EpochTimesId – Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin, Kamis (26/7/2018) waktu setempat mengatakan sedang mengamati dengan saksama isu pelemahan mata uang Tiongkok, Renminbi. Dia juga mengatakan, laporan kurs tengah semi-tahunan Kementerian Keuangan AS akan melakukan peninjauan terhadap tren perkembangan bulan-bulan terakhir Renminbi.

Steven Mnuchin dalam wawancara di acara Squawk Box CNBC pekan lalu mengatakan bahwa AS perlu mengamati dengan saksama kelemahan yang terjadi pada mata uang Renminbi. Selain itu, pihaknya juga sedang mengamati mata uang negara lainnya.

“Dolar menguat secara jangka panjang memiliki arti penting, itu merupakan hasil dari terus membaiknya ekonomi AS,” kata Mnuchin. “Namun sebagai bagian dari tanggung jawab Kementerian Keuangan, kita juga memantau dengan ketat apakah ada manipulasi mata uang di berbagai pasar keuangan dan memastikan bahwa tidak ada yang menggunakan mata uang (depresiasi) untuk mendapatkan keuntungan perdagangan yang tidak adil.”

Nilai tukar mata uang Renminbi terhadap dolar AS pada penutup pasar hari Kamis adalah 6,77 atau menurun 0,15%. Sejak perselisihan dagang meningkat, mata uang Renminbi mencatatkan rekor bulanan terburuk pada bulan Juni, turun 3,7%, menjadikannya mata uang berkinerja terburuk di dunia.

Ada 2 intepretasi muncul di pasar terhadap situasi tersebut, ada sejumlah analis menduga bahwa ini merupakan akibat dari penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Ditambah lagi dengan dampak kenaikan tarif yang diberlakukan AS serta naiknya tingkat bunga dolar AS. Namun sebagian kalangan menduga bahwa penurunan nilai adalah hasil intervensi otoritas Tiongkok dalam rangka mengimbangi dampak kebijakan tarif AS.

Mnuchin mengatakan bahwa melemahnya Renminbi akan menjadi bagian dari laporan kurs tengah semi-tahunan Kementerian Keuangan AS. Laporan tentang kegiatan valuta asing dalam enam bulan pertama tahun 2018 tersebut akan dirilis pada 15 Oktober mendatang.

Dalam laporan kurs tengah semi-tahunan yang dirilis pada bulan April, administrasi Trump tidak mencantumkan Tiongkok dalam daftar kelompok negara yang memanipulasi mata uangnya. Namun, risiko bahwa Tiongkok terdaftar sebagai manipulator valuta asing oleh Kementerian Keuangan AS selalu ada.

Dunia luar berpendepat bahwa dengan digolongkannya Tiongkok sebagai negara manipulator mata uang, maka kemungkinan dapat mendorong Tiongkok menuju perundingan dagang dengan AS. Tiongkok juga berpotensi melakukan liberalisasi pasar yang lebih luas, sekaligus mengurangi dampak yang terjadi pada perdagangan dan keuangan.

Beberapa waktu lalu, Presiden Trump menuduh Tiongkok komunis dan Uni Eropa memanipulasi mata uang. Trump mengatakan bahwa itu adalah tindakan yang merampas keunggulan kompetitif AS.

Sejak tahun 2016 Renminbi dimasukkan dalam keranjang Special Drawing Right (SDR) Dana Moneter Internasional. Nilai tukar sudah menjadi kewajaran ditentukan oleh kekuatan pasar. Tapi Bank Sentral Tiongkok terus mengklaim bahwa nilai tukar RMB mencerminkan permintaan dan penawaran (yang dinilai dengan mempertimbangkan nilai mata uang dalam keranjang SDR). Akan tetapi pihak berwenang masih dapat melakukan intervensi jika diperlukan.

Paola Subacchi, peneliti dari Chatham House, Inggris baru-baru ini menulis, “Otoritas keuangan Tiongkok selama ini terus melakukan intervensi nilai mata uang untuk memastikan bahwa nilai RMB sejalan dengan tujuan ekonomi mereka. Meskipun frekuensi intervensi bank sentral lebih rendah dari kondisi di masa lalu, tetapi masih terus membingungkan sinyal pasar.” (Lin Yan/ET/Sinatra/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular