Erabaru.net. Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, pada tahun 2018 ini dirayakan di Pasuruan, Jawa Timur, dan memasuki babak baru.

Di mana kurang lebih 520 anak dari seluruh Indonesia akan hadir menyampaikan aspirasi mereka yang dirumuskan secara bersama pada Forum Anak Nasional yang berlangsung sejak tanggal 20- 22 Juli 2018 di Surabaya, dan pada saat bersamaan di Surabaya juga diselenggarakan kegiatan Audisi Beasiswa Djarum Bulutangkis, yang diikuti 802 anak usia 6 – 14 tahun dari berbagai daerah.

Apabila 520 anak  berjuang menyampaikan aspirasinya pada Hari Anak Nasional – bahkan 2  tahun terakhir Suara Anak selalu menyuarakan perlindungan anak dari bahaya rokok. Sebaliknya 802 anak usia 6-14 tahun dengan mengenakan kaos bertuliskan merek rokok tertentu, tanpa mereka sadari dimanfaatkan untuk mempromosikan produk rokok tersebut dan beresiko menjadi perokok di kemudian hari.

Seperti rekomendasi penelitian DiFanza, Wellman, Sargent, Weitzman, Hipple, dan Winickoff yang dilakukan untuk Tobacco Consortium, Center for Child Health Research of the American Academy of Pediatrics, menyimpulkan bahwa promosi rokok memperteguh sikap, kepercayaan, dan ekspektasi terkait konsumsi rokok. Semakin tinggi ekspos terhadap rokok, semakin tinggi pula resiko anak menjadi perokok.

Melibatkan anak – anak dalam kegiatan yang diselenggarakan perusahaan rokok sungguh hal yang membahayakan.

Pengurus Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri mengatakan terlalu naif untuk memandang anak-anak tersebut sebatas sebagai generasi belia yang bercita-cita menjadi olahragawan.

Menurut dia, hal ini bukan ihwal bagaimana anak-anak mengembangkan diri menjadi atlet profesional an sich.

“Keberadaan perusahaan produsen rokok sebagai penyelenggara program audisi tahunan tersebut mengharuskan semua pihak untuk secara bijak mencermatinya sebagai bentuk cognitive dissonance yang dimainkan perusahaan tersebut untuk menetralkan persepsi masyarakat akan bahaya rokok, utamanya di kalangan anak-anak,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari menambahkan, pelibatan anak-anak pada kegiatan yang disponsori perusahaan rokok adalah pelanggaran terhadap PP No. 109 Tahun 2012 Pasal 47 ayat 1 yang menyebutkan bahwa setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori peroduk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah 18 tahun. 

“Apalagi dengan meminta anak-anak mengenakan kaos dengan atribut perusahaan rokok tertentu, itu tidak etis dan melanggar aspek perlindungan anak. Mengingat bahwa rokok adalah produk yang membahayakan kesehatan dan mengandung zat adiktif, “tegas Lisda.

Karena itu melalui siaran pers ini Yayasan Lentera Anak dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)  menyampaikan :

1- Mendesak Pemerintah untuk memberi perhatian khusus terhadap upaya dimainkan perusahaan rokok untuk menetralkan persepsi masyarakat akan bahaya rokok utamanya di kalangan anak-anak, dengan melarang iklan, promosi dan sponsor rokok secara menyeluruh

2- Mengimbau pelaku usaha selain perusahaan rokok untuk berperan dalam memajukan dunia perbulutangkisan nasional

3- Mengimbau orang tua dan masyarakat untuk mendidik membangun sikap kritis anak-anak terhadap berbagai upaya untuk menetralisir persepsi  masyarakat akan bahaya rokok melalui iklan, promosi dan sponsor rokok.

Selamat Hari Anak Nasional. (asr)

Share

Video Popular