SYDNEY — negara-negara Pasifik Papua Nugini dan Kepulauan Solomon telah menandatangani kontrak proyek kabel internet bawah laut bersama, yang didanai sebagian besar oleh Australia, yang mencegah rencana-rencana raksasa telkom Tiongkok Huawei memasang jaringan-jaringannya sendiri.

Pakta yang ditandatangani pada 11 Juli tersebut terjadi ketika Tiongkok mendorong pengaruhnya di wilayah yang dilihat Australia sebagai halaman belakangnya, di tengah hubungan yang memburuk setelah Perdana Menteri Malcolm Turnbull menuduh Beijing ikut campur dalam urusan-urusan negara tersebut tahun lalu.

Australia akan membayar dua pertiga dari biaya proyek, sebesar AU$136,6 juta (US$100 juta), berdasarkan kesepakatan, telah ditandatangani selama kunjungan ke Brisbane oleh Perdana Menteri Solomon Rick Houenipwela dan Perdana Menteri Papua Nugini Peter O’Neill.

“Kami menghabiskan miliaran dolar per tahun untuk bantuan luar negeri dan ini adalah cara yang sangat praktis untuk berinvestasi dalam pertumbuhan ekonomi masa depan dengan para tetangga kami di Pasifik,” kata Turnbull kepada wartawan tentang kesepakatan tersebut.

Proyek, di mana perusahaan telekomunikasi Australia, Vocus Group akan membangun kabel, akan menghubungkan kedua negara tersebut ke daratan Australia, selain menghubungkan ibu kota Solomon Honiara dengan pulau-pulau terluar kepulauan itu.

Selama bertahun-tahun, badan-badan intelijen Barat mengkhawatirkan hubungan Huawei dengan rezim Tiongkok dan kemungkinan bahwa peralatannya dapat digunakan untuk spionase.

Huawei sebagian besar telah ditutup dari pasar raksasa AS atas masalah keamanan nasional. Bisnisnya melayani operator-operator telekomunikasi kecil di pedesaan sekarang beresiko setelah anggota parlemen AS mengangkat masalah tersebut selama sidang Kongres pada bulan Juni.

Australia, memiliki cara yang tenang dan percaya diri untuk melarang Huawei dari jaringan seluler 5G domestiknya atas saran layanan intelijennya, juga telah membatalkan tawaran Huawei untuk pemasangan kabel ke Kepulauan Solomon atas risiko keamanan nasional.

Layanan 5G negara tersebut akan membutuhkan jaringan menara padat yang kemudian akan disewakan ke para penyedia seluler lokal seperti perusahaan telekomunikasi Telstra.

Badan-badan intelijen Australia khawatir jika operator seluler bergantung pada peralatan Huawei, perusahaan Tiongkok dapat mengembangkan cara mengumpulkan data atau bahkan merusak stabilitas jaringan. Undang-undang Tiongkok mengharuskan organisasi-organisasi dan para warga negara untuk mendukung, membantu, dan bekerja sama dengan intelijen Beijing jika diminta. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds