EpochTimesId – Pengadilan Turki menolak permohonan banding pendeta Amerika dalam persidangannya atas dakwaan terlibat terorisme, pada Selasa (31/7/2018) lalu. Kasus tersebut meningkatkan ancaman sanksi AS terhadap Ankara.

Hubungan antara dua negara yang bersekutu di NATO itu berputar arah menjadi krisis besar diplomatik dalam dua tahun terakhir. Terlebih setelah pengadilan menyidangkan pendeta Kristen Andrew Brunson, yang ditahan sejak 21 bulan lalu di penjara Turki.

Ketegangan diplomatik tetap meningkat meski status sang pendeta berubah menjadi tahanan rumah atas alasan kesehatan sejak pekan lalu. Sebuah langkah dari otoritas Turki, yang menurut Washington ‘tidak cukup’.

Presiden AS, Donald Trump pekan lalu bahkan mengancam untuk memaksakan ‘sanksi besar’ pada Turki. Kecuali negara itu membebaskan pendeta Brunson, yang juga didakwa membantu tokoh di balik kudeta militer yang gagal pada tahun 2016.

Brunson, yang telah tinggal di Turki selama lebih dari dua dekade, menghadapi ancaman hingga 35 tahun penjara. Tentunya jika dia terbukti bersalah atas tuduhan itu, yang sudah dia bantah.

Sidang berikutnya dijadwalkan setelah 12 Oktober 2018. Namun, pengacaranya, Ismail Cem Halavurt mengatakan dia akan terus mendesak agar Brunson dibebaskan. “Kami akan meminta tahanan rumahnya dicabut setiap bulan,” kata Halavurt kepada Reuters.

Gedung Putih belum menentukan sanksi apa yang mungkin akan dikenakan terhadap Turki. Akan tetapi anggota Kongres AS, dalam dua bagian peraturan yang menunggu persetujuan, telah mengutuk penahanan Brunson dan orang Amerika lainnya.

Satu RUU yang diusulkan akan membatasi pinjaman dari lembaga keuangan internasional kepada Turki, sampai Ankara menghentikan ‘penangkapan dan penahanan sewenang-wenang’ warga AS dan staf konsulat. Bahasa yang menyerukan pembebasan Brunson dan yang lainnya juga telah dimasukkan dalam RUU otorisasi pertahanan.

‘Turki tidak mau tunduk’
Juru bicara Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Selasa bahwa Turki tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Mereka akan membalas, jika ada sanksi dari AS.

“Tidak dapat diterima bagi AS untuk menggunakan bahasa yang mengancam terhadap Turki, menggunakan kasus pengadilan yang sedang berlangsung sebagai dalih,” kata juru bicara Ibrahim Kalin.

“Ankara memiliki hak untuk menggugat melalui arbitrase internasional jika Washington memblokir pengiriman jet F-35 ke Turki,” sambung Kalin.

Dia menambahkan bahwa Turki mengharapkan masalah itu diselesaikan melalui diplomasi. Para menteri luar negeri kedua negara akan bertemu pekan ini.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri tidak dapat mengkonfirmasi setiap pertemuan yang direncanakan antara Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, tetapi seorang pengacara menyusul kasus Brunson mengatakan kontak tingkat tinggi sedang berlangsung.

Jay Sekulow, penasihat utama dari American Center for Law and Justice, yang mewakili keluarga Brunson, mengatakan ACLJ tidak terkejut bahwa permohonan itu ditolak.

“Upaya diplomatik yang sedang berlangsung sedang berlangsung di tingkat tertinggi,” kata Sekulow.

Brunson dituduh membantu pendukung Fethullah Gulen, ulama yang berbasis di AS. Otoritas Turki menuding, Gulen mendalangi upaya kudeta gagal pada 2016 terhadap Presiden Tayyip Erdogan. Sebanyak 250 orang tewas dalam peristiwa itu.

Dia juga dituduh mendukung militan Kurdi, organisasi yang dilarang oleh Turki.

Penahanan Brunson telah memperdalam keretakan antara Washington dan Ankara, yang juga bertentangan dalam menyikapi perang Suriah. Rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan rudal dari Rusia, dan sanksi AS yang direncanakan terhadap Iran yang memasok bahan bakar ke Turki, juga menjadi pemicu keretakan diplomatik. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular