oleh Yi Ru, Zhou Huixin

Seiring dengan terpaparnya kejadian vaksin palsu yang diproduksi Changchun Changsheng Biotechnology Co., Ltd. kasus lama mengenai obat vaksin kembali muncul ke permukaan dan menggegerkan dunia. Kondisinya di bawah sistem partai komunis tiongkok (PKT), keluarga korban vaksin palsu hidup dalam ketakutan.

Baru-baru ini Xi Jinping dan Li Keqiang yang masing-masing menyerukan penyelidikan secara saksama terhadap kasus tersebut, dan media daratan pun tampaknya cukup terbuka menanggapinya. Namun, ketika seorang wartawan mewawancarai keluarga korban vaksin palsu melalui telepon, ia menemukan bahwa masalah tidak sesederhana yang dibayangkan umum.

Putra Wang Hua (nama samaran) yang merupakan warga kota Jinan, Shandong adalah korban vaksin palsu. 3 tahun yang lalu, putranya yang berusia 7 bulan muncul demam tinggi setelah disuntik vaksin pencegah penyakit hepatitis B dan vaksin DPT, diikuti dengan pembengkakan tubuh, kemudian didialogsa menderika radang paru-paru (pneumonia bilateral dengan pneumonia berat), gangguan sistem persarafan (meningitis supuratif), sepsis, kerusakan banyak fungsi organ dan infeksi beberapa jaringan lunak.

Biaya pengobatan yang dihabiskan selama 3 tahun itu sekitar RMB. 1 juta. Untuk membawa anak tersebut mondar-mandir ke kota Beijing, Shanghai dan lainnya untuk perawatan, pasangan suami istri Wang Hua tidak dapat bekerja mencari nafkah.

Ketika reporter Epoch Times datang menemui dan bermaksud mengadakan wawancara dengan mereka, hal pertama yang mereka tanyakan adalah : “Apakah kalian media luar negeri ? Maaf, saya tidak menerima wawancara media dari luar negeri.”

Reporter : “Mengapa ? Apakah media dalam negeri akan melaporkan kasus Anda ?”

Wang Hua : “(Reportase) Media dalam negeri memang tidak mudah, kami sudah banyak mengalami, dalam hal ini saya juga memahaminya. Namun, kami juga terpaksa dan mohon kalian juga bisa memaklumi. Usai kita berbicara hari ini, besok ada orang yang mencari Anda. Anda pasti tahu bahwa sistem di Tiongkok berbeda dengan Barat. Pemantauan sampai pada percakapan lewat sambungan telepon. Jika laporan sampai dipublikasikan, seluruh anggota keluarga akan celaka.”

Repoter : “Bagaimana mereka bisa memperlakukan kalian ?”

Wang Hua : “Ini kurang nyaman untuk dibahas, meskipun normal untuk dipertanyakan. Tetapi ada beberapa hal yang bisa membuatnya jadi tidak normal. Kami juga tidak berdaya, karena kami juga tidak punya kemampuan untuk pergi ke luar negeri.

Reporter : “Jika tak satu pun orang bersedia mengungkap, lalu bagaimana dengan anak-anak kita, generasi selanjutnya ?”

Wang Hua : “Saya bisa berbicara secara temu muka, tetapi tidak melalui sambungan telepon”.

Reporter : “Apakah bisa dikontak dengan metode lainnya ?”

Wang Hua : “Internet sangat transparan, yang ada di belakang (server) semua transparan ⋯⋯ kami tidak mau menerima (wawancara) media asing”.

Reporter : “Anda hanya menyampaikan sebuah fakta bahwa perlakuan brutal yang diterima oleh anak-anak Ini adalah kejadian yang normal, Apakah sistem tidak menutupi fakta ?”

Wang Hua : “Mungkin Anda sudah terbiasa hidup di luar negeri, bebas berbicara. Bagaimanapun, kita masih hidup di negara ini …. Jika suatu negara sudah stabil, rakyatnya stabil, suatu negara belum stabil, yang paling menderita adalah rakyatnya”.

Reporter : “Menurut Anda, apa faktor yang menyebabkan negara menjadi tidak stabil ? Jika anak Anda tidak menderita / menjadi korban seperti ini, siapa yang akan mengajukan tuntutan ?”

Wang Hua : “Jika kejadian tidak menimpah putra saya. saya tetap akan melakukan posting melalui internet, tetapi, yang menanggapi tuntutan nantinya adalah Biro Keamanan dan Ketertiban Publik”.

Reporter : “Nah jika begitu, siapa sebenarnya yang menciptakan faktor tidak stabil ?”

Wang Hua : “Apa yang ingin Anda tanyakan, saya jelaskan secara singkat saja”

Reporter : “Saya ingin tahu apa yang terjadi ketika putra Anda menerima vaksinasi ? Bagaimana kondisinya sekarang ?”

Wang Hua : “Putra saya yang pada waktu itu berusia 7 bulan menerima vaksinasi untuk mencegah penyakit Hepatitis B, DPT. Ia mengalami demam tinggi setelah disuntik, lalu timbul ruam kulit, pembengkakan tungkai, sampai organ-organ internal dan otaknya ikut terinfeksi. Sampai sekarang ia masih dalam tahap perawatan meskipun 3 tahun sudah berlalu”

Kami nyaris tidak bekerja selama 3 tahun ini, hanya membawa anak mondar-mandir dari rumah ke rumah sakit. Kami sudah menghabiskan biaya buat perawatan di rumah sakit, transpor, makan, penginapan di kota lain paling sedikit 1 juta Renminbi.

Di masa lalu, negara tidak memberikan kompensasi. Tetapi pada tahun 2017 setelah ahli medis membuktikan bahwa itu sebagai akibat reaksi abnormal dari vaksin, maka tahun ini biaya perawatan pasien bisa mendapatkan penggantiannya.

Pemerintah Shandong memberikan laporan penilaian yang mengidentifikasi respons abnormal vaksin. Bagaimana pun kita bisa mendapatkan sertifikasi ini lebih baik daripada mereka yang tidak mendapatkan sertifikasi, karena paling tidak bisa mendapatkan ganti rugi atas biaya perawatan anak.

Sekarang anak mengalami gagal fungsi tulang rawan artikular siku kanan, dan sendi lutut kiri bengkak, seperti radang sendi. Anak saya masih termasuk yang beruntung karena beberapa anak mengalami kelumpuhan otak, dan kondisi vegetatif persisten.

Vaksin yang disuntikkan berasal dari produsen yang sama (Changchun Changsheng), tetapi bukan batch yang dilaporkan ini. Ini mungkin masalah dengan vaksin, dan di Jepang atau Amerika Serikat telah diberi nama “Undian Maut”.

Reporter : “Skala kecelakaan yang besar seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan negara asing. Penemuan media sudah dipaparkan yaitu kecelakaan bukan diakibatkan oleh reaksi abnormal dari vaksin sebagaimana disebutkan dalam kedokteran tetapi pabrik memproduksi vaksin palsu, itu masalahnya”.

Wang Hua : “Saya tidak peduli seberapa banyak negara akan menghukum perusahaan Changchun, atau berapa banyak orang yang akan dihukum karena melanggar sistem kesehatan, ini tidak ada hubungannya dengan kita sebagai warga. Kami hanya peduli dengan masa depan anak saya setelah menjadi korban. Kami menyerukan kepada negara agar membangun sebuah sistem yang lengkap untuk mengurangi beban keluarga dan dengan demikian mengurangi beban masyarakat …. Kami tidak menginginkan kompensasi apapun, asalkan anak sehat walafiat.

Tampaknya Wang Hua masih ingin menyampaikan sesuatu tetapi tidak dilanjutkan, Akhirnya ia mengungkapkan harapannya agar reporter dapat menghubungi dirinya melalui WeChat atau e-mail.

Pada saat ini, telepon mulai terdengar suara berisik dan gaung besar, sehingga tidak dapat menangkap apa yang dia katakan, dan pembicaraan terpaksa diakhiri. (Sin/asr)

Share

Video Popular