Saat perang perdagangan AS-Tiongkok memanas, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker telah bertemu di Washington dan menandatangani perjanjian perdagangan pada 25 Juli yang dapat lebih jauh membalikkan keseimbangan terhadap kerugian Beijing.

Sesuai kesepakatan, Amerika Serikat akan menangguhkan tarif lebih lanjut pada Uni Eropa (UE), termasuk tarif 25 persen yang diusulkan untuk suku cadang otomotif Eropa, sementara UE akan membeli lebih banyak kedelai dan energi Amerika sebagai imbalannya.

Seorang pejabat Gedung Putih, berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan tersebut juga termasuk perjanjian dimana Amerika Serikat dan Uni Eropa akan bekerja untuk “mengatasi pelanggaran pasar Tiongkok” dan “mereformasi WTO [Organisasi Perdagangan Dunia] bersama.”

Sehari setelah kesepakatan tersebut, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menegaskan upaya bersama tersebut untuk melawan Tiongkok, menurut laporan terpisah Reuters.

“AS dan UE akan bersekutu dalam perang melawan Tiongkok, yang telah merusak sistem perdagangan dunia, sebenarnya,” kata Kudlow. “Presiden Juncker membuatnya sangat jelas kemarin bahwa dia bermaksud membantu kita, Presiden Trump atas masalah Tiongkok.”

Kesepakatan AS-UE tersebut adalah pukulan yang tidak dapat dilawan oleh Beijing, kata Wu Qiang, mantan pembicara di Universitas Tsinghua yang bergengsi di Tiongkok.

“Perjanjian tarif nol antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta [kemungkinan juga] antara AS dan Jepang, menandakan perkembangan yang menarik dalam pemerintahan Trump,” kata Wu dalam wawancara dengan Radio Free Asia (RFA). ). “[Trump] tidak suka dan menghindari organisasi multilateral seperti WTO. Dia lebih memilih untuk memajukan agenda diplomatiknya melalui perjanjian-perjanjian bilateral.”

Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer mengatakan pada 27 Juli bahwa dia dan menteri ekonomi Jepang Toshimitsu Motegi akan membahas perjanjian perdagangan bebas dalam 30 hari ke depan, menurut Japan Times.

Sedikit lebih dari awal dari seminggu sebelumnya, pada tanggal 17 Juli, Japan Times telah melaporkan bahwa Jepang dan Uni Eropa telah menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi, menciptakan zona perdagangan bebas yang akan menyumbang sekitar 37 persen dari perdagangan global.

Pada tanggal 12 Juli, sebelum kesepakatan perdagangan terbaru antara Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat tersebut, ekonom Tiongkok terkemuka He Qinglian berbicara dengan The Epoch Times edisi bahasa Mandari tentang keadaan perdagangan global saat ini, yang mana Trump bekerja untuk merestrukturisasi.

Dalam analisisnya, Tiongkok telah menjadi penerima manfaat terbesar dari sistem ekonomi global saat ini, karena pelanggaran berulang oleh rezim komunis terhadap peraturan WTO telah dibiarkan begitu saja. Dia juga mengatakan bahwa perusahaan Tiongkok telah mampu bersaing dengan rekan-rekan AS mereka melalui pencurian kekayaan intelektual.

Tiongkok belum benar-benar membuka pasarnya seperti yang dijanjikan 17 tahun lalu ketika bergabung dengan WTO, kata Xia Yeliang, mantan profesor ekonomi di Peking University, dalam sebuah wawancara dengan RFA.

Untuk mengilustrasikan maksudnya, Xia mengatakan bahwa permintaan-permintaan Tiongkok untuk diberikan status “ekonomi pasar” telah berulang kali ditolak karena intervensi berlebihan dari rezim komunis tersebut.

Sulit bagi Amerika Serikat untuk membujuk Tiongkok ke dalam reformasi lebih lanjut di bawah kerangka WTO saat ini, kata Xia, tetapi menciptakan mekanisme perdagangan baru dapat mengubah ini.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada 27 Juli, Xinhua menyebut perjanjian AS-UE sebagai “penghentian sementara” daripada “gencatan senjata” resmi. Artikel itu mendeskripsikan Trump sebagai “perampok agresif yang melakukan pemaksaan untuk masuk” dan mendesak Uni Eropa untuk bertahan di hadapan “gertakan Amerika.”

Zheng Yongnian, seorang profesor dari East Asian Institute di National University of Singapore, memberikan wawancara dengan corong rezim, Harian rakya, mengatakan bahwa perkembangan terkini dalam perdagangan global tidak terduga. Komentarnya muncul di sebuah artikel yang dipasang di laman WeChat media.

Zheng mengatakan bahwa Tiongkok tidak pernah sebanding untuk Amerika Serikat, karena Tiongkok masih tertinggal jauh dalam hal militer, PDB, dan pengembangan teknologi. Untuk Tiongkok dapat mengundang investasi asing dan menjadi kompetitif, negara ini tidak punya pilihan selain melaksanakan reformasi, misalnya, dengan melindungi hak kekayaan intelektual.

Wang Chong, seorang peneliti dan wakil sekretaris umum Chahar Institute, sebuah lembaga think tank nonpemerintah Tiongkok yang berbasis di Provinsi Hebei Tiongkok utara, mengatakan perjanjian AS-UE tersebut telah “benar-benar menyisihkan WTO dan aturan perdagangan dunia akan ditulis ulang.”

Memanfaatkan pasar gabungan besar-besaran mereka, kata Wang, Amerika Serikat, UE, dan Jepang dapat secara efektif menjadi dewan direksi dalam ekonomi dunia yang tertata kembali. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular