Erabaru.net. Sally Yang, baru berusia 32 tahun, meskipun masih muda dia sudah menjadi wakil direktur sebuah perusahaan besar dengan pendapatan tahunan lebih dari dua miliar rupiah. Cukup banyak orang yang kagum sekaligus iri melihat kesuksesan Sally yang cantik dan juga anggun itu.

Namun di dalam lubuk hati Sally, selalu ada segores luka yang sulit dihilangkan dalam sepanjang hidupnya. Awalnya, Sally memiliki keluarga yang bahagia. Dia memiliki orangtua dan kakak laki-laki, namun, orangtua Sally meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sepeninggal orangtuanya, Sally tinggal bersama dengan Brandon, kakak laki-lakinya.

Sally baru berusia 8 tahun dan Brandon kakaknya lebih tua 10 tahun darinya ketika ditinggal pergi kedua orangtua mereka. Pada saat itu, Brandon, kakaknya yang semula diterima di universitas, akhirnya memutuskan berhenti kuliah dan memilih bekerja demi Sally yang masih kecil.

Meski masih kecil, tapi sikap Sally cukup dewasa, melihat kakaknya berkorban untuknya, Sally semakin giat belajar dan ikut bekerja membantu meringankan beban kakaknya.

Meski kedua bersaudara hidup serba kekurangagn kala itu, tapi mereka bahagia. Namun, kehangatan dan kedamaian hidup itu hancur ketika Sally menginjak usia dua belas tahun.

Kala itu, Brandon merasa fisiknya semakin hari semakin melemah, sementara dia sendiri juga tidak tahu mengapa. Tak lama kemudian, Brandon membawa pulang seorang gadis, dan mengatakan bahwa dia akan segera menikah, saat itu, kakak laki-lakinya juga mengatakan bahwa Sally akan diberikan kepada keluarga lain, karena dia hanya akan menjadi bebannya, apalagi kelak setelah menikah.

Mendengar itu, Sally pun menangis sedih, dia memohon pada kakaknya untuk tidak memberikannya kepada orang lain, dia juga berjanji akan lebih patuh dan tidak akan terlalu membebani kakaknya.

Namun, tidak peduli bagaimana pun Sally meratap, akhirnya dia diberikan kepada sepasang suami istri yang cukup berada tapi tidak memiliki anak.

Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, luka di hati Sally kala itu masih melekat dalam sanubarinya. karena dia masih membenci kakaknya. Sally yang sekarang telah sukses dan kaya, dia ingin menghilangkan bekas lukanya itu, dan mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.

Pagi itu, Sally mengenakan busana mahal yang indah, sambil mengendarai mobil mewahnya, dia pulang ke kampung halamannya yang telah dua puluh tahun tak pernah dipijaknya lagi. Dia ingin memamerkan kepada kakaknya untuk menghilangkan kebencian di dalam hatinya.

Sesampainya di depan rumah, Sally melihat rumah tua itu sudah reyot, pintunya tertutup rapat, dan dipenuhi dengan jaring laba-laba.

Sally merasa agak aneh, dia membuka pintu itu dengan keras, dan masuk ke dalam, tapi dia tercengang melihat pemandangan di depannya.

Di atas dinding di dalam rumah, tampak tergantung selembar foto hitam putih, itu adalah potret Brandon, kakak laki-laki satu-satunya, tampak tidak berubah seperti 20 tahun yang lalu. Di sebelah foto kakaknya, tampak secarik kertas catatan yang telah menguning. Sally membuka surat itu. Dalam surat itu tertulis sederetan huruf yang bertuliskan :

“Sally, adikku tersayang, kakak harap kamu tidak menyalahkan kakak yang tega memberikan dirimu pada orang lain ketika itu. saat itu, kakak didiagnosis menderita kanker stadium akhir dan tidak ada harapan lagi untuk sembuh.

Kakak tidak takut menghadapi kematian, tapi yang paling kakak cemaskan adalah kamu, karena itulah, kakak sengaja bersikap kasar dan terpaksa menyerahkan kamu pada keluarga lain !

Asal kamu tahu, kakak paling sayang sama kamu sejak kecil, dan seandainya ada kehidupan kedua, kakak harap kita bisa menjadi saudara lagi, semoga…..”

Demikian bunyi surat terakhir dari Brandon untuk Sally, adik yang disayanginya.

Dan Sally pun tak kuasa menahan air matanya mengalir.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular