California — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Antonio Guterres mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang terkait dengan pemerintah Nikaragua menggunakan kekuatan mematikan yang ‘tidak dapat diterima’ terhadap warga sipil. Guterres mendesak diakhirinya kekerasan yang telah menewaskan sedikitnya 275 orang dalam beberapa bulan gelombang protes.

Di ibukota Nikaragua, Managua, ratusan orang turun ke jalan menuntut keadilan bagi korban penindasan dan kekerasan. Protes terhadap Presiden Daniel Ortega ini, semakin bergelora setelah 12 orang tewas dalam demo selama akhir pekan lalu.

“Jelas bahwa ada jumlah kematian yang mengejutkan dan penggunaan kekuatan yang mematikan oleh entitas yang terikat pada negara yang tidak dapat diterima,” kata Guterres pada konferensi pers di negara tetangga Nikaragua, Costa Rica.

“Sangat penting untuk segera menghentikan kekerasan dan membangun kembali dialog politik nasional. Hanya solusi politik yang dapat diterima,” tambah Guterres, ketika berbicara pada peringatan 40 tahun Pengadilan Hak Asasi Manusia Inter-Amerika.

Setidaknya 275 orang telah tewas sejak kerusuhan meletus pada April 2018, menurut kelompok hak asasi Nikaragua, CENIDH. Gelombang protes pecah setelah Presiden Ortega berusaha memangkas manfaat pensiun. Pemerintah kemudian membatalkan rencana tersebut, tetapi tanggapannya yang keras terhadap demonstrasi itu memicu protes yang lebih luas terhadap kekuasaan Ortega.

Serangan itu telah mengundang kecaman internasional terhadap mantan pemimpin gerilya Marxis tersebut. Dia kini menghadapi ujian terbesarnya sejak kembali berkuasa pada 2007.

Seorang demonstran melempar bom molotov buatan sendiri dalam upacara pemakaman Jose Esteban Sevilla Medina. Korban meninggal dalam bentrokan dengan pendukung pro-pemerintah di Monimbo, Nikaragua pada 16 Juli 2018. (Oswaldo Rivas/Reuters/The Epoch Times)

Ortega mengatakan dia terbuka untuk berdialog dan telah mengundang Komisi Inter-Amerika tentang Hak Asasi Manusia. Komisi itu dipersilakan untuk memverifikasi pernyataannya bahwa hak asasi manusia telah dihormati di negara tersebut.

Kekerasan melonjak lagi selama akhir pekan ketika kelompok-kelompok bersenjata dan polisi yang setia kepada Ortega menyerbu masuk ke universitas-universitas yang diduduki oleh para pemrotes.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (16/7/2018), Departemen Luar Negeri AS menyerukan kepada pemerintah Ortega untuk mengindahkan seruan reformasi dari rakyat Nikaragua. Ortega diminta untuk segera menggelar pemilihan umum.

Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan visa pada individu yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia atau merongrong demokrasi di Nikaragua, serta anggota keluarga mereka.

Para kerabat korban kekerasan berjalan di jalan-jalan utama di Managua pada hari Senin dengan peti mati mereka, menuntut keadilan bagi korban tewas.

“Populasi belum menyerah karena masih di jalanan menuntut kebebasan,” kata Carlos Tünnermann, anggota Aliansi Masyarakat untuk Keadilan dan Demokrasi, salah satu kelompok sipil utama yang memimpin oposisi terhadap Ortega.

Pihak oposisi telah meminta Ortega untuk mundur dan mengadakan pemilihan presiden. (Reutres/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular