Strategi yang pertama kali digunakan oleh Presiden Donald Trump melawan Korea Utara saat ini sedang digunakan dalam perang dagang melawan Tiongkok dan akan membawa konsekuensi yang jauh lebih buruk bagi ekonomi Tiongkok daripada yang diperkirakan banyak orang, kata seorang pakar.

“Meskipun dia mungkin tidak mengatakannya, apa yang Presiden Trump adopsi selama perang perdagangan dengan Tiongkok adalah strategi ‘tekanan ekstrim’ yang serupa dengan yang dia gunakan pada Korea Utara,” kata analis ekonomi Qin Peng.

Menurut Qin, strategi “tekanan ekstrim” Trump yang diterapkan pada Korea Utara termasuk sanksi-sanksi ekonomi, persiapan yang ditingkatkan untuk serangan militer, membentuk aliansi, dan menekan Tiongkok untuk membatasi Korea Utara. Taktik-taktik ini telah bekerja sama untuk membawa Korea Utara kembali ke meja perundingan.

kesalahan fatal xi jinping dalam perang dagang
Seorang pekerja menangani kabel baja di sebuah pabrik baja di Nantong di Provinsi Jiangsu bagian timur Tiongkok pada 3 Juli 2018. Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok dimulai dengan pengenaan tarif pada baja dan aluminium Tiongkok. (- / AFP / Getty Images)

Dalam kasus perang dagang dengan Tiongkok, Trump memulai dengan tarif baja dan aluminium, lalu tarif barang-barang Tiongkok senilai $50 miliar, dan kemudian ancaman tarif $200 miliar dan “bersiap-siap” dengan tarif $500 miliar untuk barang-barang Tiongkok.

Trump juga mengadopsi taktik “wortel dan tongkat” (idiom yang mengacu pada kebijakan menawarkan kombinasi penghargaan dan hukuman untuk mendorong perilaku yang baik) terhadap Eropa, Kanada, Jepang, dan negara lain. Secara bertahap, aliansi internasional telah dibentuk, untuk memaksa Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyelesaikan masalah pencurian kekayaan intelektual dan perdagangan yang tidak adil.

Qin Peng mengatakan strategi “tekanan ekstrim” adalah tanggapan terhadap sikap Tiongkok. Sejak perang dagang dimulai, Tiongkok telah menuduh, menyerang, dan membalas tanpa membuat perubahan positif apapun yang diharapkan Trump.

Tiongkok juga telah membuat banyak pertimbangan-pertimbangan buruk. Misalnya, dalam putaran pertama perundingan, Tiongkok mengusulkan untuk membeli produk dan barang-barang Amerika senilai $70 miliar, tetapi tidak mengatasi ketidakseimbangan struktural perdagangan yang besar dengan Amerika Serikat ataupun tuduhan-tuduhan pencurian teknologi.

Qin mengharapkan bahwa jika tarif untuk $200 miliar barang, diikuti dengan tarif pada $500 miliar barang, dikenakan, ekonomi Tiongkok akan menderita konsekuensi yang jauh lebih mengerikan daripada banyak bank-bank investasi dan para ekonom telah memperkirakan.

“Deutsche Bank memproyeksikan penurunan 0,3 persen dari GDP Tiongkok jika tarif pada $200 milyar barang diberlakukan, sementara Morgan Stanley memprediksi dampak langsung 0,3 persen dan 0,3-0,5 persen dampak tidak langsung,” kata Qin. “Namun, saya pikir angka-angka ini terlalu konservatif, karena mereka tidak memasukkan faktor-faktor tentang kepercayaan investasi dan pasar.”

Qing menunjukkan melalui contoh tentang efek dari keyakinan positif bagaimana indeks Dow-Jones meningkat tajam segera setelah Trump mengambil alih jabatan, sebelum pemotongan pajak atau peraturan apapun yang telah dijanjikannya diberlakukan. Efek sebaliknya sekarang bisa dilihat dengan Tiongkok.

“Analis lain memproyeksikan penurunan GDP sebanyak 3 persen jika faktor lain seperti investasi asing dipertimbangkan,” kata Qin. “Saya pada dasarnya setuju dengan analisis ini. Dengan semakin dalamnya perang dagang, surplus mata uang asing struktural Tiongkok akan hilang.”

Qin percaya gelembung kredit besar Tiongkok bisa meledak. “Sejarah telah memberi tahu kami bahwa kerusakan yang disebabkan oleh masalah keuangan bisa jauh lebih besar daripada pertumbuhan GDP yang lemah.”

Menurut laporan Bloomberg pada 31 Juli, “AS dan Tiongkok mencoba untuk memulai kembali perundingan yang bertujuan untuk mencegah perang dagang penuh antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut, menurut dua orang yang akrab dengan upaya tersebut.”

kekalahan cina tiongkok dalam perang dagang
Pejalan kaki terefleksi di jendela broker dengan layar yang menunjukkan nilai tukar mata uang di Hong Kong pada 6 Juli 2018. Nilai yuan telah menurun, mengikuti pengenaan tarif AS pada barang-barang Tiongkok. (VIVEK PRAKASH / AFP / Getty Images)

Wen Zhao, seorang komentator untuk NTD, bagian dari Epoch Media Group, beranggapan bahwa pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah membuat tiga kesalahpahaman besar selama perang dagang, salah dalam menilai Trump, lingkungan internasional, dan Tiongkok sendiri.

Menurut Wen, Tiongkok mungkin berpikir bahwa Trump hanyalah seorang pengusaha tanpa prinsip yang kuat, dan dapat dengan mudah dipengaruhi oleh minat jangka pendek, termasuk minatnya dalam bisnis keluarganya. Oleh karena itu PKT mengadopsi strategi penundaan dan mengabaikan peringatan dan ketidakpuasan Trump.

Pemikiran yang salah tentang lingkungan internasional terletak pada kenyataan bahwa Tiongkok berpikir itu bisa membentuk “front persatuan” dengan Eropa untuk berperang melawan Amerika Serikat dengan memberikan beberapa kesepakatan perdagangan dan investasi. Namun, ini adalah penilaian salah yang serius, karena Tiongkok tampaknya telah melupakan apa yang telah dilakukan di Uni Eropa dalam hal mencoba menciptakan fraksi-fraksi dengan inisiatif “One Belt, One Road.”

Ia meminta dukungan politik dari negara-negara seperti Yunani dan Republik Ceko, sebagai pertukaran untuk investasi. Semua tindakan ini tidak akan luput dari perhatian para pemimpin Eropa. Bagaimana mereka akan mau mempercayai Beijing?

Yang lebih penting adalah kesalahpahaman tentang Tiongkok itu sendiri, serta kemampuannya untuk mempengaruhi dunia internasional. Kampanye propaganda baru-baru ini seperti “Amazing China” seri CCTV, rencana “Made in China 2025″, inisiatif “One Belt, One Road“, yang menurut Wen melibatkan Tiongkok “membuang” uang dalam jumlah besar, ekspansi militer, dan sebagainya telah menyebabkan dunia mulai waspada terhadap rezim Komunis tersebut.

Kesimpulannya, Wen mengatakan “jika Anda tidak mengenal diri sendiri atau lawan Anda, maka Anda akan kalah dalam perang.” (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular