oleh Xu Jian

Harga minyak di Korea Utara seperti naik roller coaster. Sejak PBB menerapkan sanksi yang berat tahun lalu, harga minyak di Korea Utara naik tinggi, tetapi sejak Maret tahun ini harga turun setengah. Siapa gerangan yang membantu Korea Utara melalui masa kesulitan minyak ? Jawaban seharusnya tidak berbeda dengan dugaan kebanyakan orang.

Reuters menganalisis data yang dipublikasikan situs web ‘Daily NK’, hingga hari Selasa (24 Juli), harga jual bensin SPBU swasta di Pyongyang per liter adalah USD. 1.24 menurun 33 % dari harga pada 5 Juni lalu yang USD. 1.86, bahkan 44 % dari harga pada 27 Maret yang USD. 2.22 Harga solar per liter adalah USD 0.85 menurun 17 % dari harga bulan Maret 2018.

Setelah Dewan Keamanan PBB memberikan sanksi terhadap Korut pada bulan September tahun lalu, harga minyak di Korea Utara tak terelakkan membumbung tinggi. Hingga akhir bulan September saja, harga sudah naik 3 kali lipat daripada harga awal tahunnya.

Nihon Keizai Shimbun mengutip media AS mengatakan bahwa pada 21 September, harga bensin di Pyongyang tiba-tiba naik lebih dari 40%. Dibandingkan dengan awal tahun, harga bensin naik 3,1 kali dan minyak ringan naik 2,4 kali.

Pada 11 September, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengeluarkan resolusi tentang sanksi terhadap Korea Utara. Kasus ini akan mengurangi impor minyak mentah dan produk penyulingan minyak bumi Korea Utara sebesar 30%. Pada 23 September, Kementerian Perdagangan mengumumkan bahwa mereka akan membatasi ekspor produk minyak hasil olahan ke Korea Utara, tetapi Beijing tidak memberlakukan embargo terhadap Korea Utara.

Pada bulan Desember, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk mengurangi hingga 90 % jumlah minyak mentah dan minyak olahan yang dapat diimpor oleh Korea Utara.

Para ahli menganalisis bahwa RRT secara diam-diam mengirim minyak ke Korea Utara. “Terutama sejak kunjungan Kim Jong-un ke Tiongkok, sejumlah pasokan masuk dari Tiongkok ke Korea Utara” Kang Mi-jin, yang bertugas di Daily NK mengatakan kepada Reuters. Kang secara teratur akan mengadakan kontak pembicaraan dengan sumber-sumber di Korea Utara.

Presiden Trump dan Menlu Pompeo mengatakan, setelah Korut meninggalkan sepenuhnya senjata nuklir, AS baru bersedia melonggarkan sanksi.

Menurut pakar, praktik PKT (Partai Komunis Tiongkok) memberikan bantuan bahan bakar ke Korea Utara adalah tindakan yang melanggar sanksi, dapat merusak proses diplomatik ini. (Sin/asr)

Share

Video Popular