oleh Zhang Dun

Sekembali dari lawatan 10 hari ke Uni Emirat Arab, Senegal, Rwanda, Afrika Selatan dan Mauritius (19 – 28 Juli), Presiden Xi Jinping mempimpin pertemuan Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 31 Juli untuk membahas 2 isu penting yakni ekonomi Tiongkok dan ‘disiplin’ dari sejumlah pejabat PKT.

Pertemuan membahas isu ekonomi Tiongkok yang kini sedang menghadapi tantangan baru atas perubahan signifikan dari lingkungan eksternal.

Pertemuan juga menekankan soal ‘disiplin’ dari sejumlah pejabat PKT.  Para pejabat PKT diminta untuk mempertahankan status Xi sebagai inti kepemimpinan demi membela kepentingan otoritas.

Shi Shi, komentator politik mengatakan, pertemuan biro hari itu hanya membahas 2 isu ‘panas’ yakni tantangan yang dihadapi oleh ekonomi Tiongkok akibat perang dagang dengan AS dan tantangan yang dihadapi otoritas karena ‘disiplin’ pejabat PKT.

Sejak 6 Juli Amerika Serikat memberlakukan kenaikan tarif hukuman 25 % atas komoditas impor Tiongkok senilai USD. 34 miliar (selain itu masih ada USD. 16 miliar yang akan menyusul), perang dagang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, tetapi tren peningkatannya lebih kentara. Presiden Trump berulang kali menekankan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengenakan semua komoditas impor dari Tiongkok yang nilainya mencapai USD. 500 miliar.

Pada saat yang sama, Uni Eropa juga menolak ajakan PKT untuk bersama-sama melawan AS. Menurut penasihat ekonomi utama Gedung Putih Larry Kudlow bahwa Juncker, Presiden Komisi Eropa berjanji kepada Trump, Uni Eropa akan bergandengan tangan dengan Amerika Serikat untuk menangani praktek-praktek perdagangan yang tidak adil dari PKT, termasuk hambatan perdagangan dan pencurian kekayaan intelektual.

Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan PDB Tiongkok digantungkan pada investasi, konsumsi dan ekspor bersih, ketiga kereta tersebut. Namun, porsi investasi dan konsumsi telah menunjukkan penurunan yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.

Dunia luar menduga bahwa ekspor bersih Tiongkok juga akan terancam oleh perang dagang dengan AS yang sedang berkobar. Jadi krisis ekonomi Tiongkok sudah diambang pintu.

Shi Shi mengatakan, pertemuan politbiro kali ini kembali menekankan pentingnya mempertahankan status Xi sebagai inti kepemimpinan menunjukkan bahwa beberapa pejabat PKT sudah tidak sehati lagi dengan Xi Jinping. Hal ini secara tidak langsung juga dapat dijadikan sebagai respon rezim atas gosip politik yang beredar luas baru-baru ini.

Menjelang Xi melakukan pelawatan 10 hari ke Uni Emirat Arab, Senegal dan seterusnya, lingkungan politik Beijing menyebarkan berita tentang rencana pertemuan Beidaihe pada awal bulan Agustus, veteran mantan pejabat senior PKT tingkat komite sentral mengajukan permintaan kepada otoritas agar diijinkan hadir di pertemuan Beidaihe untuk memberikan saran dan pendapat mengatasi kesalahan utama yang dilakukan pimpinan pusat.

Mantan Kolonel Tiongkok Luo Yu dalam wawancaranya dengan Radio Free Asia (RFA) mengatakan bahwa harga saham di bursa Tiongkok telah mengalami penurunan hampir mencapai 9 triliun Renminbi, nilai mata uangnya juga mengalami depresi, jatuh ke 6.7 dari 6.4 gara-gara perang dagang dengan AS.

Luo Yu mengatakan : “Saya pikir isu perang dagang telah dimanfaatkan sebagai topik dalam penyebaran pesan-pesan tertentu melalui internet oleh orang dari lingkungan dalam PKT. Bahan-bahan (serangan) itu mereka persiapkan untuk pertemuan Beidaihe.”

Pertemuan Beidaihe diadakan pada bulan Juli atau Agustus setiap tahunnya. Kesempatan itu biasanya digunakan oleh para pejabat senior PKT untuk berkonsultasi masalah politik dan ekonomi Tiongkok sambil berhalal-bihalal dengan para veteran mantan pejabat senior tingkat komite sentral PKT.

Namun demikian, wadah tersebut belakangan telah diubah oleh pihak berwenang menjadi tempat untuk berlibur musim panas. Meskipun demikian, masyarakat luar masih meyakini bahwa kesempatan untuk ikut campur tangan masalah politik Tiongkok tidak akan ditinggalkan begitu saja oleh para veteran yang diundang ke tempat itu. (Sin/asr)

Share

Video Popular