oleh Wen Pu

Erabaru.net. Pemerintah daerah provinsi Jiangxi, Tiongkok mengirim petugas untuk mengambil paksa peti mati dari rumah-rumah penduduk. Ratusan peti mati yang dirampas itu dibawa ke suatu lokasi penampungan untuk dihancurkan dengan eskavator.

Adegan operasi pembersihan layaknya ‘bandit masuk kampung’ sebagaimana yang dilukiskan oleh media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang terjadi di kota Ji’an, Yichun di provinsi Jiangxi, media itu, Renmin Rebao bahkan menyebut bahwa pejabat yang melaksanakan perampasan itu adalah pejabat PKT.  Kata media corong PKT itu, eksekusi dilakukan demi kepentingan pemerintah. Namun, artikel-artikel yang berkaitan dengan peristiwa sudah dihilangkan dari situs Renmin Rebao.

Selama ribuan tahun bangsa Tionghoa memiliki tradisi ‘Daun gugur tak jauh dari akar pohonnya, kembali ke bumi menemui kedamaian’.

Di banyak pedesaan, penduduk tua setelah mencapai 60 tahun dalam kondisi sehat, biasanya akan menyediakan peti untuk menyimpan jenasah mereka sendiri setelah wafat kelak.

Peti-peti mati yang masih kosong itu umumnya diletakan di dalam ruang tempat sembahyang leluhur atau di kusen atap rumah mereka. Karena peti mati memiliki definisi sakral bagi keluarga, memiliki ikatan baik buruk dengan rezeki keturunan, jadi tidak boleh diperlakukan sembarangan dalam kepercayaannya.

Namun, pejabat lokal PKT memasuki ke dalam rumah-rumah untuk memeriksa apakah warga menyimpan peti mati, jika ada maka peti mati akan dibawa paksa untuk ‘dibuang’ di lokasi penampungan yang nantinya akan dihancurkan dengan eskavator.

Dari foto yang diambil warga setempat dapat dilihat bahwa peti-peti baru dan bekas yang dibuang di lokasi penampungan sudah sangat banyak dan sedang menunggu untuk dihancurkan.

Hal yang membuat warga tak habis berpikir adalah mengapa PKT harus merampas hak pribadi yang terkait dengan kepercayaan seseorang untuk dihancurkan?

Gerakan kremasi di RRT (foto internet)

Bukankah ini adalah tradisi dari nenek moyang kita bersama ? Dan hal yang membuat kemarahan warga adalah tak hanya peti mati orang hidup yang dirampas, bahkan peti mati yang berisi jenasah pun tak luput dari pengambilan paksa.

Gerakan Kremasi yang dikampanyekan pemda Jiangxi, akan diterapkan secara menyeluruh mulai 1 September 2018 pukul 00:00 tetapi fenomena gali kubur merebut (mengamankan) jenazah / kerangka jenazah antar keluarga dengan petugas sudah mulai terjadi.

Menurut laporan media Tiongkok bahwa, pada bulan Juni lalu, seorang kakek warga Yiyang County yang sudah dikebumikan, makamnya dibongkar paksa oleh pejabat lokal, peti matinya dicungkil dan jenazahnya dibawa paksa untuk dikremasi. Pemerintah setempat bahkan memuji tindakan ini, mengatakan bahwa petugas berhasil mengatasi masalah pemakaman jenazah yang melanggar ketentuan. Selama proses pembongkaran makam tersebut, ‘keluarga tidak merasa keberatan’.

Pada 1 April tahun ini, kakek warga Yiyang County bermarga Zheng yang berusia 81 tahun meninggal dunia. 10 hari kemudian jenazahnya dikebumikan oleh keluarganya sesuai tradisi Tionghoa yaitu ‘kembali ke bumi menemui kedamaian’.

Pada 17 April, pejabat PKT dengan membawa sejumlah penggali melakukan pembongkaran paksa makam sang kakek, peti mati dicungkil, jenazah dibawa paksa menuju krematorium.

Satu lagi kejadian di kota Ji’an, Jiangxi yang rekaman videonya diposting warganet menggambarkan bahwa belasan petugas berseragam menerobos masuk ke dalam ruang di rumah duka dimana jenasah seorang kakek dalam peti mati masih disemayamkan dalam ruang di mana keluarganya masih menjalani prosesi sembahyang. Petugas yang datang membuka peti jenazah secara paksa, lagi-lagi melarikan jenazah ke tempat krematorium, peti mati dirusak, keluarga dibiarkan menangis sedih.

Gerakan kremasi di RRT (foto internet)

Perlu diketahui bahwa membongkar makam leluhur merupakan pantangan yang sudah turun terumun, karena kembali ke bumi menemui kedamaian adalah budaya yang sudah dianut ribuan tahun. Tetapi di bawah peraturan menangani orang mati yang dikeluarkan PKT, tampaknya tidak lagi menjadi masalah. Budaya adalah budaya, peraturan adalah peraturan.

Sejak bulan April tahun ini, kota Shangrao, Jiangxi secara resmi menerapkan peraturan baru   tentang cara menangi jenazah dan pemakaman. Setidaknya ada 5.000 kasus kremasi jenazah atau kerangka jenazah dari penggalian makam telah terjadi dalam waktu sebulan.

Gerakan kremasi yang dilakukan dengan kekerasan di Jiangxi ini juga pernah dilakukan oleh beberapa propinsi, kota di Tiongkok puluhan tahun silam.

Kota Anqing, Provinsi Anhui pada tahun 2014 mengumumkan bahwa semua warga kota harus  dikremasi setelah kematian mereka berlaku mulai 1 Juni 2014.

Menurut Radio Free Asia, pada saat itu, dalam waktu enam bulan setelah pengumuman peraturan baru itu, 6 orang lansia melakukan bunuh diri. Hampir semua anggota keluarga mereka mengatakan bahwa orang tua yang mementingkan untuk bisa dimakamkan di tanah pilihannya sulit menerima kondisi yang merusak kepercayaan, sehingga mereka melakukan jalan pintas mengakhiri hidup mereka sebagai protes.

Dilaporkan oleh media bahwa seorang nenek berusia 88 tahun sampai melakukan 4 kali bunuh diri meskipun tertolong, ia bunuh diri karena kecewa terhadap peraturan baru. Beruntung permohonan keluarga dapat dikabulkan Komite Desa sehingga peti matinya sementara tidak disita.

Media Tiongkok melaporkan, pemda kota Anqing, sejak tahun 1994 hingga 2006 mencoba untuk mempraktikkan peraturan baru tentang pemakaman jenasah, tetapi selalu gagal karena berbagai alasan.

Gerakan Kremasi tidak berbeda dengan gerakan-gerakan PKT seperti revolusi agraria, kampanye anti-3, anti-5, pembongkaran bangunan, keluarga berencana dan lain sebagainya. Semua gerakan itu penuh dengan kekerasan dan berdarah, memicu kemarahan publik.

“Jiangxi melakukan reformasi terhadap aturan pemakaman, makam dibongkar paksa dan  jenasah atau kerangka leluhur dibawa ke krematorium !, warganet di Tiongkok marah besar lalu menulis : “Penganut iblis itu jahat ! Rumah orang hidup dibongkar paksa, Sekarang orang yang sudah mati pun masih tersiksa.” Demikian tulisan warganet bernama ‘Zhu Guangming’ di media sosial Tiongkok. (Sin/asr)

Share

Video Popular