Ketika Presiden AS Donald Trump membuat komentar-komentar pada 9 Juli mengisyaratkan bahwa Tiongkok berada di balik upaya-upaya untuk menggagalkan kemajuan denuklirisasi Korea Utara. Laporan-laporan muncul bahwa Korea Utara telah menyelesaikan pembangunan di dalam terowongan bawah tanah yang menghubungkan pabrik-pabrik pembuat meterial-material militer Korea Utara di dekat perbatasan dengan Tiongkok, memungkinkan rezim tersebut diam-diam memindahkan rudal balistik antarbenua (ICBM).

Sumber orang dalam di Korea Utara mengatakan kepada Daily NK, sebuah situs berita Korea Selatan, pada 6 Juli bahwa proyek tersebbut dilaksanakan oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada tahun 2014 dan selesai April tahun ini. Terowongan tersebut dibuat untuk menghindari deteksi ketika ICBM dipindahkan atau disiapkan untuk diluncurkan.

Terowongan ini terletak di Provinsi Chagang, yang berbatasan dengan Provinsi Jilin di utara Tiongkok. Banyak pabrik telah dibangun di daerah itu, karena daerah pegunungan dapat bertindak sebagai benteng, menurut Daily NK. Diantaranya adalah fasilitas untuk pembuatan senjata-senjata biologi dan traktor-traktor.

“Begitu Kim memberi perintah, dalam waktu tiga hingga tujuh menit, ICBM dapat diluncurkan,” kata orang dalam kepada Daily NK.

Mengutip seorang anggota senior Korea Selatan, The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada 6 Juli bahwa Korea Utara juga mengembangkan kapal selam baru yang mampu meluncurkan rudal-rudal balistik bersenjata nuklir.

Berdasarkan intelijen militer Korea Selatan, Pyongyang sedang mengerjakan kapal selam di pantai timurnya, kata Kim Hack-yong, seorang legislator di komite pertahanan.

Seorang ajudan Kim mengatakan kepada WSJ bahwa pencitraan satelit yang ditinjau oleh pejabat-pejabat intelijen Korea Selatan mengungkapkan para buruh dan material-material telah dipindahkan di pelabuhan Sinpo, yang menghadap Laut Jepang. Kapal selam tersebut tampaknya sedang dibangun di dalam fasilitas ruang tertutup, tambah ajudan itu.

Perkembangan terbaru ini mengungkapkan bahwa meskipun janji Korea Utara untuk denuklirisasi, tampaknya melakukan sebaliknya, sambil menyembunyikan niatnya yang sebenarnya.

Ketegangan-ketegangan

Pada 7 Juli, Korea Utara menuduh AS melakukan tuntutan-tuntutan “seperti gangster” dalam perundingan-perundingan denuklirisasi, beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo meninggalkan Pyongyang.

Pernyataan-pernyataan Korea Utara tampak bertentangan dengan komentar yang dibuat Pompeo setelah kunjungannya dan setengah dari pembicaraan dengan para pejabat di Korea Utara. Dia mengatakan kepada wartawan pada saat keberangkatan bahwa kemajuan dibuat pada “hampir semua masalah utama.”

“Pihak AS muncul hanya dengan permintaan-permintaan sepihak dan seperti gangster untuk denuklirisasi,” kata juru bicara kementerian luar negeri Korea Utara dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita KCNA yang dikelola negara Korea Utara.

Juru bicara tersebut mengatakan delegasi Pompeo bersikeras mengenai denuklirisasi sepihak yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diperbaiki (permanen), yang dikenal sebagai CVID. Dia berpendapat sebagai gantinya kedua belah pihak mengambil serangkaian langkah-langkah simultan sebagai “jalan pintas” ke Semenanjung Korea yang bebas nuklir.

Mengikuti perkembangan ini, pada 9 Juli pagi, Trump membuat komentar publik pertamanya setelah kunjungan Korea Utara ke Pompeo. “Saya memiliki keyakinan bahwa Kim Jong Un akan menghormati kontrak yang kami tandatangani &, bahkan lebih penting lagi, jabat tangan kami untuk menyelesaikan perjanjian. Kami menyetujui denuklirisasi Korea Utara tersebut,” tulis Trump di Twitter. “Tiongkok, sebaliknya, mungkin berusaha menggunakan tekanan negatif atas kesepakatan yang sedang berlangsung karena sikap kita tentang Perdagangan Tiongkok, Semoga Tidak!”

Tiongkok dan Amerika Serikat berada di tengah sengketa perdagangan yang pahit setelah mereka mengenakan tarif saling balas senilai $34 miliar untuk impor satu sama lain yang mulai berlaku pada 6 Juli.

Pada 8 Juli, Senator AS Lindsey Graham (R-S.C.), Anggota Komite Senat untuk Angkatan Bersenjata, juga mengatakan kepada program televisi “Fox News Sunday” bahwa Tiongkok berada di belakang sikap agresif Korea Utara.

“Saya melihat campur tangan Tiongkok di dalam semua ini. Kita sedang bertengkar dengan Tiongkok,” kata Graham, mengacu pada ketegangan perdagangan.

Pompeo sejak itu menepis tuduhan Korea Utara, mengatakan bahwa dia berkomitmen untuk terus mengejar pembicaraan denuklirisasi “sulit” dengan rezim tersebut. Pompeo berada di Tokyo pada 8 Juli untuk bertemu dengan rekan-rekannya dari Jepang dan Korea Selatan.

Pada pertemuan trilateral, ketiga negara berjanji untuk meningkatkan upaya-upaya koordinasi dalam menangani Korea Utara, menurut laporan Japan Times. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular