He Qinglian

Pada 6  Juli 2018 lalu, Perang Dagang RRT-AS resmi dimulai, media massa besar di berbagai negara sibuk mengkalkulasi jenis produk dari kedua negara yang ditambahkan atau dikurangi dalam daftar.

Terkait hal ini, penulis mengamati bagaimana perang dagang RRT-AS ini akan berakibat perubahan peran yang belum diprediksi di masa mendatang.

Tiongkok sepertinya akan menjadi pembela proses globalisasi dan juga pengawal ketertiban internasional yang eksis sekarang serta menyebut dirinya sebagai “pendiri komunitas takdir manusia”.

Sedangkan Amerika akan menjadi “penentang” yang ingin menggulingkan ketertiban internasional yang eksis sekarang.

Yang menggelitik di masyarakat adalah: ketertiban internasional ini telah eksis berkat AS mengeluarkan dana sejak berakhirnya PD-II, lalu mempertahankannya, dan menyerahkannya pada masyarakat internasional sebagai “milik umum”.

Mengapa AS Ingin Mengubah Ketertiban Internasional Saat Ini?

Penyebab perubahan peran ini dikarenakan Amerika berubah dari negara penerima keuntungan menjadi negara yang paling dirugikan akibat globalisasi ini, semua negara dan PBB menjadikan Amerika sebagai “daging biksu Tong Sam Cong” yang bisa dimakan.

Sejak Presiden Trump mengumumkan Perang Dagang RRT-AS akhir Maret lalu, selama tiga bulan lebih ini telah terjadi banyak peristiwa, yang dikritik oleh berbagai opini sebagai aksi memicu permusuhan di segala penjuru. Kebencian dari selatan yakni Meksiko yang terus berdatangan imigran gelapnya. Saling meraup bea masuk dari utara dengan Kanada dan dari barat dengan Uni Eropa; perang bea masuk terhebat sepanjang sejarah dengan RRT sebagai negara ekonomi kedua terbesar dunia di seberang Samudera Pasifik.

Di saat yang sama juga mundurnya AS dari berbagai organisasi PBB, juga mengumumkan tengah membuat rencana mundur dari WTO. Hal ini sangat berbeda dengan pemerintah PKT yang sangat mahir dalam bidang fron persatuan, bahkan pendukung Trump pun tak pelak berpendapat jurus Trump ini tidak beraturan.

Sebenarnya yang dilakukan Trump hanya ada satu tujuan: mengubah tatanan internasional sekarang yang masih didukung dengan dana dan tenaga milik AS.

Bagi Trump dan para pendukungnya, tatanan yang eksis sekarang ini telah membuat AS menjadi mesin ATM bagi masyarakat internasional dan menjadi pusat penampungan pengungsi terbesar dunia bagi imigran gelap.

Globalisasi terdiri dari tiga tingkatan: globalisasi ekonomi, termasuk aliran dana bebas dan perdagangan bebas yang ditopang oleh sistem WTO; arus populasi global, termasuk arus para talenta, termasuk juga imigran gelap beberapa tahun terakhir, arus bebas para pengungsi menuju AS dan Eropa; organisasi internasional menjadi peserta yang membentuk ketertiban global. PBB adalah pendorong utama globalisasi.

Presiden AS Donald Trump tiba sebelum ia mengumumkan Johnny Taylor, Jr. sebagai Ketua Dewan Penasehat Presiden di Ruang Roosevelt Gedung Putih, Washington pada 27 Februari 2018. (Foto : Samira Bouaou / The Epoch Times)

Globalisasi yang diprakarsai oleh mantan Presiden AS Bill Clinton sebagai pendorong utama, pernah dianggap sebagai tingkatan tertinggi simbol kemajuan masyarakat manusia.

Dari sudut komunikasi budaya, arus utama adalah pengaruh dan penetrasi besar oleh peradaban Barat terhadap negara berkembang; di bidang dagang dan investasi, adalah peralihan investasi dan teknologi negara makmur ke negara yang layak untuk diinvestasi, dan membanjirnya produk dari negara berkembang ke negara maju.

Hingga saat ini, yang menyediakan teknologi, investasi dan pasar penjualan utama adalah negara maju, sementara yang mendapatkan investasi, teknologi dan devisa asing terutama adalah negara berkembang, termasuk Tiongkok.

Tidak bisa disangkal, selama 20 tahun terakhir, negara berkembang mana pun yang bisa naik ke gerbong kereta globalisasi ini, maka ekonomi negara tersebut menjadi makmur; tapi siapa pun tidak pernah mempertanyakan, apakah negara makmur yang telah membuka investasi, mengalihkan teknologi, dan membuka pasar dalam negerinya, juga akan mengalami kemakmuran ekonomi? Salah.

Contoh telah dibuktikan oleh Amerika, yang di era dimana globalisasi memuncak, Amerika justru mengalami depresi ekonomi. Hanya dalam perdagangan AS-RRT saja bisa dikatakan, Amerika telah mengalami defisit perdagangan dengan RRT sebesar USD 300 milyar (4.277 triliun rupiah), hanya hal ini saja sudah cukup membuat AS kelimpungan.

Mei 2016 silam, mantan ekonom senior Bank Dunia yakni Branko Milanovic dan dosen ilmu politik dari Yale University John E. Roemer pada “Harvard Business Review” menulis artikel, di tengah tren globalisasi saat ini, peningkatan pesat dua negara berkembang RRT dan India telah menurunkan tingkat ketidak-setaraan di dunia.

Tapi di dalam negeri banyak negara maju sendiri, kesenjangan kaya miskin justru terus melebar, golongan menengah justru semakin miskin. (Baca artikel penulis tahun 2016 berjudul “Pondasi Penopang Globalisasi Tengah Goyah”)

Dulu migrasi pernah mendatangkan orang berbakat dan kekuatan ekonomi bagi AS, namun migrasi dalam 20 tahun terakhir sudah tidak seperti dulu lagi.

Menurut data dari Departemen Kesehatan dan Layanan Sosial AS, jumlah imigran gelap yang masuk ke AS telah berkurang dari 1,6 juta jiwa di tahun 2.000 menjadi hanya sekitar 304.000 jiwa tahun lalu. Tapi anak-anak tanpa pendamping meningkat dari 2.000 – 3.000 setiap bulan naik menjadi 10.000 setiap bulan, di masa pemerintahan Obama yang masuk lewat perbatasan mencapai 100.000 orang per tahun, yang semuanya dihidupi oleh para wajib pajak AS.

Pagar pembatas di mana imigran gelap memotong pagar, sepanjang perbatasan AS-Meksiko di San Diego pada 12 Juli 2017. (Joshua PHILIP/The Epoch Times)

Presiden ekstrim kiri Meksiko yang baru terpilih bahkan beranggapan: Amerika bertanggung jawab dan wajib memelihara imigran gelap dari Amerika Latin, dan secara terang-terangan menyalahkan nilai-nilai universal Amerika yang berbeda dengan negara Barat lainnya.

Karena berniat mengubah situasi globalisasi ini, Trump harus lebih dulu menemukan negara yang paling banyak mendapat manfaat dari globalisasi ini, dalam hal menyalurkan imigran gelap pada AS, tentunya yang paling besar adalah Meksiko; dalam hal keuntungan ekonomi, tentunya yang paling untung adalah RRT; dalam hal tanggung jawab perlindungan dari AS, yang mendapat manfaat terbesar adalah NATO.

Anggota NATO terdiri dari 29 negara, hanya 3 negara yang membayar biaya pertahanan sesuai ketentuan, sementara negara lainnya menghemat biaya pertahanan itu untuk meningkatkan kesejahteraannya, dan membiarkan AS yang menanggung 2/3 anggaran belanja militer NATO.

Terlebih lagi PBB yang memandang AS sebagai pundi uang yang tak pernah habis diraup, kondisi ini telah penulis jabarkan secara jelas dalam artikel “AS Mundur Dari Dewan HAM PBB Karena Tak Mau Jadi Pimpinan Pandir.”

Amerika telah menjadi mesin ATM utama bagi organisasi dunia, PBB selama ini bergantung pada AS menyediakan dana, mengikat AS dengan suara terbanyak, tidak mampu menyelesaikan satu pun masalah di Afrika maupun Timur Tengah, mengakibatkan kegagalan manajemen pada banyak negara, dan imigran pun banyak mengalir ke negara maju.

Karena memanfaatkan Amerika telah menjadi “kepentingan tersendiri” yang ingin dipertahankan oleh PBB dan banyak negara lain, maka Trump pun terpaksa menjadi “penentang” tatanan internasional yang ada sekarang.

Share

Video Popular