Sepasang suami istri di Tiongkok melihat seluruh stok ikan di peternakan ikan mereka hilang setelah volume tinggi dari limbah minyak yang bocor masuk ke dalam waduk setempat, mencemari air.

Pada 2015, Li Xiaoming (55 tahun), dan istrinya Liu Mingfeng (53 tahun), kembali ke kampung halaman mereka di Kotapraja Dingjunshan di Provinsi Shaanxi, Tiongkok barat laut, setelah 19 tahun bekerja di luar kota, menurut laporan 13 Juli oleh Huashang Daily, harian yang dikelola pemerintah setempat.

Pada Desember 2015, mereka membayar sewa tiga tahun sebesar 120.000 yuan (sekitar $17,955) untuk menggunakan sekitar 6,6 acre (2,67 hektar) waduk setempat. Mereka menghabiskan uang tambahan 40.000 yuan (sekitar $5.986) untuk membeli stok ikan yang ada di waduk tersebut. Pasangan ini menghabiskan tabungan mereka untuk berinvestasi dalam bisnis peternakan ikan ini.

Pada tanggal 17 Juli, setelah Li dan istrinya kembali ke tanah pertanian mereka, ia menemukan setumpuk ikan mati. Dia mengatakan dia mengira ikan itu mati karena kekurangan oksigen di dalam air, dan karena itu dia menyalakan pompa oksigen.

Beberapa hari kemudian, semua ikan telah mati, kerugiannya sekitar 40.000 kilogram (sekitar 40 ton) ikan dengan nilai pasar lebih dari 400.000 yuan ($59.864), menurut pasangan tersebut. Li kemudian menelepon polisi setempat.

Li menyadari ada lapisan tipis minyak di permukaan air waduk, dan ini telah menyebabkan kematian stok ikannya. Dia kemudian sampai pada kesimpulan bahwa hujan lebat beberapa hari sebelumnya telah meningkatkan tingkat air waduk, yang menyebabkan lumpur yang mengandung minyak di dekatnya ketarik masuk ke dalam air, memungkinkan minyak untuk masuk ke dalam air tersebut.

“Sangat sedikit orang yang pernah datang ke sini. Pada tahun 2016, ada pekerjaan konstruksi mengubah jalur utama di jalan raya nasional sekitar 108, dan beberapa limbah minyak ditinggalkan,” kata Liu.

Li menambahkan bahwa tidak ada perusahaan yang beroperasi dekat waduk, jadi tidak mungkin limbah itu berasal dari bisnis swasta.

Biro air lokal di Kabupaten Mian di Shaanxi mengambil sampel air dari waduk yang tercemar minyak tersebut ke perusahaan swasta untuk diuji. Laporan yang dihasilkan mengungkapkan bahwa air memiliki polutan minyak 28,6 miligram per liter, yang berarti 572 kali lebih tinggi dari standar nasional yang diizinkan kurang dari 0,05 miligram per liter.

Li mengatakan dia menghubungi perusahaan yang bertanggung jawab atas proyek konstruksi pada tahun 2016, tetapi perusahaan hanya setuju untuk membayarnya beberapa ratus ribu yuan (sekitar $3.000), tidak cukup untuk menutupi kerugiannya.

Perusahaan-perusahaan di Tiongkok dapat membuat biaya produksi mereka rendah karena mengabaikan lingkungan. Mereka dapat membuat produk tanpa memikirkan tentang pembuangan limbah yang tepat. Sementara itu, otoritas Tiongkok sering menutup mata terhadap pencemaran lingkungan yang terjadi.

Pada Maret 2015, para petani di beberapa desa di Xinxiang di Provinsi Henan Tiongkok utara berbicara kepada media tentang pabrik-pabrik wig rambut lokal yang membuang air limbah yang tidak diolah. Akibatnya, sumber air dan tanah setempat mereka tercemar dan mereka tidak berani makan beras yang mereka tanam, menurut Dahe Daily yang dikelola negara. Ternyata pabrik-pabrik ini, beroperasi sejak tahun 2009, tidak pernah memperoleh persetujuan dari regulator lingkungan di pemerintah lokal. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular