oleh Luo Ya

Skandal vaksin kini merebak di Tiongkok yang menarik perhatian media internasional. Kasus terhangat, vaksin rabies dan vaksin difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) yang terjerat skandal vaksin palsu diproduksi oleh Industri Farmasi Changsheng Biotechnology.

Namun ternyata fakta-fakta di baliknya memperlihatkan skandal-skandal sungguh luar biasa. Lalu seperti apakah yang sebenarnya terjadi?

Baru-baru ini, ceramah ekonom Lang Xianping pada tema ‘Masalah yang Berada di Belakang Vaksin’ berhasil mengungkap mengenai konsekuensi dari monopoli pasar vaksin.  Tidak hanya kasus korupsinya, termasuk masalah produksi vaksin yang masih menggunakan teknologi ketinggalan selama 30 tahun atau bahkan 60 tahun, sehingga warga di seluruh Tiongkok yang harus menanggung risikonya.

Lang dalam ceramahnya mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada persaingan di antara perusahaan vaksin yang ada di Tiongkok.

Ini dikarenakan terlalu banyak sumber daya yang dikuasai pemerintah, hak untuk menggunakan vaksin berada di tangan direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tingkat provinsi. Inilah yang memutuskan pendistribusian vaksin. Apakah didistribusikan ke kota, kabupaten, rumah sakit anak-anak yang mana di propinsinya. Jadi (jika butuh vaksin) satu provinsi hanya butuh menghubungi satu orang itu.

Lang menilai bahwa karena itu korupsi tidak sulit dilakukan, mudah sekali !

Lang mengambil vaksin hepatitis B. sebagai contoh, mengatakan bahwa di Tiongkok ada 4 buah perusahaan produsen vaksin yang membagi wilayah pasar Tiongkok di antara mereka sendiri. Mereka membentuk situasi monopoli di daerah ‘kekuasaan’ mereka.

Baru-baru ini, ceramah ekonom Lang Xianping pada tema Masalah yang Berada di Belakang Vaksin berhasil mengungkap mengenai konsekuensi dari monopoli pasar vaksin. (Video screenshot)

Lang Xianping mempresentasikan gambar wilayah kekuasaan ke empat produsen tersebut, Warna kuning mewakili perusahaan BioKangtai, warna biru mewakili perusahaan Tiantanbio, warna hijau mewakili perusahaan Hanxin dan ungu mewakili perusahaan North China Pharmaceutical.

Dia mengatakan bahwa monopoli membuat perusahaan pengembangan vaksin tidak memiliki insentif untuk meningkatkan kualitas, juga tidak perlu menghabiskan lebih banyak biaya penelitian untuk kesehatan bayi yang baru lahir atau masyarakat umum.

Lang mencontohkan ucapan direktur CDC Wang Yu mengungkapkan kisah dalam pengembangan vaksin, bahwa akan diungkapkan pengembangan vaksin insider: “Saat ini, teknologi baru untuk mengembangkan vaksin bukannya tidak ada, dan telah digunakan secara internasional. Namun, karena Tiongkok tidak memiliki kebijakan dan sistem untuk mempromosikan penerapan teknologi baru, jadi pemberharuan teknologi produksi vaksin di Tiongkok berjalan sangat lambat, bahkan tidak ada sama sekali. Ia tetap menggunakan teknologi produksi 30 tahun yang lalu.”

Lang Xianping sependapat dengan ucapan Wang Yu, wakil direktur Departemen Imunologi, Universitas Peking  yang menegaskan bahwa monopoli menyebabkan industri vaksin tidak maju.

“Apa yang Wang Yu katakan itu masih dianggap sopan atau sopan, mungkin lebih dari 30 tahun. Banyak vaksin masih menggunakan teknologi tahun 1960-an. Misalnya, vaksin kelas A, kita masih menggunakan vaksin yang dilemahkan.”

Dia mengatakan: “Sebagai contoh, vaksin polio massa, BCG, campak, ensefalitis, dan lain-lain, ke negara-negara lain belasan tahun silam  telah sepenuhnya menggunakan vaksin yang tidak aktif, karena penggunaan vaksin tidak aktif lebih aman. Jika kita dapat meningkatkan dan mengurangi toksisitasnya, kita dapat menghindari sejumlah tragedi yang tidak perlu terjadi setiap tahunnya.”

Sebagai contoh, katanya, BCG pertama, “Tiongkok menggunakan vaksin hidup yang sangat beracun yang dilemahkan, sedangkan Hongkong menggunakan vaksin inaktif yang sangat progresif, dan Amerika Serikat tidak menggunakan BCG sama sekali.”

Kedua, polio, Tiongkok masih menggunakan vaksin hidup yang sangat beracun, sementara Hongkong dan Amerika Serikat menggunakan vaksin tidak aktif yang sangat canggih .

Dia kemudian bertanya : “Mengapa kita memilih vaksinasi mundur ini ? Ini karena pusat pengendalian penyakit Tiongkok di 31 provinsi dan daerah otonom memiliki sumber daya yang terlalu banyak dan belum diserahkan ke pasar.”

Saat ini, insiden vaksin palsu telah menimbulkan keprihatinan sosial yang kuat, dan video program Lang Xianping juga telah menarik perhatian dan diskusi media sosial. Beberapa warganet mengatakan bahwa setelah video Lang Xianping dipostingkan di WeChat, akun WeChat sendiri sudah sulit dibuka.

Saat ini, PKT menghalangi penyebaran berita tentang vaksin palsu. Setelah orang media daratan Liu Hu memaparkan pesanan Departemen Propaganda Pusat, akun Weibo-nya benar-benar diblokir.

Sekretaris Zhao Ziyang menerima wawancara Epoch Times (The Epoch Times)

Sekretaris mantan Ketua Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhao Ziyang, BaoTong saat menerima wawancara Epoch Times mengatakan : “PKT harus bertanggung jawab terhadap masalah vaksin, menjadi terdakwa dari kejadian ini semua, karena PKT menekankan : Partai sebagai pemimpin bagi segalanya.”

Lang juga secara terbuka mengimbau : “Sejak memasuki abad ke- 21 insiden vaksin palsu muncul setiap tahun, terjadi di sejumlah daerah Tiongkok, tetapi masalah itu selalu ditutup-tutupi, masyarakat ditipu, dipermainkan dan diredakan. Mengapa bisa begini, sebab hal itu membuat malu negara. Tetapi apakah itu akan dizinkan untuk terus berlanjut di kemudian hari? (Sin/asr)

Share

Video Popular