Athena – Duka rakyat Yunani diwarnai dengan kemarahan pada akhir pekan ini. Tim penyelamat masih terus menyisir kawasan yang hangus dan garis pantai, hingga tiga hari setelah kebakaran hutan.

Kebakaran hutan itu berbalik dan berbelok menyapu kawasan pemukiman di wilayah Mati. Api menghancurkan kota kecil di pinggiran Athena itu, dan menewaskan sedikitnya 83 orang.

Kerabat yang putus asa muncul di televisi lokal untuk memohon keterbukaan informasi tentang orang-orang yang hilang. Sementara warga Mati lainnya bertanya mengapa pihak berwenang tidak mampu mencegah begitu banyak tetangga mereka terperangkap dalam kepungan api di jalan-jalan. Mereka seolah tidak menemukan jalur evakuasi yang aman, untuk pergi menghindari kobaran api yang tertiup angin kencang dari kawasan hutan menuju pemukiman.

Korban dari kebakaran paling mematikan di Yunani dalam beberapa dekade terakhir ini diperkirakan masih akan meningkat lebih lanjut. Sekitar 300 petugas pemadam kebakaran dan sukarelawan, masih terus menyisir wilayah yang sudah padam untuk mencari puluhan orang yang dilaporkan masih hilang.

Seorang wanita sedang mencari kakak laki-lakinya, yang sedang kembali pulang dari tempat kerja ketika api berkobar. “Ayah saya adalah orang terakhir yang berbicara dengannya pada Senin malam,” kata Katerina Hamilothori pada Skai TV. “Kami tidak punya berita sama sekali.”

Penyebab kebakaran masih belum jelas, dan sedang diselidiki oleh jaksa Athena yang juga meninjau cara penanganannya. Para pejabat setempat menyalahkan, angin dengan kecepatan tinggi dan tidak dapat diprediksi. Angin juga disalahkan sebagai pengacau rencana evakuasi terbaik menjadi sia-sia.

Sementara petugas pemadam kebakaran mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa hidran air di daerah itu kering kerontang. Krisis ekonomi berkepanjangan, tampaknya menjadi penyebabnya.

Satu dugaan dan teori yang sedang diteliti adalah, bahwa kobaran api dimulai dengan sengaja di tiga lokasi pada saat yang bersamaan.

Di luar layanan pemeriksa jenasah di Athena, suasananya suram menyelimuti ketika keluarga korban tiba untuk menyerahkan informasi dan sampel darah. Upaya yang diharapkan dapat membantu identifikasi korban tewas.

“Ini adalah proses yang sulit, lebih sulit daripada bencana massal lainnya yang telah kami tangani. Sebagian besar tubuh korban benar-benar hangus,” kata petugas koroner Nikolaos Kalogrias.

Sekitar 500 rumah hancur dilahap si jago merah. Brigade pemadam kebakaran mengatakan sebagian rumah-rumah dalam kondisi tertutup dan sama sekali belum diperiksa. Mereka belum bisa memastikan apakah ada korban dalam rumah-rumah yang belum diperiksa.

Pemandangan udara menunjukkan rumah dan pohon yang terbakar setelah kebakaran di kota kecil Mati, di pinggiran Athena, Yunani, pada 25 Juli 2018. (Antonis Nicolopoulos/Eurokinissi via Reuters/The Epoch Times)

Pemerintah yang dipimpin partai sayap kiri mengumumkan daftar panjang langkah-langkah bantuan, termasuk pembayaran satu kali 10.000 euro (sekitar 150 juta rupiah) dan pekerjaan di sektor publik untuk pasangan korban dan kerabat dekat. Akan tetapi bagi banyak orang, itu tidak cukup untuk meringankan rasa sakit.

“Setetes di lautan,” tulis halaman depan koran lokal, Ta Nea.

Kebakaran bermula pada hari Senin pukul 4:57 dinihari waktu setempat. Api menyebar dengan cepat melalui Kota Mati, yang terletak kurang dari 30 km di timur Athena dan sangat populer sebagai destinasi turis lokal.

Petugas pemadam kebakaran menggambarkan perubahan cepat arah angin, yang juga berhembus dengan kencang. Beberapa petugas mengatakan lapisan tebal pohon pinus dan suasana panik, menjadi kombinasi mematikan yang sangat sulit untuk dihadapi.

“Faktor utamanya adalah angin, kecepatan dan arahnya. Seharusnya sudah dipikirkan sebelumnya,” kata Direktur Yunani World Wildlife Fund (WWF), Dimitris Karavellas.

“Orang-orang ini seharusnya diperintahkan keluar (evakuasi paksa) dari daerah ini. Ini adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan mereka.”

Tim penyelamat menyisir area dan lautan mencoba menemukan apa saja yang bisa memberikan kejelasan pada korban yang hilang.

“Kami mengambil mobil kami dan turun ke laut dan masuk ke laut untuk melarikan diri, tetapi ada orang-orang yang tidak berhasil,” kata warga Mati, Agni Gantona.

“Kami masuk ke air dan tinggal di sana selama sekitar lima jam sampai perahu datang menjemput kami. Kami berada di pantai dengan sekitar 250, 300 orang.”

Salah satu korban adalah Brian O’Callaghan-Westrop, Duta Besar Irlandia untuk Athena, Orla O’Hanrahan mengatakan kepada RTE Irlandia. Penyiar mengatakan dia sedang berbulan madu. Dia dan istrinya, Zoe, yang selamat, menikah pekan lalu. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Share

Video Popular