EpochTimesId – Salah satu perusahaan pengembang senjata terkemuka di Amerika Serikat, Raytheon mendorong maju produksi senjata laser baru. Mereka menerima kontrak besar untuk mengembangkan sistem senjata generasi berikutnya dari militer Amerika.

Raytheon mengumumkan pada awal bulan ini, bahwa akan mengembangkan sistem untuk Kendaraan Taktis Menengah Angkatan Darat AS. Mereka akan segera bekerja berkat kontrak senilai 10 juta dolar AS (sekitar 140 miliar rupiah) dari program Demonstrasi Kendaraan Taktis Energi Tinggi Angkatan Darat AS (the U.S. Army’s High Energy Laser Tactical Vehicle Demonstration). Kontrak itu datang bersamaan dengan pengumuman bahwa pasukan keamanan AS mungkin segera memiliki senapan laser.

Senjata-senjata baru yang akan diciptakan oleh Raytheon diprediksi akan sanggup menghancurkan roket, artileri, dan drone kecil.

Perkembangan teknologi dalam sistem persenjataan di seluruh dunia terus berkembang. Kantor berita Tiongkok melaporkan pada 1 Juli 2018, bahwa para ilmuwan rezim otoriter itu telah mengembangkan senapan serbu laser ZKZM-500 baru. Pancarannya dapat melewati jendela dan diperkirakan mampu menyebabkan luka ‘karbonisasi instan’ pada kulit manusia.

Senjata laser Tiongkok itu bukanlah jenis laser bercahaya yang sering ditampilkan dalam film fiksi ilmiah. Sebaliknya, senjata itu memancarkan sinar yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Menurut laporan media corong Tiongkok, senapan laser sudah siap untuk diproduksi massal. Batch pertama kemungkinan akan didistribusikan kepada pasukan anti-terorisme pada Polisi Bersenjata Tiongkok.

Senjata laser akan cocok pada kategori yang lebih luas daripada senjata energi-terarah (DEW). DEW mencakup senjata yang bekerja pada spektrum cahaya elektromagnetik dan spektrum sonik suara.

Di Amerika Serikat, DEW disebut dalam Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional FY2019 yang baru. UU yang menyerukan Pentagon untuk, “mengembangkan, menetapkan, dan mengkoordinasikan kegiatan pengujian energi terarah,” dan untuk “mengembangkan dan menyebarkan sistem energi terarah agar sesuai dengan kebutuhan keamanan nasional.”

Senjata laser menyerang target yang ditentukan pada demonstrasi Angkatan Laut AS yang dilakukan pada tahun 2014. (Foto : Angkatan Laut AS/The Epoch Times)

Raytheon membuat laser pertama pada tahun 1960 dan telah menghasilkan lebih dari 50.000 laser militer berkekuatan lebih rendah, yang digunakan terutama untuk penargetan. Mereka juga mengerjakan sistem laser untuk kendaraan darat Marinir AS yang dapat menonaktifkan pesawat kecil.

Senjata laser diklaim memiliki biaya yang lebih terjangkau. Bahkan dengan sistem berskala besar, laser hanya memakan biaya sekitar satu dolar per tembakan.

Rick Hunt, wakil presiden untuk Operasi Angkatan Laut di Raytheon, menyatakan dalam laporannya bahwa senjata-senjata itu dapat memberikan keuntungan signifikan.

“Ini akan menjadi milik kita, atau itu akan menjadi senjata orang jahat,” kata Hunt. “Kita harus mengeluarkan (menggunakannya) lebih dulu.” (Joshua Philipp/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds