Tiongkok Bentuk ‘Aliansi Think Tank’ untuk Membantu Pertempuran Dalam Perang Dagang dengan AS

Dihadapkan dalam perang dagang dengan Amerika Serikat, Tiongkok kini menyiapkan jaringan think tank untuk lebih memahami musuh-musuhnya.

Pada tanggal 14 Juli, Kementerian Keuangan Tiongkok membentuk “Aliansi Think Tank Penelitian AS” dengan lembaga penelitian di seluruh negeri, berjumlah hampir 20 organisasi, dalam upaya untuk mencari tahu “bagaimana menanggapi situasi dan tantangan baru yang dihadapi hubungan AS-Tiongkok sekarang,” menurut CCTV televisi negara.

Para peserta tersebut termasuk cabang penelitian lembaga-lembaga negara, seperti Departemen Perdagangan dan Komisi Reformasi Pembangunan Nasional, serta lembaga-lembaga penelitian yang berafiliasi dengan universitas yang fokus pada keuangan internasional, ekonomi, dan hubungan internasional.

Aliansi ini berusaha melakukan penelitian tentang tren politik dan ekonomi Amerika, kebijakan ekonomi AS, dan hubungan Sino – AS [Tiongkok-Amerika], khususnya untuk mengumpulkan informasi tentang cara memenangkan perang dagang.

Dalam wawancara dengan CCTV, Fu Ying, seorang ahli di sebuah lembaga think tank di bawah Akademi Ilmu Sosial yang dikelola negara, mengatakan: “Sejak Amerika Serikat telah meletakkan kesalahan dan tanggung jawab pada Tiongkok dan negara-negara lain … tugas yang paling ditekankan pada aliansi ini adalah meneliti bagaimana menanggapi situasi yang suram ini.”

Sejak tarif balas-membalas mulai berlaku pada awal Juli, Tiongkok telah menghadapi pertempuran yang sulit. Pasar keuangan telah jatuh di tengah kekhawatiran para investor, sementara beberapa perusahaan asing dengan pabrik manufaktur di Tiongkok memiliki rencana untuk menarik diri dari pasar Tiongkok, khawatir bahwa batas bawah keuntungan mereka dapat terpengaruhi oleh tarif-tarif AS.

Sejak presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif atas barang Tiongkok senilai $200 miliar, Tiongkok tidak akan dapat membalas dengan jenis tarif yang sama. Negara tersebut hanya mengimpor sekitar $115,6 miliar barang-barang AS setiap tahun, menurut data dari Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR).

Mencari tahu langkah-langkah selanjutnya dari Tiongkok akan sangat penting bagi ekonomi Tiongkok, dan masa depan rezim tersebut.

Kampanye Pengaruh

Namun aliansi tersebut tampaknya juga tertarik pada bidang lain, seperti bagaimana mempengaruhi pemerintah AS dan media internasional.

Berbicara kepada National Business Daily, sebuah surat kabar Tiongkok, Fu mengatakan aliansi ingin “memberikan informasi tentang Tiongkok ke media internasional” sehingga “masalah Tiongkok dapat didiskusikan oleh masyarakat Tionghoa.”

Sementara itu, Liu Weidong, pakar lain dari Akademi Ilmu Sosial, yang mempelajari urusan AS, mengatakan pada South China Morning Post bahwa Tiongkok harus fokus pada kebijakan-kebijakan domestik AS, seperti pemerintahan-pemerintahan negara bagian dan isu-isu yang akan mendominasi pemilihan-pemilihan paruh waktu yang akan diadakan akhir tahun ini, yang akan membantu Tiongkok “mengubah pemikiran Washington,” menurut laporan 17 Juli.

Upaya-upaya yang demikian bertujuan untuk mempengaruhi politik luar negeri dan opini publik yang mendukung rezim Tiongkok yang telah lama menjadi tanggung jawab Departemen Pekerjaan Front Persatuan di Amerika Serikat. Tampaknya sekarang aliansi riset ini juga akan berperan.

Investasi-investasi Asing

Pertempuran Tiongkok lainnya adalah investasi-investasi asing. Tarif perdagangan hukuman dari Amerika Serikat dikenakan setelah USTR menemukan bukti bahwa Tiongkok mengarahkan perusahaan-perusahaan untuk melakukan investasi di perusahaan-perusahaan teknologi tinggi AS untuk mencuri teknologi yang penting bagi kepentingan nasional rezim tersebut.

Sebagai tanggapan, regulator-regulator pemerintah telah memblokir sejumlah transaksi akuisisi Tiongkok yang melibatkan perusahaan-perusahaan Amerika tahun ini.

Rejim Tiongkok telah beralih ke Eropa, di mana merger dan akuisisi Tiongkok mencapai $22 miliar dalam paruh pertama tahun 2018, dibandingkan dengan hanya $2,5 miliar di Amerika Utara, menurut laporan baru yang diterbitkan oleh perusahaan riset pasar Rhodium Group dan firma hukum Baker McKenzie .

Investasi asing langsung dari Tiongkok ke Amerika Serikat sebenarnya turun selama lima bulan pertama 2018, menurut data Rhodium.

Bahkan di bidang investasi-investasi modal ventura (VC), di mana sejumlah investor Tiongkok menuangkan uang ke Silicon Valley karena peraturan yang longgar tentang investor asing, Amerika Serikat menjadi semakin waspada.

Kongres telah mengusulkan undang-undang yang akan memberikan otoritas pada Komite Investasi Asing di Amerika Serikat, komite antar-lembaga yang meninjau dan menyetujui kesepakatan-kesepakatan, untuk meninjau investasi-investasi minoritas dari entitas asing, seperti dana-dana VC.

Investor-investor VC Tiongkok berkonsentrasi pada teknologi-teknologi baru yang sangat penting bagi ambisi teknologi rezim Tiongkok, seperti kecerdasan buatan dan mobil tanpa pengemudi (autonomous driving). (ran)

ErabaruNews