Penyensoran rezim Tiongkok sedang dalam teriakan penuh setelah skandal vaksin domestik lainnya menyebabkan kegemparan, terutama karena rincian telah muncul dari upaya penyembuyian yang nyata oleh perusahaan farmasi Tiongkok yang terlibat dan kelalaian yang luar biasa oleh pihak berwenang Tiongkok.

Pada 19 Juli, Changsheng Bio-Technology, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Kota Changchun, ibukota Provinsi Jilin Tiongkok timur laut, mengumumkan di situs webnya bahwa anak perusahaannya yang sepenuhnya dimiliki, Changchun Changsheng Bio-teknologi, telah didenda oleh Administrasi Makanan dan Obat Provinsi Jilin (Jilin FDA) karena memproduksi dan menjual dosis vaksin DTap di bawah standar, vaksin kombinasi untuk anak-anak kecil untuk mengembangkan kekebalan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus, menurut laporan 21 Juli oleh National Business Daily yang dikelola negara.

Setelah pengujian secara acak, terungkap bahwa lebih dari 253.330 dosis vaksin DTap yang diproduksi oleh Changchun Changsheng adalah di bawah standar. Namun, temuan administrasi tersebut datang sedikit terlambat, karena sebagian besar dosis yang cacat, sekitar 252.600, telah dijual dan dikirim ke pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Provinsi Shandong di Tiongkok timur.

FDA Jilin telah menyita 186 dosis vaksin DTap di bawah standar yang masih dalam kepemilikan Changchun Changsheng. Ia juga mendenda perusahaan tersebut 3,44 juta yuan (sekitar $507,809).

Baru minggu lalu, pada 17 Juli, Changchun Changsheng ditemukan telah memalsukan data manufaktur dalam produksi vaksin rabies Vero-sel. Sertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) dicabut oleh Jilin FDA sebagai akibatnya.

Menurut pengumuman terbaru, Jilin FDA telah memulai penyelidikannya terhadap vaksin DTap Changchun Changsheng sekitar 10 bulan yang lalu, pada 21 Oktober 2017.

Pada saatnya untuk publikasi, situs web Changsheng Bio-technology mati.

Ternyata Administrasi Makanan dan Obat Provinsi Shandong telah mengetahui tentang vaksin di bawah standar dari Changchun Changsheng selama ini, tetapi membuat keputusan untuk tidak membuat pengumuman publik, menurut salinan yang beredar luas dari dokumen resmi yang dikeluarkan oleh FDA Shandong yang telah bocor di Sina Weibo, setara dengan Twitter di Tiongkok.

Dokumen, tertanggal 31 Oktober 2017, menunjukkan bahwa setelah uji sampel oleh National Institutes for Food and Drug Control (NIFDC), lembaga pemerintah pusat menegaskan ada 252.600 dosis DTAP di bawah standar.

Selain itu, dokumen tersebut menginstruksikan kantor-kantor FDA kota di Provinsi Shandong untuk mulai menarik kembali vaksin-vaksin di bawah standar tersebut, sementara “memantau opini publik dengan ketat,” sebuah eufemisme untuk penyensoran. Bagian bawah dari dokumen tersebut ditandai dengan kata-kata “tidak dipublikasikan.”

Pada 23 Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Shandong mengeluarkan pernyataan publik, menjelaskan bahwa ia mulai diam-diam menarik kembali dosis di bawah standar pada November 2017 setelah FDA Shandong menerima informasi tersebut. Tetapi pada saat itu, sebanyak 247.359 dosis dari 252.600 dosis di bawah standar telah digunakan. Lebih dari 215.000 anak-anak telah diinokulasi dengan vaksin di bawah standar tersebut.

Tidak jelas apakah daerah lain terpengaruh oleh sisa pasokan suplai vaksin DTap di bawah standar dari Changsheng tersebut.

Pernyataan itu menambahkan bahwa pihak berwenang Tiongkok belum mendeteksi reaksi kesehatan yang merugikan pada anak-anak yang diinokulasi dengan vaksin tersebut.

Sensor Online

Sejumlah besar netizen Tiongkok sejak itu telah memakai Weibo untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kemarahan mereka pada pihak berwenang dan Changchun Changsheng, sambil menghibur anak-anak yang terkena dampak dan keluarga mereka.

Namun, banyak komentar online telah dihapus, menurut Free Weibo dan Weiboscope, situs web yang melacak sensor pada media sosial Tiongkok.

Menurut basis data Free Weibo, banyak postingan daring (online) dengan kata kunci “vaksin” dihapus oleh otoritas Tiongkok, dimulai pada 21 Juli. Salah satu postingan yang dihapus, ditulis oleh netizen dengan nama “Na Xiaofang” dari Provinsi Henan Tiongkok tengah, menyatakan: “Tulisan sedang dihapus dengan cepat. Orang-orang yang bertugas menghapus postingan mungkin tidak memiliki anak. Jika mereka memiliki anak, mereka mungkin tidak mendapat suntikan dengan vaksin-vaksin ini”- mencerminkan sentimen publik bahwa pejabat Tiongkok mendapatkan perlakuan khusus dan biasanya dilindungi dari ketakutan-ketakutan kesehatan seperti itu.

Postingan lain yang dihapus yang ditulis oleh seorang netizen dari Provinsi Hubei Tiongkok tengah menyatakan, “Tolong minta pejabat-pejabat utama yang bertanggung jawab di CFDA dan Jilin FDA mengundurkan diri, jika orang-orang ini masih memiliki sedikit rasa malu politik yang tersisa di dalamnya.”

Pada saat terjadi krisis sosial, rezim Tiongkok biasanya memerintahkan pembatasan informasi, termasuk penyensoran online dan pembuatan riwayat berita gadungan, seperti selama skandal susu formula tahun 2008, ketika merek susu dan susu formula ditemukan telah tercemar dengan melamin kimia.

Masalah Tak Kunjung Padam

Tiongkok telah dihinggapi oleh skandal-skandal vaksin, dan pihak berwenang gagal memadamkan masalah tersebut.

Dari 6 hingga 22 Desember 2013, tujuh bayi yang baru lahir meninggal setelah diinokulasi dengan vaksin hepatitis B. Pihak berwenang Tiongkok kemudian memutuskan bahwa kematian itu disebabkan oleh “efek samping setelah imunisasi” (AEFI), memungkinkan anak-anak penderita penyakit tidak aktif terpicu oleh vaksin. Tiga perusahaan farmasi Tiongkok tidak bertanggung jawab, menurut laporan 22 Juli oleh The Paper yang dikelola negara.

Pada Februari 2016, Pang Hongwei dan putrinya ditangkap karena memberikan pemberitaan keras tentang penjualan vaksinasi yang sudah kadaluwarsa. Vaksin sudah dijual ke 20 provinsi.

The Paper, dalam artikel opini 22 Juli, menyatakan bahwa kurangnya hukuman keras terhadap produsen vaksin yang salah adalah penyebab masalah yang terus-menerus.

Orangtua yang mencari kompensasi finansial dan ganti rugi hukum bagi anak-anak mereka yang terkena bencana sering menghadapi pelecehan dan penahanan polisi.

Meskipun Changsheng Bio-teknologi dan Changchun Changsheng terlibat dalam lebih dari 10 kasus suap dari tahun 2001 hingga 2017, perusahaan-perusahaan tersebut terus beroperasi tanpa banyak intervensi.

Wu Yuhai, seorang tenaga penjual yang bekerja untuk Changchun Changsheng, memberikan suap kepada Wang Feng, mantan direktur pusat pencegahan penyakit di Kabupaten Ningling, Provinsi Henan, menurut laporan 23 Juli oleh The Paper. Untuk pembelian 13.600 dosis vaksin cacar air dari Juni 2010 hingga Maret 2013, Wu memberikan suap lima yuan ($0,74) per dosis untuk Wang.

Wu juga memberikan suap 20 yuan ($2,95) per dosis dari pembelian 4,800 dosis vaksin rabies untuk Wang dari bulan Juni hingga September 2015.

Wang dijatuhi hukuman delapan tahun tiga bulan karena menerima suap, pada 18 Juli. Tidak diketahui apakah Wu dihukum. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular