Stockholm – Swedia akan menandatangani kontrak pembelian sistem rudal pertahanan udara Patriot dari pabrik senjata Amerika Serikat, Raytheon Co pekan ini. Radio Swedia melaporkan pada hari Rabu (1/8/2018) waktu setempat.

Meskipun bukan anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Swedia memiliki hubungan erat dengan aliansi tersebut. Mereka meningkatkan kekuatan bersenjata setelah beberapa dekade diabaikan di tengah meningkatnya kecemasan atas tindakan Rusia di Ukraina dan Krimea.

Swedia, yang sistem pertahanan udaranya tidak dapat menembak jatuh rudal balistik, akan membeli empat unit penembak/peluncur Patriot. Mereka juga sekaligus membeli sejumlah rudal yang, jumlah pastinya dirahasiakan.

“Sistem ini telah terbukti dalam aksi (operasional). Ada sejumlah negara lain yang sudah memilikinya dan kami mengharapkan pengiriman pertama pada 2021,” kata Menteri Pertahanan Swedia, Peter Hultqvist.

Kementerian Pertahanan belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar lebih lanjut pada laporan radio Swedia itu. Stockholm dikabarkan akan secara resmi menandatangani kesepakatan pada akhir pekan.

Swedia memulai pembicaraan tentang pembelian, yang awalnya bernilai sekitar 10 miliar crowns (1,14 miliar/ sekitar 14 triliun rupiah), pada November 2018 lalu.

Kontrak tersebut termasuk opsi untuk membeli hingga 300 rudal. Jumlah yang akan membawa nota tagihan akhir menjadi sekitar 3 miliar dolar AS.

Oposisi utama yang berhaluan tengah-kanan sudah mendukung rencana tersebut. Meskipun ada perbedaan pendapat tentang bagaimana membiayai kesepakatan itu.

Sejauh ini, 15 negara lain telah membeli sistem pertahanan rudal Patriot. Negara pembeli rudal penghalau rudal itu, termasuk anggota NATO seperti Jerman, Belanda, Rumania dan Polandia. Sementara Swiss yang netral mengatakan mereka sedang mempertimbangkan penggunaan Patriot di antara sistem lain, pada masa depan. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular