Brussel – Anggota parlemen Uni Eropa memilih untuk menolak perubahan undang-undang hak cipta yang kontroversial. UU yang berpotensi membuat raksasa teknologi menghabiskan biaya miliaran dolar dan berpotensi mengakhiri riwayat internet.

Perubahan undang-undang didukung oleh nama-nama besar di industri musik seperti Paul McCartney dan Annie Lennox yang merasa ditipu oleh situs web. Internet menggunakan pekerjaan mereka secara online tanpa membayar royalti.

Para penentang perubahan yang diusulkan, bagaimanapun, mengatakan aturan baru mengancam kebebasan berbicara dan menghambat kreativitas.

Penentang UU tersebut, termasuk penemu dari website, Tim Berners-Lee dan pendiri Wikipedia, Jimmy Wales. Mereka mengatakan reformasi akan mengubah internet menjadi, “Alat untuk pengawasan otomatis dan kontrol penggunanya.”

Reformasi terhadap UU Hak Cipta itu memiliki dua elemen yang dianggap sangat kontroversial oleh para kritikus, Pasal 11 dan Pasal 13.

Pasal 11, juga disebut “pajak tautan”, akan memaksa raksasa internet seperti YouTube, Google, dan Facebook membayar, untuk menggunakan cuplikan berita dari penerbit di platform mereka.

Mungkin yang paling dipertentangkan adalah Pasal 13, yang mengharuskan perusahaan untuk memantau semua konten yang diunggah secara online ke platform mereka untuk memeriksa pelanggaran hak cipta. Kritikus mengatakan ini bisa mengarah pada penghapusan meme internet, yang sering menggunakan gambar yang dilindungi hak ciptanya.

Sebanyak 318 anggota parlemen Uni Eropa menentang undang-undang, yang dikenal sebagai The Copyright Directive itu. Sementara 278 suara mendukung, dan 31 abstain.

Anggota Parlemen UE, Julia Reda menyambut baik berita tentang pemungutan suara itu. Dia menyebutnya sebagai keberhasilan besar.

Dalam sebuah pernyataan, Mozilla mengatakan penolakan terhadap UU itu adalah berita besar. “Sementara aturan yang diusulkan seharusnya melindungi dan mendukung (mereka yang berada di sektor kreatif), mereka akan menjadi orang yang paling menderita di bawah UU yang baru,” ujar perusahaan tersebut. (Jane Gray/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular