Erabaru.net. Suatu ketika seorang ayah tua datang untuk tinggal bersama keluarga putranya.

Perlahan kesehatannya semakin menurun, tangannya gemetar dan langkah kakinya tertatih.

Saat makan malam bersama, tangan ayah tua itu gemetar dan penglihatannya kabur sehingga ia sulit makan dengan benar, dan makanannya jatuh ke lantai.

Saat ia minum susu, susunya tumpah di taplak meja.

Seiring berjalannya waktu, sang putra dan istrinya menjadi kesal.

“Kita harus berbuat sesuatu, kita sudah jenuh dengan kebisingan dan kekacauan ini!”

Sejak itu, dia makan sendirian di kamarnya, sedangkan keluarga lain menikmatinya di meja makan.

Makanannya disajikan di sebuah mangkuk kayu, karena ia selalu memecahkan satu atau dua piring. Setiap kali anggota keluarga meliriknya, ia berlinang air mata karena merasa dikucilkan.

Cucu lelakinya yang berusia empat tahun diam-diam menyaksikan semuanya.

Suatu malam sang cucu sedang bermain dengan beberapa potongan kayu.

Ayahnya memperhatikan dan dengan lembut bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan nak?”

Dengan manisnya, putra itu menjawab,
“Oh, aku sedang membuat mangkuk kecil tempat makan ayah dan Ibu saat aku besar nanti.”

Terkejut oleh ucapan putranya, orangtua itu tidak sanggup berkata-kata.

Air matanya mengalir, meskipun tak ada kata yang terucap, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Malam itu juga, ayah tua itu dituntun perlahan oleh putranya ke meja untuk makan malam bersama.

Di sisa hidupnya, ayah tua itu menikmati makan bersama anggota keluarganya di meja makan.

Dan suami istri itu tidak peduli lagi saat ada garpu yang jatuh, susu yang tumpah, atau taplak meja yang kotor.

Anda menuai apa yang Anda tabur.

Terlepas dari hubungan Anda dengan orangtua Anda, Anda akan merindukannya saat mereka tiada.
Jadi selama mereka masih hidup, Hormatilah, Rawatlah dan Cintailah dengan sepenuh hati. (vv/an)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular