Memeras Minta Imbalan Tak Tercapai, Ponsel Dibanting di depan Pemilikinya

Pagi hari tanggal 19 Juni lalu, Xiao Xu dari kota Ningbo Provinsi Zhejiang kehilangan sebuah ponsel Apple 7, yang kebetulan ditemukan oleh seorang wanita setengah baya. Wanita itu meminta imbalan 2.000 Yuan baru bersedia mengembalikan ponsel kepadanya, Xiao Xu mencoba menawar dan hanya bersedia memberi 500 Yuan, namun ditolak oleh wanita itu.

Demi menstabilkan emosi pihak penemu dan memperluas ruang lingkup negosiasi, mereka berdua setuju untuk bertemu lagi. Xiao Xu dan temannya Xiao Fang membeli sekeranjang kecil Stroberi, bersama 500 Yuan uang jasa, dengan harapan dapat meningkatkan niat pengembalian ponselnya, namun wanita itu tetap menolak, kompromi tidak membuahkan hasil, maka Xiao Xu melapor ke polisi, begitu wanita itu tahu dilaporkan polisi, langsung ponsel itu dibantingnya kelantai sampai mengalami keretakan. Setelah peristiwa ini tersingkap, sejumlah besar warganet mengecam tindakan wanita setengah baya tersebut.

Ponsel dibanting hingga rusak (Istimewa)

Dalam video terlihat wanita itu masih dengan ketus balik menanya pemilik ponsel: “ Saya menemukan diatas lantai, bukan mencuri, betulkan?” Akan tetapi, menurut sejumlah kalangan hukum, jika situasi dalam rekaman video itu terbukti benar, maka wanita itu tidak hanya melanggar hukum, bahkan mungkin dapat dituduh melakukan kejahatan, tanggung jawab hukum yang harus dipikul oleh wanita paruh baya itu kemungkinan jauh melebihi yang dibayangkannya.

Analisa: Masyarakat RRT Berada Pada Titik Nadir Meletusnya Krisis Besar

Dewasa ini kerap terjadi berbagai jenis fenomena kekacauan sosial di daratan Tiongkok yang merefleksikan masyarakat Tiongkok di bawah kekuasaan otoriter partai tunggal PKT telah kehilangan hati kepercayaan dan kerusakan parah kondisi moralitas.

Buku Tujuan Terakhir Komunisme menganalisa, setelah PKT mendirikan kekuasaan, telah melakukan indoktrinasi sejarah yang telah diselewengkan kepada beberapa generasi rakyat Tiongkok, melakukan cuci otak dengan menggunakan atheisme dan filosofi pengganyangan, yang telah mengakibatkan sejumlah besar rakyat Tiongkok sama sakali tidak paham atas kebudayaan tradisional, nilai tradisional didalam hati telah disubversi, sama sekali tanpa moralitas.

PKT dengan “Kebencian” mendirikan negara, dengan “Kejahatan” menguasai negara. Rakyat Tiongkok sejak kecil diindoktrinasi dengan paham atheis dan filosofi pengganyangan dan yang kuat mencaplok yang lemah, dengan menyaksikan kekuasaan PKT yang beringas dan semaunya sendiri, setelah dewasa dipastikan memuja kekerasan, pikiran dan tindakan dipenuhi dengan kekerasan dan agresifitas.

Situs web di daratan Tiongkok seringkali menyuguhkan berita yang mengejutkan orang : tumpas kelor,  membunuh ayah/ibu, membunuh istri, meracuni, meledakkan, memenggal orang, guru taman kanak-kanak menganiaya anak didiknya, bandit membunuh anak kecil TK, memperkosa anak dibawah umur, membongkar paksa rumah, satpol PP memukuli pedagang kecil dan lain sebagainya.

Komentator politik Xia Xiaoqiang menyatakan, di dalam masyarakat daratan Tiongkok secara terus-menerus mucul peristiwa buruk dan fenomena kacau yang mengejutkan, hal ini memprediksikan masyarakat RRT telah berada pada titik nadir peletusan krisis besar, ini terutama ditimbulkan oleh dua penyebab:

Pertama, di tingkat lapisan politik dan hukum, di bawah penguasa otokrasi PKT sama dengan tidak memiliki hukum, kasus mal praktik hukum terjadi dimana-mana, di hadapan hukum, warga tidak bisa memperoleh keadilan dan kebenaran, hukum telah menjadi payung pelindung bagi orang berduit dan penguasa. Dengan demikikan telah membuat masyarakat menggunakan kekuatan sendiri untuk menyelesaikan masalah dan menimbulkan kondisi kacau dalam masyarakat.   

Kedua, dalam penguasaan beberapa puluh tahun oleh PKT, kebudayaan dan moralitas tradisional Tionghoa nyaris dihancurkan dengan tuntas, membuat banyak masyarakat Tiongkok telah kehilangan akhlak, hati nurani yang normal dan batas garis terendah.

Lebih buruk lagi, demi menghancurkan moral manusia, PKT terus-menerus menciptakan peristiwa menghukum yang baik dan menjunjung yang jahat.

Dengan dihilangankannya keadilan hukum, mereka menggunakan perubahan tingkat lapisan sistem untuk mengatasi kekurangannya. Akan tetapi, sebuah masyarakat yang sudah tidak memiliki lagi batas garis terendah moral umat manusia, ini sangat menakutkan, dan jika ingin dipulihkan kembali menjadi normal, tentu akan lebih sulit lagi. (LIN/TYS/WHS/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular