Erabaru.net. Sejumlah ibu-ibu beramai-ramai menggoreng telur mata sapi di tengah melonjaknya harga telur di pasaran. Tak tanggung-tanggung, para ibu rumah tangga ini menyajikan sekitar 500 butir telur untuk disantap bersama-sama.

Apa yang dilakukan oleh para ibu-ibu ini sebagai kritik murahnya harga rokok. Apalagi jika dikaitkan dengan segala dampak kesehatan. Bahkan laporan BPS terakhir menyebutkan rokok menjadi penyumbang angka kemiskinan di Indonesia.

Acara ini digelar sebagai rangka memperingati Hari Anak Nasional 2018 yang diprakarsai oleh Yayasan Lentera Anak bersama ibu-ibu warga Cibesut Cipinang Besar Utara di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak Cipinang Besar Utara (Cibesut), Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (26/07/2018).

Sebanyak 500 telur tersebut disajikan dalam bentuk tulisan #RokokHarusMahal pada kegiatan Festival Telur VS Rokok, yang bertemakan“Penuhi Nutrisi Anak, Lindungi dari Nikotin, Cegah Stunting”. 

Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia termasuk harga rokoknya lebih rendah.

para ibu rumah tangga ini menyajikan sekitar 500 butir telur untuk disantap bersama-sama, Minggu 29 Juli 2018 (Foto : Yayasan Lentera Anak)

Bahkan Peraturan Menteri Keuangan 2017 (PMK 2017) tidak membuat harga rokok menjadi mahal. Hanya bermodalkan uang jajan Rp 1.000 atau Rp 2.000, rokok pun bisa diperoleh oleh anak-anak.

Program Officer Yayasan Lentera Anak,  Iman Zein mengatakan setiap tahun cukai rokok selalu naik, tapi tidak pernah berhasil membatasi keterjangkauan anak dan keluarga miskin terhadap rokok, mereka masih sanggup membeli rokok.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya bersama warga Cibesut Cipinang Utara Jakarta Timur menyelenggarakan Festival Telur vs Rokok, untuk membangun dukungan masyarakat agar harga dijual dengan harga tinggi serta lebih mempertimbangkan makanan berprotein tinggi.

“Rokok harus mahal dan meningkatkan kesadaran untuk mengutamakan pemenuhan nutrisi anak daripada membeli rokok,”tambahnya.

Rokok diminta dijual mahal (Foto : Yayasan Lentera Anak)

Data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang menyatakan bahwa di perkotaan dan di pedesaan, pengeluaran masyarakat untuk membeli rokok adalah 3,2 lebih besar daripada untuk telur dan susu. Artinya keluarga miskin lebih mengutamakan rokok ketimbang makanan bergizi. 

Lebih parah lagi, konsumsi rokok yang lebih banyak daripada untuk telur dan susu, akan  berdampak kepada tidak terpenuhinya nutrisi anak dan berujung kepada fenomena anak stunting.

Menurut Penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang merokok cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular