Aliaga, Turki – Sebuah pengadilan lokal di Turki memutuskan untuk tetap menahan seorang pendeta asal Amerika Serikat, Andrew Brunson, di penjara, pada 18 Juli 2018. Padahal, saksi dalam persidangan tersebut dinilai sangat tidak mendukung untuk melanjutkan proses hukum.

Pendeta itu didakwa terkait terorisme dan mata-mata asing. Kasus yang juga terkait dengan kudeta gagal itu, memperdalam keretakan antara Turki dan Amerika Serikat yang bersekutu di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Pendeta Kristen dari North Carolina itu telah tinggal di Turki selama lebih dari dua dekade. Dia dituduh membantu kelompok yang menurut Ankara terlibat dalam aksi kudeta 2016 yang gagal terhadap Presiden Tayyip Erdogan. Dia juga dituding mendukung militan Kurdi PKK yang dilarang oleh Turki.

Brunson sudah menyangkal tuduhan itu. Namun, dia kini menghadapi hukuman 35 tahun penjara jika terbukti bersalah.

“Sangat sulit untuk tetap di penjara dan dipisahkan dari istri dan anak-anak saya,” ujar Brunson, yang mengenakan setelan hitam dan kemeja putih di persidangan, dalam bahasa Turki.

“Tidak ada bukti nyata yang memberatkan saya. Murid-murid Yesus menderita atas nama-Nya, sekarang giliran saya. Saya adalah orang yang tidak bersalah atas semua tuduhan ini. Saya membantahnya. Saya tahu mengapa saya di sini. Saya di sini untuk menderita atas nama Yesus,” sambungnya kepada Hakim.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah menyerukan pembebasan sang pendeta. Senat AS juga sudah meloloskan RUU bulan lalu, yang mencakup tindakan yang melarang Turki membeli jet F-35 Joint Strike Fighter. Alasannya adalah, karena pengadilan tidak adil untuk Brunson dan pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia oleh Turki.

Utusan AS untuk Turki mengatakan, dia kecewa dengan keputusan pengadilan di provinsi Aegean di Izmir tempat Brunson tinggal.

“Pemerintah kami sangat prihatin dengan statusnya dan status warga negara Amerika lainnya, dan karyawan lokal Turki dari misi diplomatik AS yang juga ditahan di bawah keadaan darurat,” kata Utusan AS, Philip Kosnett kepada wartawan di luar ruang sidang.

“Kami sangat menghormati peran tradisional Turki sebagai tempat berlindung bagi orang-orang beragama dan tradisi hukum Turki. Kami yakin kasus ini tidak sejalan dengan tradisi tersebut,” Sambung Kosnett.

Norine Brunson, istri pendeta AS Andrew Brunson yang ditahan di Turki selama lebih dari setahun atas tuduhan terorisme. Dia meninggalkan gedung pengadilan setelah persidangan suaminya, di Aliaga, utara Izmir, pada 18 Juli 2018. (Ozan Kose/AFP/Getty Image/The Epoch Times)

Saksi-Saksi Baru
Brunson adalah pastor Gereja Kebangkitan Izmir, yang melayani jemaat Protestan kecil di kota terbesar ketiga di Turki, di selatan kota Aegean Aliaga di mana dia sekarang diadili.

Pengacaranya, Ismail Cem Halavurt, telah membangkitkan harapan bahwa dia akan dibebaskan pekan ini, karena saksi penuntutan selesai bersaksi. Tidak ada kesaksian yang memberatkan terdakwa.

Namun, Halavurt mengatakan bahwa jaksa menambahkan kesaksian dua saksi anonim baru untuk kasus ini. Sehingga pengadilan akan mengadakan sidang berikutnya pada 12 Oktober 2018, untuk mendengar kesaksian mereka dan melihat bukti baru.

Sehingga, harapan untuk peluang bebasnya sang pendeta kembali menyusut.

Lira Turki melemah terhadap dolar segera setelah keputusan hakim pekan ini. Sehingga mencerminkan kekhawatiran investor tentang ketegangan Turki dengan Amerika Serikat. Lira hampir setengah persen lebih melemah pada hari itu.

Persidangan Brunson adalah salah satu dari beberapa kasus hukum yang menimbulkan ketegangan antara Washington dan Ankara. Hakim AS memvonis seorang eksekutif bank Turki pada Mei 2018 hingga 32 bulan penjara, karena membantu Iran menghindari sanksi AS. Sementara dua staf konsulat AS di Turki juga ditahan otoritas setempat.

Sekutu NATO itu juga berselisih mengenai kebijakan AS di Suriah, di mana sekutu Washington dalam perang melawan Negara Islam mendukung milisi Kurdi. Turki mengatakan milisi Kurdi itu adalah perpanjangan dari PKK, yang telah melancarkan pemberontakan selama tiga dekade di Turki tenggara.

Pemerintah Turki mengatakan kasus Brunson akan diputuskan oleh pengadilan. Namun Erdogan sebelumnya telah mengaitkan nasibnya dengan Fethullah Gulen, ulama Muslim yang bermarkas di Turki yang dituding sebagai dalang upaya kudeta. Erdogan nampaknya ingin membarter sang Pendeta dengan ekstradisi Gulen dari AS.

Namun, Gulen membantah memiliki kaitan dengan kudeta yang gagal. Dimana setidaknya 250 orang tewas dalam konflik berdarah tersebut. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular