Erabaru.net. Minum susu kental manis sudah menjadi semacam kebiasaan yang dikonsumsi oleh masyarakat dengan alasan pemenuhan kebutuhan gizi.  Namun sungguh mengejutkan, ternyata kandungan yang terkandung di dalamnya lebih banyak gula.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dalam rilisnya, Kamis (04/07/2018) mengataktakan subkategori susu kental dan analognya (termasuk di dalamnya SKM) merupakan salah satu subkategori dari kategori susu dan hasil olahannya.

“Subkategori/jenis ini berbeda dengan jenis susu cair dan produk susu, serta jenis  susu bubuk, krim bubuk, dan bubuk analog,” demikian rilis BPOM.

Menurut BPOM, karakteristik jenis SKM adalah kadar lemak susu tidak kurang dari 8% dan kadar protein tidak kurang dari 6,5% (untuk plain).

Lebih rinci BPOM mengungkapkan, susu kental dan analog lainnya memiliki kadar lemak susu dan protein yang berbeda, namun seluruh produk susu kental dan analognya tidak dapat menggantikan produk susu dari jenis lain sebagai penambah atau pelengkap gizi.

Oleh karena itu, BPOM menyarankan susu kental dapat digunakan untuk toping dan pencampur pada makanan atau minuman seperti roti, kopi, teh, coklat dan lain-lain.  

BPOM RI menyatakan telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) Reviu Pengaturan SKM, perkuatan pengawasan promosi dan penandaan SKM, sosialisasi tentang SKM dan produk sejenis agar SKM diproduksi, diedarkan, digunakan dan dikonsumsi dengan tepat.

Surat edaran No HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada produk Susu Kental dan Analognya (subkategori pangan 01.3) yang ditujukan kepada seluruh produsen/importir/distributor SKM menegaskan label dan iklan SKM tidak boleh menampilkan anak usia di bawah 5 tahun dan tidak diiklankan pada jam tayang acara anak-anak.

Berdasarkan hasil pengawasan BPOM RI terhadap iklan SKM di tahun 2017 terdapat 3 iklan yang tidak memenuhi ketentuan karena mencantumkan pernyataan produk berpengaruh pada kekuatan/energi, kesehatan dan klaim yang tidak sesuai dengan label yang disetujui. Iklan tersebut sudah ditarik dan tidak ditemukan di peredaran.

Sementara Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila Moeloek mengatakan pihaknya menegaskan jika gula, garam, lemak dikonsumsi terlalu tinggi maka akan mengganggu kesehatan. Apalagi, kata dia, jika mengetahui itu dapat menyebabkan diabetes.

“Misal ada makanan dengan gula yang tinggi, jangan sering-sering dikonsumsi,” kata Menkes di Gedung DPR RI, Kamis (5/7/2018).

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Kirana Pritasari menekankan susu tersebut sama sekali tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari apalagi untuk Balita.

Menurut dia, susu kental manis tidak untuk memenuhi nutrisi. Ini dikarenakan kebutuhan Balita terdiri kecukupan gizi. Sedangkan susu kental manis bertolak belakang dikarenakan lebih banyak mengandung gula.

“Kalau anak banyak (konsumsi) gula dia nanti akan kurang makan makanan yang lain, padahal dia butuh (selain gula) protein. Ini yang kita hindari,” kata Kirana. (asr)

Share

Video Popular