BANGKOK – Petugas penyelamat menemukan tiga mayat lagi dari Laut Andaman pada 10 Juli ketika pihak berwenang dan sanak keluarga mulai mengidentifikasi lebih dari 40 orang tewas akibat kecelakaan kapal dekat Phuket, Thailand, tujuan wisata yang populer, pekan lalu.

Pembaruan tersebut muncul ketika seorang pejabat pemerintah Thailand mengecam para operator tur Tiongkok karena tidak bertanggung jawab membawa turis ke laut selama kondisi cuaca berbahaya.

Kapal wisata Phoenix berlayar di laut lepas pada 5 Juli dengan 101 orang di dalamnya, termasuk 89 turis, semuanya kecuali dua dari Tiongkok, selama perjalanan ke pulau kecil untuk menyelam. Dua belas kru Thailand juga ikut serta.

“Tiga mayat lagi ditemukan, yang ditemukan di dekat pulau Phi Phi,” Somnuek Prempramote, komandan Naval Area 3, mengatakan kepada wartawan di Phuket, di lepas pantai barat Thailand.

Empat puluh empat orang telah dikonfirmasi tewas, kata para pejabat pada 10 Juli, menjadikannya bencana terburuk terkait pariwisata Thailand dalam beberapa tahun dan menggarisbawahi masalah keamanan tentang industri tersebut.

Ada 54 orang yang selamat, dan pencarian tiga orang hilang akan terus berlanjut jika cuaca memungkinkan, kata Somnuek.

Wakil Perdana Menteri Prawit Wongsuwan menyalahkan operator tur Tiongkok karena tidak menghormati hukum keselamatan Thailand.

“Beberapa orang Tiongkok menggunakan orang-orang Thailand yang ditunjuk untuk membawa turis Tiongkok masuk … Mereka tidak memperhatikan peringatan … itulah sebabnya mengapa insiden ini terjadi. Ini perlu diperbaiki,” kata Prawit. Dia tidak merinci komentar-komentarnya.

Pengguna internet Tiongkok segera membuka internet untuk mengkritik pernyataan Prawit, yang mendorongnya untuk meminta maaf saat berbicara kepada wartawan pada 10 Juli.

“Jika saya mengatakan sesuatu yang gagal menyenangkan orang, saya ingin meminta maaf,” katanya, menurut laporan Bangkok Post.

Dua kapal lain terbalik di daerah yang sama pada 5 Juli tetapi penumpang mereka dibawa dengan selamat ke pantai.

Kapten Phoenix telah dituduh untuk kelalaiannya yang menyebabkan kematian, kata polisi. Dia membantah tuduhan terseut.

Lebih dari 50 keluarga Tiongkok telah tiba di Phuket untuk identifikasi jenazah dari keluarga dan mengurus para korban, media Thailand melaporkan pada 9 Juli.

Kementerian pariwisata Thailand mengatakan akan memberikan 1 juta baht ($30.202) sebagai kompensasi untuk setiap keluarga korban.

Pariwisata menyumbang sekitar 12 persen dari produk domestik bruto di Thailand, ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara, menjadikannya salah satu pendorong pertumbuhan yang paling penting. Bencana-bencana semacam itu tak dapat dihindari telah menimbulkan pertanyaan tentang kerusakan pada industri tersebut.

Wisatawan Tiongkok menyumbang hampir sepertiga dari rekor tahun lalu 35 juta kedatangan orang-orang asing.

Tetapi meskipun terjadi kecelakaan-kecelakaan, gejolak politik dan bahkan serangan bom selama dekade terakhir, sektor pariwisata tampaknya kebal terhadap berita-berita utama yang buruk, sehingga mendapat julukan “Teflon Thailand.”

Pada Agustus 2015, sebanyak 20 orang tewas, banyak dari mereka adalah turis Tiongkok, dalam pemboman di sebuah kuil Bangkok, serangan terburuk dari jenisnya di bumi Thailand.

Kedatangan turis Tiongkok turun sedikit setelah serangan tersebut tetapi segera pulih kembali. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds