oleh Tang Hao

Setelah perang dagang AS – Tiongkok secara resmi diluncurkan pada 6 Juli lalu, pemerintah Tiongkok yang sebelumnya berteriak akan meladeni (perang) sampai kapan saja, tiba-tiba ‘tertunduk diam’. Kemudian rumor bahwa telah terjadi kudeta di Zhongnanhai, Beijing gencar beredar, faksi Jiang dan pemimpin golongan radikal menebarkan berita tentang ‘raja harus turun tahta’  dan rumor lainnya.

Sehingga publik di luar bertanya-tanya : Apakah perpecahan atau konflik sedang terjadi di pusat kepemimpinan Tiongkok ?

Pada 17 Juli lalu, orang nomor tiga di pemerintahan Tiongkok Li Zhanshu menampilkan diri untuk memberikan penjelasan berupa tentu saja menjadi kewajiban bagi kita untuk tanpa ragu  mengikuti apa saja yang telah diputuskan oleh pemimpin tertinggi. Tampaknya spekulasi publik tidak terlalu jauh meleset.

Pada hari berikutnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying dengan nada tinggi sampai 4 kali menyebut kata Salah dalam menjelaskan tuduhan pihak Amerika Serikat bahwa Tiongkok bertindak tidak adil dalam perdagangan, mencuri kekayaan intelektual milik AS, dan sebagainya.

Selain itu, ia mengklaim bahwa Tiongkok selalu menganjurkan perdagangan yang adil, dan pencapaian inovasi Tiongkok pertama adalah tidak bergantung pada cara pencurian dan kedua tidak bergantung pada perampasaan.

Pada hari yang sama, Cui Tiankai, Duta Besar Tiongkok untuk AS menyampaikan tulisan berbau kritikan kepada AS yang dipublikasikan media ‘USA Today’ menyebutkan bahwa, tekanan ekstrim tidak akan berpengaruh terhadap Tiongkok, selain itu, pemerintah Tiongkok tidak pernah memaksa perusahaan asing untuk mentransfer technology know how kepada pihak Tiongkok.

Meskipun ucapan kedua orang yang dijadikan corong pemerintah terang-terang berbohong dan mendapatkan ejekan dari sejumlah netizen dari dalam dan luar Tiongkok, tetapi hal yang perlu dicatat adalah bahwa pihak Tiongkok memilih hari yang sama untuk meluncurkan secara serentak komentar serangan balik bernada tinggi dari belahan dunia Timur dan Barat ini seharusnya bukan hal yang di luar kesengajaan.

Sangat mungkin, otoritas Beijing saat itu sedang terjadi konflik dengan pejabat golongan radikal di dalam partai dan mendapatkan perlawanan sengit dari pejabat fraksi Jiang Zemin, sehingga pernyataan bernada tinggi baru dimunculkan setelah situasi dianggap lebih stabil.

Pertama untuk memperlihatkan kepada semua pihak bahwa kekuasaan rezim di Zhongnanhai masih tetap stabil, menekan kecurigaan yang mungkin timbul dari pejabat-pejabat pemerintah daerah. Kedua, meluncurkan putaran baru pertarungan pendapat publik dalam perang dagang melawan AS.

Sayap ultra-kiri Partai Komunis Tiongkok (PKT) membuat perangkap, menyulut bentrokan demi ‘menangkap ikan dalam air keruh’

Menggunakan opini publik untuk membalas perang dagang ? Sedang ‘memecahkan batu menggunakan telur’, bukan !?!

Tampaknya begitu ! Otoritas Beijing seharusnya juga menyadari bahwa dalam suasana setiap negara di dunia sedang menaruh kewaspadaan tinggi terhadap Tiongkok komunis, perang opini publik akan sulit untuk memancing dukungan dari pihak lain, sulit untuk mencapai hasil yang nyata, tetapi itu terpaksa dilakukan.

Karena pertama, pemerintah Tiongkok secara umum tidak mampu melawan, harga saham di Tiongkok dan mata uang Renminbi terus menurun. Komunitas investasi khawatir kalau sewaktu-waktu gelembung utang dan krisis keuangan meletus, pelarian modal terus berlangsung, masyarakat gelisah. Oleh karena itu pemerintah melalui pejabatnya dimunculkan untuk memberikan penjelasan seperlunya demi menenangkan suasana.

Kedua, para pejabat radikal PKT yang memang beroposisi dengan rezim dapat saja menggunakan alasan Tiongkok kalah perang dagang melawan AS, atau kurang serius memberikan perlawanan untuk memaksa rezim melepaskan kekuasaannya. Oleh karena itu, otoritas Beijing terpaksa menyambut perang dengan nada yang tidak mau kalah, yang suaranya sebetulnya untuk didengarkan oleh orang-orang dalam lingkungan PKT. Untuk menunjukkan ‘komitmen’ akan ‘berperang dagang dengan AS sampai titik darah penghabisan’.

Namun, di balik ini ternyata bersembunyi salah satu dari ‘perangkap berpintu ganda’ yang dibuat oleh kaum radikal.

Andaikata pihak Tiongkok keok dalam perang dagang dengan AS, maka kaum radikal memiliki alasan rasional untuk meminta pertanggungjawaban rezim penguasaha. Apalagi pada saat ini, otoritas Beijing hampir tidak memiliki kartu bagus untuk dapat dimainkan, awan gelap kalah perang sedang menutupi udara di atas Zhongnanhai. Kaum radikal tampaknya mulai bersiap diri dengan ‘mengasah pedang’.

Namun, jika pihak berwenang Beijing melancarkan serangan balasan terhadap AS untuk menghindari tekanan kalah perang dagang dari eksternal dan kritik dari dalam partai, maka rezim penguasa sangat mungkin akan terjerembak ke dalam perangkap kaum radikal berupa hasutan untuk melakukan tindakan yang sebenarnya tidak dikehendaki.

Kaum radikal menggunakan alasan melindungi partai, patriotisme untuk memaksa rezim yang berkuasa menentang Amerika Serikat, mencoba untuk lebih mengintensifkan konflik antara Tiongkok dengan Amerika Serikat untuk mewujudkan kondisi demi ‘menangkap ikan dalam air keruh’, mengambil paksa kekuasaan ketika ricuh atau meminjam tangan untuk membunuh.

Karena mereka tahu bahwa jika para pejabat pemerintah tidak bertindak seirama, bahkan  berantakan karena tekanan internal dan eksternal, lalu melakukan serangan balik kepada AS secara membabi buta (seperti  sengaja membiarkan nilai Renminbi terdepresiasi, dan lainnya), maka  AS pasti akan meningkatkan intensitas tekanan terhadap ekonomi dan perdagangan Tiongkok agar pihak berwenang Tiongkok bertekuk lutut. Pada saat yang sama, kesabaran Trump juga akan terkuras habis dan rezim Xi Jinping makin dalam posisi terkucil. Itulah saatnya kaum radikal mengambil alih tahta.

Bahkan tanpa harus menunggu siapa pihak yang bakan keluar sebagai pemenang dalam perang dagang, selama konflik belum berakhir, apakah itu terjadi pada bidang perdagangan, diplomatik atau bahkan militer, begitu konflik memanas pihak berwenang kehilangan kesabaran untuk berpikir panjang, kaum radikal juga bisa memanfaatkan kesempatan untuk masuk dan mengambil alih kekuasaan.

Dengan kata lain, terlepas dari siapa yang menang atau kalah dalam perang dagang, selama Amerika Serikat dan Tiongkok mulai berperang, pihak berwenang Beijing telah memasuki masa krisis dan berposisi terancam. Ini adalah perangkap mematikan yang diciptakan oleh kaum radikal dalam PKT untuk menjatuhkan rezim penguasa.

Sayap kiri AS memprovokasi konflik AS – Rusia, Trump sadar dan melakukan serangan balik

Sesungguhnya ‘perangkap berpintu ganda’ tidak hanya ada di Tiongkok, tetapi juga muncul di AS.

Setelah Presiden Trump bertemu dengan Presiden Vladimir Putin, politisi sayap kiri dan media pan di Amerika Serikat melakukan segala upaya untuk menyerang Trump, mengkritik Trump dengan istilah terlalu lemah dalam menghadapi Putin bahkan menuduh Trump telah mengkhianati AS dan sebagainya.

Bahkan, ucapan retorika kiri radikal ini juga bertujuan untuk memberikan tekanan pada  Trump, memprovokasi kontradiktif antara Trump dan Putin, Rusia dan Amerika Serikat, mencoba untuk memaksa kedua belah pihak kehilangan ketenangannya bahkan menuju konflik militer.

Dengan demikian, kubu sayap kiri Amerika Serikat dan Rusia akan berada dalam posisi saling bertentangan. Di satu sisi untuk mengikis pengaruh kuat dari Trump dan Partai Republik, untuk mendapatkan modal politik, sebagai persiapan untuk mengurangi dukungan suara yang diberikan kepada Trump dalam  pemilihan jangka menengah di akhir tahun nanti.

Di sisi lain, untuk merenggangkan hubungan antara Trump dan Putin, agar Trump tidak dapat memperoleh dossier dari Rusia, insiden Russiangate dan kebenaran dari skandal tambang uranium Hillary Clinton. hal itu juga akan untuk menjaga posisi politisi sayap kiri, dan terus menyerang Trump.

Namun yang berbeda dengan otoritas Beijing adalah menghadapi tekanan publik yang sangat besar, Trump tetap tenang. Ia sadar akan perangkap yang dibuat sayap kiri dan tidak terjebak, Bahkan menulis dalam Twitter : Media berita palsu ingin melihat kami memiliki konflik dengan Rusia, dan menyulut peperangan. Mereka secara kasar mendorong saya pergi menjauhi, membenci saya membangun hubungan baik dengan Putin.

Selain itu, karena AS adalah negara demokrasi, masyarakat bebas, politisi dipilih oleh rakyat, pemerintah berkuasa karena mendapat mandat rakyat, militer adalah milik negara, setiap politisi atau partai politik sulit untuk merebut kekuasaan melalui kudeta, hal ini secara efektif menjamin stabilitas sosial dan keselamatan para pemimpinnya.

Beijing Memiliki 2 Jalur untuk Menerobos Perangkap

Mari kita tinjau kembali masalah yang dihadapi Tiongkok.

Situasi perangkap maut yang dihadapi otoritas Beijing sekarang sebenarnya berakar dari tubuh PKT sendiri yang tidak ada kebebasan, kepemimpinan totaliter yang tidak transparan, dan menanggalkan sifat kemanusiaan, memuja kekuasaan dan memupuk jiwa konflik, ini yang menghantarkan partai dan pemimpinnya masuk ke dalam ruang konflik tanpa habis, perebutan kekuasaan dan kecemasan panjang.

Jika Beijing ingin keluar dari situasi tersebut maka 2 jalur di bawah ini sebagai rekomendas.

Pertama, meletakkan niat untuk konfrontasi, berpikir panjang demi kepentingan bangsa dan negara, sebelum mengalami kerugian yang signifikan dalam perang dagang, dengan tenang hati bernegosiasi dengan AS dan berjanji meninggalkan praktek perdagangan tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual, dan mencapai kesepakatan perdagangan yang adil dan transparan dengan AS, melakukan reformasi struktural ekonominya.

Tindakan tersebut mungkin dapat menbuat Beijing terhindar dari status pecundang dalam perang dagang, dan menggagalkan niat kaum radikal dan fraksi Jiang untuk mengambil alih kekuasaan karena alasan rezim ‘gagal’ dalam memimpin, meskipun hal tersebut hanya bersifat sementara.

Kedua, pihak Beijing perlu berindak mendahului, menangkap para pemimpin radikal dan fraksi Jiang, melakukan reformasi menyeluruh di sektor ekonomi, membuang sistem kepemimpinan PKT.

Dengan demikian, rezim yang berkuasa memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari belenggu Partai Komunis Tiongkok terhadapnya juga terhadap seluruh rakyat Tiongkok, memimpin Tiongkok menuju era baru, mengembangkan ekonomi pasar yang bebas dan transparan, bahkan bergandengan tangan dengan Amerika Serikat untuk menciptakan masa depan yang gemilang. (Sin/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds