Erabaru.net. Bisakah sebuah gambar mengatakan ribuan kata? Jawabannya terletak pada gambar itu sendiri. Ada banyak foto di luar sana yang cocok dengan ungkapan di atas, dan foto-foto tersebut sangat kuat dalam membangkitkan emosi siapapun yang melihatnya, beberapa menjadi tersentuh, beberapa menjadi senang, beberapa menjadi marah. Seringkali juga, kita membawa apa yang pernah kita lihat dan kemudian mengenang hal tersebut, selamanya.

Sang fotografer yang berhasil mengambil foto ikonik, yakni foto-foto yang memiliki kemungkinan besar untuk tampil di halaman pertama koran di seluruh dunia, juga memiliki kemungkinan untuk menjadi kunci pengingat akan suatu momen penting di masa lampau, seringkali harus berada di waktu dan tempat yang tepat, sehingga dalam foto yang berhasil dia ambil, tidak lagi diperlukan banyak kata-kata untuk menjelaskan apa yang ada di dalam foto tersebut, karena foto itu akan “berbicara” untuk dirinya sendiri.

Nyala Lilin

Nyala lilin Washington DC. Kredit: NTD.tv

Peristiwa nyala lilin yang ada pada gambar di atas diadakan setiap tahun untuk mengenang para korban yang telah kehilangan nyawa, sebagai akibat dari kampanye genosida yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok untuk memusnahkan Falun Gong.

Dalam foto tersebut, sekitar 2.000 orang praktisi Falun Gong mengadakan nyala lilin di Washington DC, pada tanggal 21 Juli 2006, untuk mengenang rekan-rekan praktisi mereka yang terbunuh akibat penganiayaan. Para praktisi Falun Gong telah dan terus menyerukan agar penganiayaan dihentikan, dengan mengajukan aksi damai, pawai, dan nyala lilin, di seluruh dunia, sampai hari ini.

Alasan dilakukannya penganiayaan terhadap Falun Gong? Popularitas yang sangat tinggi atas latihan lembut ini, dimana saat itu telah dilatih oleh orang-orang dengan jumlah yang lebih banyak dari jumlah anggota Partai Komunis Tiongkok itu sendiri, membuat mantan diktator sekaligus pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok saat itu, Jiang Zemin, merasa cemburu. “Hancurkan reputasinya, bangkrutkan keuangannya, dan hancurkan fisiknya” adalah perintah yang dia berikan.

Permohonan Damai di Lapangan Tiananmen

Zenon Dolnyckyj, mengenakan kaos bergambar bendera Kanada, sedang berusaha dijatuhkan oleh para petugas polisi di lapangan Tiananmen setelah berpartisipasi dalam demonstrasi duduk untuk mendukung Falun Gong yang ditindas di Tiongkok, pada Selasa, 20 Nov 2001. Ada sekitar dua puluh orang praktisi Barat ikut berpartisipasi dalam demonstrasi duduk ini, mereka juga sempat membentangkan spanduk raksasa sebelum akhirnya ditangkap dan ditahan oleh polisi. (AP Photo/Ng Han Guan)

Tujuh belas tahun lalu, pada siang hari tanggal 20 Nov 2001, 36 orang praktisi Barat dari 12 negara diam-diam muncul di Lapangan Tiananmen—jantung simbolis Tiongkok— dan melakukan permohonan damai untuk membuat orang-orang Tiongkok tahu bahwa Falun Dafa adalah baik. Rakyat Tiongkok saat itu tekah diracuni dengan propaganda fitnah, yang dimulai pada tahun 1999 oleh Partai Komunis Tiongkok, dalam upaya untuk mengubah opini publik terhadap Falun Gong dari latihan yang paling digemari menjadi latihan yang paling dibenci.

Seorang praktisi Falun Gong Kanada Zenon Dolnyckyj, yang berada dalam gambar di atas, membentangkan spanduk yang lebih kecil, yang diikatkan ke kakinya, bertuliskan, “Falun Dafa baik.”

“Amerika tahu, dunia tahu, Falun Dafa adalah baik!” seru Dolnyckyj dalam bahasa Mandarin sambil berlari di dalam lapangan, menunjukkan tulisan yang ada di spanduknya, sementara para praktisi lainnya ditangkap, dipukuli, dan dipaksa untuk masuk ke dalam mobil polisi.

Tiga orang polisi menjatuhkan Dolnyckyj ke tanah, dan satu orang memukul wajahnya, membuat hidungnya retak, sebelum kemudian memaksanya masuk ke dalam mobil polisi.

Aksi permohonan bersejarah ini, yang dilaporkan secara lebih detail disini, akan menjadi catatan untuk generasi masa mendatang tentang petualangan epik akan keberanian dan kepedulian terhadap orang lain.

Ciuman Kerusuhan Vancouver

©Getty Images | Rich Lam / Stringer

Scoot Jones mengatakan bahwa saat itu dia sedang berusaha untuk menenangkan kekasihnya yang sedang histeris, Alex Thomas, setelah mereka dipukuli oleh polisi dalam kerusuhan Vancouver di tahun 2011. Pasangan itu baru saja menyaksikan pertandingan final hoki es ketika kemudian kerusuhan terjadi. Mereka terjebak di tengah-tengah kerusuhan tersebut.

“Saat itu saya berada sekitar 20 atau 30 meter jauhnya. Ada 2 orang ini, yang berada di tanah di jalanan kosong. Awalnya, saya mengira salah satu dari mereka terluka. Saya mengambil beberapa gambar, dan momen itu segera hilang. Saat itu benar-benar kacau. Para perusuh membakar 2 mobil, dan kemudian saya melihat penjarah memecahkan jendela departemen store di sekitar sana. saat itu, polisi anti huru-hara menyerbu ke arah kami. Setelah saya berhenti berlari, saya menyadari ada area kosong di belakang garis polisi, dan disitu ada 2 orang yang berbaring di tengah jalan di antara polisi dan api yang menyala. Saya tahu bahwa saya telah berhasil mengambil gambar dengan latar belakang kekacauan, namun hanya setelah saya kembali pulang dan hendak menyimpan foto-foto tersebut, editor saya menunjukkan bahwa kedua orang itu tidak terluka mereka justru sedang berciuman.” Fotografer Rich Lam.

Anak-Anak Debu Hitam

 

Posted by Shehzad Noorani on Wednesday, June 25, 2008

Posted by Shehzad Noorani on Wednesday, June 25, 2008

The Children of Black Dust (Anak-Anak Debu Hitam) adalah serangkaian foto yang dibuat oleh fotografer asal Bangladesh, Shehzad Noorani.

Di Ibukota Bangladesh, Dhaka, baterai sel kering didaur ulang di ratusan pabrik serta bengkel. Para wanita serta anak-anak adalah buruh utama pabrik disana, dan mereka akan menghabiskan waktu sepanjang hari disana dalam kondisi yang mengerikan

“Sama seperti Marjina, banyak wanita yang membawa anak mereka ke tempat kerja karena tidak ada tempat lain yang bisa mereka tinggali. Lingkungan di dalam juga di sekitar bengkel dipenuhi dengan debu karbon dan material-material beracun lainnya. Anak-anak yang lebih kecil akan bermain di area penuh polusi ini sampai mereka lelah dan tertidur, dan kebanyakan dari mereka menderita karena infeksi dada dan mata. Fakta yang menyedihkan adalah bahwa anak-anak ini harus bekerja supaya tetap hidup; jika mereka tidak bekerja, mereka tidak akan makan. Tapi itu bukan berarti mereka telah dieksploitasi.” Fotografer Shehzad Noorani.

“Manusia Tank”

©Getty Images | Bettmann / Contributor

“Manusia Tank” telah dianggap sebagai salah satu foto paling ikonik di abad ke-20. Satu orang yang sedang berdiri di depan beberapa buah tank telah menjadi simbol akan Pembantaian Tiananmen.

Orang-orang muda di Tiongkok hanya tahu sedikit mengenai peristiwa ini, dan peristiwa Pembantaian Tiananmen adalah topik yang sangat dilarang untuk dibicarakan di Tiongkok. Masyarakat juga tidak memiliki akses untuk memperoleh informasi akan fakta, foto, ataupun statistik yang sesungguhnya dari peristiwa tersebut, dan istilah “4 Juni, atau 4/6” disensor sangat ketat.

Menurut informasi rahasia yang kemudian dibocorkan oleh sumber tingkat tinggi di dewan negara Tiongkok, ada sekitar 10.454 orang yang dibunuh oleh para tentara Tiongkok selama pembantaian terjadi. Angka ini jauh lebih besar dari pernyataan resmi pejabat Tiongkok yang menyatakan bahwa hanya ada 200 orang yang terbunuh.

Pada tanggal 4 Juni 1989, para siswa ditembak mati serta digilas oleh tank. “Kendaraan APC kemudian menggilas mayat-mayat mereka berulangkali untuk dijadikan ‘kue gepeng’ dan sisa-sisa jasad mereka kemudian dikumpulkan dengan bulldozer. Sisa-sisa jasad mereka itu kemudian dibakar dan dibuang ke saluran air,” kata sebagian pernyataan, yang berhasil didapatkan oleh Alan Donald, duta besar Inggris untuk Tiongkok di tahun 1989.

Beberapa hal yang mungkin belum banyak diketahui orang banyak mengenai peristiwa 4 Juni, dapat dilihat disini.

Walaupun mengetahui bahwa para tentara telah membantai semua siswa yang melakukan protes sehari sebelumnya, “manusia tank” ini tetap melakukan aksinya pada tanggal 5 Juni, dan diabadikan oleh Jeff Widener, seorang fotografer Associated Press yang kebetulan berada di waktu dan tempat yang tepat. Manusia tank ini kemudian dibawa oleh orang-orang yang tampaknya adalah polisi berpakaian preman—namun sebelumnya dia telah berhasil menahan konvoi tank beberapa waktu, dan menaiki salah satu tank untuk berbicara dengan tentara yang ada di dalamnya. (lpc/jul)

NTDIN.tv

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds