Oleh Daniel Lacalle

Kelemahan dalam tembaga terus berlanjut, turun 15 persen dari level tertinggi enam bulan di bulan Juni, dan itu menunjukkan risiko terhadap ekspektasi pertumbuhan global dan inflasi yang optimis.

Tetapi sesuatu yang lain terjadi pada emas dan tembaga terlepas dari perlambatan global dan kekuatan dolar.

Gelembung Tiongkok.

Ketika pertumbuhan kredit melambat dan kondisi-kondisinya telah mengeras, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah berusaha mengumpulkan dana melalui pembiayaan yang didukung tembaga.

Pinjaman-pinjaman yang didukung emas juga menjadi sangat populer. Mereka sangat populer sehingga perkiraan analis berkisar dari 250.000 hingga 1 juta metrik ton tembaga saja yang digunakan sebagai jaminan. Perusahaan-perusahaan Tiongkok dapat mengunci sebanyak 1.000 metrik ton emas dalam transaksi-transaksi pembiayaan, menurut World Gold Council.

Meluasnya penggunaan komoditas untuk meningkatkan pembiayaan termasuk emas dan bijih besi, di mana hingga 20 persen cadangan telah diperkirakan terkait dengan pembiayaan murah dan berisiko tinggi.

Carry trade raksasa (aksi mengambil keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga antar negara) ini bekerja sementara yuan naik dan harga komoditas melonjak. Sekarang, salah satu alasan untuk aksi jual baru-baru ini adalah melemahnya yuan versus dolar, di samping revisi-revisi menurun untuk perkiraan pertumbuhan Tiongkok dan harga-harga komoditas jatuh bersama-sama.

Efek Domino

Risiko efek domino tidak berbeda dengan kasus-kasus lain dalam sejarah di mana pinjaman-pinjaman berisiko telah dikaitkan dengan aset yang mendasari yang kehilangan nilai dengan cepat. Contohnya berkisar dari tahun 1990-an “hipotek dalam denominasi yen” —yang memicu kerugian besar di pasar Eropa karena mata uang Jepang yang dinilai kembali dan pelunasan-pelunasannya menjadi lebih mahal — untuk pinjaman yang didukung aset untuk perumahan dan minyak tepat sebelum keruntuhan dan Resesi Hebat. Perbedaannya kali ini adalah jumlahnya sangat besar dan tentu saja jauh lebih mudah untuk dikelola.

Kombinasi pertumbuhan permintaan yang melemah dan kekuatan dalam dolar akan membuat lonjakan panggilan marjin. Ini menunjukkan bahwa dugaan “aset aman” ini, seperti tembaga dan emas, telah menjadi jauh lebih berisiko karena jumlah kredit bermasalah dan kapasitas pembayaran kembali berkurang, memicu penjualan yang signifikan dalam komoditas yang mendasarinya.

Intinya, tindakan-tindakan penjualan dalam yuan, emas, dan tembaga adalah satu dan sama. Mereka adalah sinyal meningkatnya pelarian modal dan rasio kredit macet yang jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi yang sangat rendah. Kita sedang menyaksikan pelonggaran dari taruhan-taruhan tersebut didukung oleh kepuasan berlebihan tentang Tiongkok, pertumbuhan global, dan risiko.

Dalam kasus emas, ia tidak menunjukkan tanda-tanda menjadi aset pelindung atau pembendung inflasi, mengingat jumlah abnormal pinjaman beragun emas di sektor paling berisiko. Pinjaman-pinjaman yang didukung emas atau tembaga jarang dikaitkan dengan pinjaman yang aman dan sehat, dan mereka adalah cara untuk menerima tingkat rendah untuk proyek-proyek paling berisiko dalam ekonomi yang dengan jelas dalam mode pelambatan.

Tembaga adalah komoditas yang paling terkait dengan produksi industri. Harga tembaga adalah indikator yang baik dari ekonomi global, karena fluktuasi harga biasanya ditentukan oleh permintaan industri. Mengingat bahwa Tiongkok mewakili sekitar 50 persen permintaan tembaga global, perlambatan ekonomi mereka memiliki dampak besar pada harga.

Credit Crunch (Krisis Likuiditas)

Banyak pinjaman berkualitas rendah di Tiongkok menggunakan tembaga atau emas sebagai jaminan, hingga 30 persen menurut HSBC, karena ini merupakan indikator kegiatan industri dan terkait erat dengan pertumbuhan Tiongkok. Ketika pasar mulai mempertanyakan kapasitas pembayaran utang dari banyak perusahaan Tiongkok tersebut, panggilan margin terpicu dan tembaga jatuh bersamanya.

Ini adalah dampak ganda: keuangan dan permintaan. Apa yang seharusnya menjadi lindung nilai (hedge) yang baik sebenarnya merupakan risiko ganda pada perlambatan ekonomi.

Bagaimana dengan dampaknya pada bagian dunia lainnya?

Chili menyumbang 34 persen produksi tembaga dunia, sekitar 19 persen dari pendapatan negara. Amerika Serikat adalah produsen tembaga terbesar keempat di dunia, setelah Chili, Peru, dan Tiongkok, dan Australia kelima. Semua negara-negara ini berproduksi pada tingkat mendekati puncak, dan penurunan kecil 3,5 persen dari tahun ke tahun telah gagal mengatasi surplus tersebut.

Dalam hal permintaan, Tiongkok menyumbang 50 persen, diikuti oleh Eropa sebesar 17 persen, sisanya dari Asia sebesar 15 persen, Amerika Serikat sebesar 8 persen, dan Jepang sebesar 5 persen. Sisanya adalah konsumen kecil.

Risiko untuk perkiraan permintaan tembaga olahan di Tiongkok menyiratkan peningkatan kapasitas berlebih, risiko yang diperparah oleh fakta bahwa perkiraan pertumbuhan permintaan saat ini mengasumsikan ekonomi AS yang lebih kuat.

Penurunan emas, tembaga, dan yuan terhadap dolar juga menunjukkan bagaimana investor global secara agresif bertaruh pada aksi mengambil keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga “dolar lemah selamanya.”

Selamat datang di gelembung. Gelembung ini tidak membutuhkan krisis untuk meledak, hanya revisi kecil ke bawah dari perkiraan yang terlalu optimis, yang menyebabkan taruhan leverage menjadi salah.

Bahkan jika kita mempertanyakan sejauh mana risiko pendanaan yang didukung komoditas, ada satu hal yang tidak dapat kita abaikan: selisih bersih dalam mata uang dan komoditas yang disebutkan di atas dibiayai oleh carry trade dolar yang salah. Rasa sakit mungkin jauh dari selesai. (ran)

Daniel Lacalle adalah kepala ekonom di Hedge fund Tressis dan penulis “Escape From the Central Bank Trap,” yang diterbitkan oleh BEP.

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds