi. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular