Yang Ning – Epochtimes.com

Menurut kantor berita Bloomberg tanggal 4 Juli lalu, setelah Menteri Keuangan Venezuela Simon Zerpa bersama dengan China Development Bank (CDB) dan juga para petinggi China National Petroleum Company, negara tersebut akan mendapat dana investasi langsung dari CDB senilai USD 250 juta (3,57 triliun rupiah) yang akan digunakan untuk meningkatkan produksi minyak bumi Perusahaan Minyak Bumi Nasional Venezuela (PDVSA).

Dan sebelumnya surat kabar “Wallstreet Journal” mengungkapkan, PDVSA pernah menyatakan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, Venezuela akan mendapatkan pinjaman sebesar USD 10 milyar (142,8 triliun rupiah) dari RRT, setengahnya akan digunakan sebagai bagian dari kesepakatan pembiayaan bilateral, setengah sisanya lagi akan digunakan untuk proyek minyak bumi Venezuela.

Hal ini membuat orang teringat akan sebuah berita di tahun 2016. Waktu itu setelah pejabat negara RRT dan Venezuela bertemu, seorang pejabat RRT menyebutkan: “Kedua negara telah mencapai kesepahaman untuk tidak akan menginvestasikan dana baru lagi……. Pesan yang disampaikan oleh level pimpinan pihak RRT sangat jelas: biarkan saja mereka.”

Mengapa Venezuela sempat dicampakkan oleh RRT?

Mengapa waktu itu para petinggi Beijing melepaskan investasi pada Venezuela? Dalam berita Epoch Times tahun lalu berjudul “Di Balik Dana Milyaran PKT yang Raib di Venezuela” telah terungkap belangnya.

Artikel menyebutkan hubungan diplomatik dan perdagangan Beijing dengan Venezuela di masa pemerintahan mantan Presiden Venezuela Chavez yang anti-Amerika dan mengidolakan Mao Zedong itu telah memasuki tahap perkembangan yang sangat pesat.

Dalam belasan tahun, Beijing telah menjadi rekan kerjasama kedua di Venezuela setelah AS, dan Venezuela telah menjadi sumber minyak bumi ketujuh terbesar bagi RRT.

Menurut data China Academy of Social Science, pada semester kedua 2014 hutang Venezuela terhadap luar negeri mencapai 999,9 triliun rupiah dan hingga 2017 masih berhutang 571 triliun rupiah. Sebesar 2/3 di antaranya adalah hutang PDVSA (Perusahaan Minyak Bumi Nasional Venezuela) terhadap luar negeri. (Deutsche Welle)

Pada 2013, impor minyak bumi RRT dari Venezuela mencapai 5,5% dari keseluruhan impor minyak bumi Beijing, atau setara dengan 15% ekspor minyak bumi Venezuela.

Setelah krisis moneter tahun 2008 silam, keikutsertaan Venezuela pada aktivitas di bursa moneter global dan pembiayaan pengembangan telah dikurangi secara drastis, Chavez memanfaatkan pinjaman negara RRT untuk terus menerapkan kebijakan ekonominya yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, yakni kebijakan “minyak bumi ditukar pinjaman”.

Selain itu, Venezuela juga meminta pihak Beijing untuk mendanai proyek pembangunan infrastuktur yang tidak riel dibutuhkan, dan dana tersebut dijamin oleh pinjaman CDB.

Menurut statistik “Financial Times”, selama 15 tahun antara tahun 2002 hingga 2016, RRT telah memberikan pinjaman kepada Venezuela sebesar USD 125 milyar (1.786 triliun rupiah).

RRT telah menjadi sumber kehidupan perekonomian luar negeri Venezuela, tidak hanya memberikan pinjaman dengan jaminan minyak bumi, tapi juga berbagai transaksi dengan kontrak lain dan investasi.

Tak hanya itu, berkat propaganda PKT, banyak perusahaan modal RRT (BUMN maupun swasta) berbondong-bondong berinvestasi di Venezuela.

Share

Video Popular