London – Pemerintah Inggris berencana untuk meningkatkan jumlah pasukannya di Afghanistan, hingga hampir dua kali lipat dari jumlah saat ini. Penambahan dilakukan setelah adanya permintaan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengumumkan bahwa pemerintahannya akan mengirim tambahan 440 tentara. Jumlah itu akan membuat total tentara Inggris menjadi sekitar 1.100.

Tentara itu dikirim untuk membantu pasukan Afghanistan memerangi Taliban dan gerilyawan Negara Islam (ISIS). Pasukan tambahan akan mengambil bagian dalam misi pelatihan yang dipimpin NATO, yang disebut Dukungan Tegas.

Mereka bertugas melatih dan membantu pasukan Afghanistan. Mereka akan ditempatkan di Kabul dan tidak akan berada dalam peran tempur. Pasukan Inggris sudah mengakhiri operasi tempur di Afghanistan pada tahun 2014.

Trump mengumumkan Amerika Serikat akan kembali mengirim ribuan pasukan ke Afghanistan tahun lalu. Dia meminta Inggris dan negara-negara NATO lainnya untuk mengirim lebih banyak bala bantuan ke negara itu.

“Dalam melakukan penambahan pasukan untuk operasi ‘Train Advise Assist’ di Afghanistan, kami telah menggarisbawahi sekali lagi bahwa ketika NATO meminta, Inggris adalah yang pertama menjawab,” kata May.

“NATO sama pentingnya hari ini, seperti sebelumnya, dan komitmen kami untuk tetap teguh. Aliansi dapat mengandalkan Inggris untuk memimpin dengan memberi contoh.”

Penambahan pasukan Inggris datang menjelang pemilihan parlemen di Afghanistan pada Oktober 2018. Pemilu yang dipandang sebagai ujian penting bagi demokrasi di negara yang berperang selama empat dekade.

Pasukan Inggris tambahan awalnya akan datang dari Garda Welsh, dengan sekitar setengahnya akan tiba pada bulan Agustus mendatang. Sisanya akan tiba pada bulan Februari tahun depan.

Ratusan warga sipil telah tewas dan terluka dalam serangan di Kabul tahun ini. Setidaknya 57 orang tewas ketika seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di luar bilik pendaftaran pemilih pada bulan April dan sekitar 100 orang tewas pada bulan Januari oleh sebuah bom ambulans.

Ribuan lagi pasukan AS telah dikirim ke Afghanistan untuk membantu melatih tentara. Komandan pasukan itu juga telah diberi wewenang yang lebih besar untuk melakukan serangan udara terhadap militan. Itu adalah pembalikan besar kebijakan sebelumnya, berupa penarikan bertahap pasukan Amerika dari Afghanistan.

Namun, hampir 17 tahun sejak Amerika Serikat berusaha menjatuhkan Taliban Afghanistan, yang telah memendam militan Al-Qaeda di balik serangan terhadap New York dan Washington, Barat tetap terjerat dalam upaya untuk menstabilkan negara tersebut. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular