oleh Shi Ping- Epochtimes.com

Erabaru.net. Pada sore hari tanggal 28 Juli 2018, lampu-lampu dalam sebuah gedung bioskop di Manhattan, New York, Amerika Serikat berangsur dinyalakan kembali saat layar masih menayangkan deretan nama orang yang terlibat dalam pembuatan film ‘Letter From Masanjia’.

Namun, sebagian penonton masih tetap terdiam di bangku, ada yang menyeka air matanya, dan ada pula yang menatap ke arah jauh dengan ingatan yang mungkin belum dapat ditarik kembali dari adegan-adegan film yang telah usai diputar….

Film ‘Letter From Masanjia’ baru selesai diputar. kejadian yang dialami protagonis dalam film tersebut mengguncang hati para penonton. keberanian serta keteguhan imannya mengilhami penonton. Seorang kakek etnis Tiongkok mengatakan : “Saya berharap semua orang bisa menonton film tersebut”.

Film tersebut mengisahkan, pada tahun 2012 seorang wanita Amerika menemukan sepucuk surat terselip dalam kotak dekorasi Halloween buatan Tiongkok. Surat itu berisikan minta bantuan dari seorang yang ditahan dalam kamp kerja paksa Masanjia, Tiongkok. Wanita tersebut kemudian menyerahkan surat itu kepada media, yang akhirnya menggemparkan dunia setelah dipublikasikan.

Beberapa tahun kemudian, penulis surat itu muncul dan mengungkap kisah mendebarkan hati di balik catatan itu.

Protagonis film ‘Letter From Masanjia’ Sun Yi (kanan) terbang dari Indonesia ke Amerika khusus untuk menemui Julie Keith (kiri) yang menemukan surat permintaan bantuan dalam kotak dekorasi Halloween yang dibeli. (Adegan film ‘Letter From Masanjia’)

Ini adalah sebuah catatan historis yang didapat dari mempertaruhkan nyawa seorang protagonis dalam film tersebut. serta deskripsi dari keluhan tentang bagaimana rakyat jelata menderita akibat penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Ada penonton yang memberikan komentar : Film tersebut telah mengubah sikapnya dalam memandang kehidupan, juga akan mengubah dunia.

Ghina Al-Shdaifat : “Saya sangat terharu, sungguh, terharu sampai tak mampu berkata-kata. Luar biasa menakjubkan. Waktu yang saya lewati di sini tidak sia-sia. Ini bukan sembarang film, tidak saja film dengan kisah yang nyata, tetapi protagonis dalam film adalah orang yang mengalami langsung. Dia berada di sana, membuat saya meneteskan air mata. Film tersebut telah memberikan banyak pemahaman, banyak hal buat saya …”

Ghina Al-Shdaifat, penonton film ‘Letter From Masanjia’. (Shi Ping/Epoch Times)

“Ia mengubah hidup saya, mengubah sikap pandangan saya terhadap dunia, cara saya memperlakukan orang lain, seperti yang dikatakan Julie dalam film itu, saya tak dapat hanya mengandalkan egois saya dan saya menyadari bahwa, sepucuk surat dapat memainkan peran yang begitu luar biasa besar, cukup besar untuk mengubah dunia. Hal ini juga mendorong saya untuk berbuat lebih banyak. …… kita hidup di dunia yang sama, kita harus bersatu berjuang untuk keadilan”

Kai Yong : “Ini adalah film terbaik yang pernah saya lihat, sangat terharu terutama saat kedua mantan sipir penjara tampil untuk bersaksi di depan …… cerita ini akan saya sebarkan nanti kepada semua perwakilan saya terpilih serta teman-teman dan keluarga saya ..”

Penonton sedih saat menyaksikan film ‘Letter From Masanjia’ yang diputar pada acara Asian American International Film Festival,AAIFF ke 41.

Wang Sihan : “Film ini bukan film propaganda atau khotbah agama, tetapi terdapat cukup  banyak rincian tentang hal yang cukup melekat, membuat orang (penonton) benar-benar masuk dan melihat penganiayaan dalam hidup yang sedang alami protagonis. Ini bukan film, tetapi kisah nyata. Meskipun itu adalah urusan pribadinya, tetapi cukup untuk mengeksposkan kebrutalal PKT. Saya akan merekomendasikan film ini diputar pada gedung bioskop di daerah Flushing,  agar juga disaksikan oleh para etnis Tionghoa yang berpikiran pro-PKT”

Sutradara Li Yunxiang (kiri), pemenang Peabody Award sedang menjawab pertanyaan penonton usai pemutaran film ‘Letter From Masanjia’. (Shi Ping/Epoch Times)

“Saya merasakan hal yang sama ketika menonton film itu, hati sedih air mata berlinang. Saya berharap PKT dan rezimnya yang jahat secepatnya runtuh, demi tujuan ini saya bersedia untuk melakukan segala sesuatu.”

Edward Chen : “Saya sangat terharu, saya belum pernah mendengarkan peristiwa seperti ini dan tidak mengenal Falun Gong ketika menjadi guru di Tiongkok. Tidak sangka Falun Gong menghadapi penyiksaan yang demikian, saya terkejut. Sulit untuk diterima oleh akal sehat, hal ini tidak semestinya terjadi, perlu diubah. praktisi Falun Gong adalah orang-orang yang paling gigih, mereka adalah tauladan bangsa Tionghoa.”

Film ‘Letter From Masanjia’ yang disutradarai oleh Li Yunxiang sedang diputar pada acara AAIFF ke 41 pada 28 Juli. (Shi Ping/Epoch Times)

Chen Jian : “Sangat tragis, sangat disayangkan orang yang begitu baik, gigih mengalami perlakuan brutal PKT. Saya berusia 91 tahun sekarang, dan saya tahu benar mengenai riwayat partai tersebut sejak ia dibentuk sampai sekarang. Saya juga ikut merasakan, kerusakan yang mereka ciptakan buat bangsa dan negara sudah terlampau serius. Kondisi hidup rakyat Tiongkok adalah yang paling memprihatinkan. Saya yakin dapat melihat sendiri kejatuhan partai tersebut sebelum ajal menjemput. Film ini perlu disaksikan oleh orang di seluruh dunia”.

Film ‘Letter From Masanjia’ akan diputar pada gedung-gedung bioskop di AS pada September mendatang. (Sin/asr)

 

Share

Video Popular