Ottawa – Diplomat Kanada yang bertugas di Havana, Kuba mengklaim mereka menderita cedera ketika serangan senjata yang diduga gelombang ultra-sonik (Sonik) pada April 2017. Namun, mereka diminta tetap bertugas oleh pemerintah Kanada.

Insiden itu tampaknya menjadi bagian dari serangkaian serangan yang melukai para diplomat AS di Havana, Kuba, dan di Guangzhou, Tiongkok. Peringatan kesehatan dari Kedutaan Besar AS di Tiongkok memperingatkan petugas kedutaan dari insiden tersebut. Mereka mengatakan bahwa jika diplomat atau keluarga mengalami berbagai gejala aneh, dihimbau untuk mencari evaluasi medis atau pemeriksaan.

Peringatan itu mengatakan sejumlah gejala termasuk, “pusing, sakit kepala, tinnitus, kelelahan, masalah kognitif, masalah penglihatan, keluhan telinga dan gangguan pendengaran, dan susah tidur.”

Personil kedutaan AS telah menerima perawatan medis dan pengobatan untuk serangan itu, termasuk untuk cedera otak traumatis. Namun, para diplomat Kanada mengklaim mereka tidak menerima perlakuan semacam itu.

Menurut sebuah laporan dari media Kanada, The Star, para diplomat Kanada dan keluarga mereka tetap berada di Kuba. Ketika orang lain tiba untuk menduduki posisi jabatan baru, beberapa dari mereka juga menderita cedera otak yang sama.

“Ini jabatan diplomat yang khas-berjuang dengan gejala yang melemahkan. Mereka menilai bahwa Ottawa gagal dalam ‘tugas perawatan’ untuk melindungi mereka dan kemudian memastikan perawatan medis tepat waktu untuk mereka,” The Star mengabarkan.

Seorang diplomat Kanada yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan kepada koran tersebut, “Stresnya sangat buruk. Kami merasa kami telah ditinggalkan. Saya berharap pemerintah saya peduli tentang kesejahteraan saya.”

Yang lain berkata, “Tidak terpikir oleh kami bahwa kami akan terpengaruh.”

Ada pula yang menggambarkan perasaan serangan itu sama dengan sakit kepala dengan gelombang rasa sakit yang datang dan pergi sepanjang hari.

“Mereka mencoba mengecilkan itu untuk menghindari kepanikan dan mempertahankan operasi normal kedutaan,” ujarnya.

Pada 24 Agustus 2017, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa setidaknya 16 pegawai pemerintah AS terpengaruh oleh dugaan serangan senjata sonik di Kuba. Investigasi terkait insiden tersebut hingga kini masih berlangsung. (Joshua Philipp/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds