Erabaru.net. Ketika aku masih di SMA, aku melihat seorang anak dari sekolahku berjalan pulang dari sekolah membawa semua buku-bukunya.

“Mengapa ada orang membawa semua bukunya pada hari Jumat? Dia pasti benar-benar bodoh,” pikirku dalam hati.

Saat sedang berpikir begitu, aku melihat sekelompok anak berlari ke arahnya.

Mereka berlari ke arahnya, menjatuhkan semua buku dari tangannya dan menjegalnya hingga jatuh.
Kacamatanya terbang, dan mendarat sekitar 3 meter dari dirinya.

Ilustrasi: google pic

Ada kesedihan yang mendalam di matanya, dan hatiku menyuruhku menghampirinya. Aku melihat air matanya saat aku menyerahkan kacamatanya.

“Orang-orang itu kurang ajar. Mereka harus mendapatkan pelajaran,” kataku kepadanya.

Dia menatapku dengan senyum penuh rasa terima kasih dan berkata, “Hai, terima kasih!” Aku membawakan bukunya, dan berbincang sepanjang jalan pulang. Dia ternyata cukup keren, semakin aku mengenal Kyle, semakin aku menyukainya.

Selama empat tahun berikutnya, Kyle dan aku menjadi teman baik.

Lalu datanglah Hari Kelulusan dan Kyle harus menyiapkan pidato.

Kyle adalah salah satu murid yang benar-benar menemukan jati dirinya selama di sekolah menengah. Merasakan kegelisahannya, kutepuk punggungnya dan ku sapa, “Hai cowok, Kamu akan luar biasa!”

Dia menatapku dengan senyum berucap “Terima kasih,” dan bersiap-siap untuk pidatonya.

Iliustrasi: ytimg.com

“Wisuda adalah waktu untuk berterima kasih kepada mereka yang telah membantu kalian melewati tahun-tahun sulit: orang tua, guru, dan saudara Anda, … tapi kebanyakan adalah teman-teman kalian.

Menjadi teman bagi seseorang adalah hadiah terbaik yang bisa kamu berikan kepada mereka.” Kemudian dia menatapku dan melanjutkan,

“Aku akan menceritakan sebuah kisah.” Aku melihat temanku seperti tidak percaya saat dia menceritakan kisah hari pertama kami bertemu. Dia telah merencanakan untuk bunuh diri selama akhir pekan itu. Dia bercerita tentang bagaimana dia membereskan loker sekolahnya, agar ibunya tidak harus melakukannya nantinya.

Dia menatapku dengan tajam dan memberiku sedikit senyum, “Syukurlah, aku diselamatkan. Temanku menyelamatkanku dari melakukan hal yang tak terucapkan.”

Semua memperhatikannya saat cowok tampan dan populer ini menceritakan momen terlemahnya.

Aku melihat Ibu dan ayahnya menatapku dengan senyuman penuh syukur yang sama. Belum sampai disitu aku menyadari kedalaman maknanya.

Satu kata atau tindakan kecil dapat mengubah kehidupan seseorang, menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Menjadi alasan seseorang percaya pada kebaikan orang, dan perlahan kita bisa mengubah dunia, satu tindakan kebaikan tanpa pilih-pilih setiap waktu. (vv/an)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular