Washington DC – Menaikkan tarif impor, pada umumnya akan meningkatkan biaya konsumen dan bisnis dalam negeri. Kebijakan yang kemudian pada gilirannya, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Namun, analisis pakar ekonomi menunjukkan bahwa, kinerja ekonomi Amerika Serikat sangat kuat. Itu akan memberikan dukungan maksimal kepada pemerintahan AS, Donald Trump, untuk memenangkan perang dagang AS-Tiongkok yang telah dimulai pada 6 Juli 2018.

Kinerja ekonomi Amerika Serikat akhir-akhir ini melampaui dugaan banyak orang. Banyak ekonom memprediksi bahwa laju Pertumbuhan Domestik Bruto kuartal kedua AS tahun ini akan mendekati atau melebihi 4 persen. Persentase yang sekitar dua kali lipat dari sembilan tahun lalu.

Selain itu, tingkat pengangguran turun ke level terendah sejak 18 tahun terakhir. Upah naik secara konsisten dan bahkan jika ada eskalasi konflik perdagangan, pasar tenaga kerja AS tetap kuat. Pada bulan Juni, sebanyak 213.000 tenaga kerja telah memperoleh pekerjaan.

Kinerja ekonomi yang cerah memberikan dukungan kuat kepada pemerintah Trump untuk menekan Tiongkok. Sekaligus membantu untuk lepas dari rasa takut akan efek perang dagang yang membahayakan keluarga, buruh atau bisnis Amerika.

Khususnya dalam periode tingkat pengangguran rendah, pekerja Amerika relatif mudah untuk mencari pekerjaan. Bahkan jika mereka terpaksa menganggur karena Tiongkok menaikkan tarif terhadap komoditas AS.

“Pada saat pertumbuhan ekonomi sedang kuat, itu adalah waktu terbaik untuk memotivasi Tiongkok komunis mengubah sistem perdagangan mereka lewat penerapan kenaikan tarif,” ujar Derek Scissors, seorang ahli urusan Tiongkok dari American Enterprise Institute kepada Wall Street Journal.

Perang dagang AS-Tiongkok melalui penerapan 25 persen tarif impor terhadap komoditas yang diimpor dari negara lawan berjumlah 34 miliar dolar AS mulai diberlakukan pada 6 Juli 2018. Berbeda dengan AS yang memang sengaja menghindari dampaknya terhadap barang-barang kebutuhan konsumen, tetapi Tiongkok justru menerapkan kenaikan tarif pada komoditas yang merupakan kebutuhan konsumen.

Tiongkok menerapkan tarif impor untuk kedelai, daging babi, buah-buah dan kacang-kacangan, dan produk susu. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi pemilihan umum paruh waktu anggota kongres yang akan diselenggarakan pada bulan November tahun ini. Tiongkok tidak mempertimbangkan dampaknya pada konsumen dalam negeri.

Selain itu, berdasarkan temuan bahwa Tiongkok melanggar ‘301 Report’, pemerintah Trump mengkonfirmasikan bahwa pihak Tiongkok telah mencuri hak kekayaan intelektual AS melalui berbagai cara. Sehingga Trump memutuskan untuk mengenakan tarif atas komoditas Tiongkok setelah mencari opini publik.

Pakar ekonomi dan perdagangan percaya bahwa pembalasan yang dilakukan Tiongkok tidak hanya tanpa dasar hukum, juga tidak melalui dengar pendapat atau saran publik.

Jika Beijing tidak berkomitmen untuk mereformasi sistem ekonomi dan perdagangan mereka, termasuk membatalkan praktik perdagangan yang tidak adil, maka perang dagang tidak akan reda dalam waktu singkat, malahan bertendensi meningkat.

Pada 18 Juni, Trump menginstruksikan Perwakilan Perdagangan AS (USTR) untuk memungut tarif 10 persen terhadap komoditas Tiongkok senilai 200 miliar dolar, jika Beijing melakukan pembalasan. Trump pada 5 Juli mengatakan akan menaikkan pajak atas barang-barang Tiongkok sebesar 16 miliar dolar AS dalam beberapa minggu ke depan bila Tiongkok membalas. Tidak menutup kemungkinan, AS akan memperbesar angka tersebut hingga menjadi 500 miliar dolar pada masa mendtang.

David Dollar dari Brookings Institute memperkirakan bahwa perang tersebut setidaknya akan berlangsung sampai tahun depan. Karena kinerja ekonomi AS yang kuat dapat menahan serangan balasan dari Tiongkok, dan tidak akan memberikan tekanan atau dampak yang berarti bagi Amerika Serikat.

Washington Post memberitakan, pemerintahan Trump percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini adalah 6,8 persen. Pertumbuhan itu lebih rendah dari yang diharapkan. Ini berarti bahwa ekonomi Tiongkok yang rapuh akan menanggung dampak dari perang dagang lebih berat.

Selain itu, tingkat ketergantungan Tiongkok terhadap ekspor juga jauh lebih tinggi daripada AS. Mereka juga sedang bekerja keras untuk mengurangi pertumbuhan kredit yang telah menekan perkembangan ekonomi Tiongkok.

Penasihat Gedung Putih Peter Navarro pernah mengatakan, “Tidak sulit untuk dilihat bahwa Tiongkok akan kehilangan jauh lebih banyak daripada Amerika Serikat dalam konflik perdagangan ini.”

Michael Wessel, anggota Kongres AS dari US-China Economic and Security Review Commission meyakini bahwa Tiongkok memiliki ketergantungan yang tinggi pada pasar AS. Sehingga, jika Amerika Serikat memberikan tekanan pada Tiongkok, maka tekanan akan berdampak lebih luas bagi Tiongkok, dan lebih mungkin untuk memberikan hasil bagi AS.

Namun, David Dollar mengingatkan bahwa kinerja ekonomi AS saat ini cukup, terutama karena adanya pemotongan pajak yang signifikan, dan efeknya merangsang pertumbuhan ekonomi. Efek itu secara bertahap akan memudar setelah tahun 2019.

David Dollar memprediksikan bahwa perang dagang kedua negara besar dunia ini mungkin dapat berlangsung hingga tahun depan. Pada saat itu, jika Presiden Trump menerapkan kenaikan pajak terhadap hampir seluruh komoditas impor dari Tiongkok (yang senilai 500 miliar dolar AS) itu akan memberikan dampak tertentu pada ekonomi AS. (ET/Wu Ying/Sinatra/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds