Pemerintah AS baru-baru ini menetapkan batasan ekspor pada 44 entitas Tiongkok yang semuanya memiliki peran besar dalam proyek infrastruktur “One Belt, One Road” Tiongkok.

Biro Keamanan Industri (BIS), sebuah instansi di dalam Departemen Perdagangan, telah menambahkan pendukung-pendukung Tiongkok (8 entitas dan 35 lembaga di bawah otoritas) ke dalam daftar kontrol ekspor pada tanggal 1 Agustus, dengan alasan kemungkinan berisiko terhadap keamanan nasional AS dan kepentingan-kepentingan kebijakan asing, menurut pengumuman yang diterbitkan dalam Daftar Federal.

Perusahaan-perusahaan dalam daftar tersebut menghadapi pembatasan ketat jika mereka ingin membeli barang-barang, perangkat lunak, teknologi, atau layanan-layanan yang memiliki penggunaan ganda militer dan sipil di bawah peraturan Administrasi Ekspor AS.

Dua perusahaan besar yang dikelola negara yang mengontrol sebagian besar lembaga di bawah otoritas telah diidentifikasi oleh BIS: China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) dan China Electronics Technology Group (CETC). CASIC berfokus pada teknologi aerospace sementara CETC adalah pembuat radar, drone, dan peralatan telekomunikasi.

Dua perusahaan lain yang memiliki hubungan dengan CASIC dan CETC juga disebutkan; China Volant Industry, anak perusahaan CASIC; dan Hebei Far East Communication System Engineering, anak perusahaan dalam sebuah lembaga penelitian di bawah CETC.

Ke-44 entitas tersebut harus mendapatkan lisensi jika mereka ingin mengekspor, mengekspor kembali, atau mentransfer barang-barang yang terdaftar di bawah peraturan ekspor federal. Ketika mengajukan permohonan untuk lisensi semacam itu, entitas-entitas ini berada di bawah kebijakan “praduga tak bersalah,” yang berarti bahwa tanpa alasan yang kuat, Amerika Serikat tidak akan memberikan lisensi.

Dalam artikel 5 Juni, The Diplomat menguraikan secara rinci bagaimana proyek One Belt, One Road (OBOR) dapat mengancam kepemimpinan Amerika Serikat yang didirikan di benua Eurasia sejak Perang Dunia II. Satu kemungkinan akibatnya adalah pasukan angkatan laut Tiongkok akan dapat bekerja dengan proyek-proyek darat di sepanjang rute tersebut, sehingga menyingkirkan pengaruh geostrategis Amerika Serikat di wilayah tersebut.

Keterlibatan CASIC di One Belt, One Road terdokumentasi dengan baik. Inisiatif ini dimulai pada tahun 2017 sebagai proyek investasi ambisius yang akan menghidupkan kembali rute perdagangan Silk Road (Jalan Sutra) kuno antara Tiongkok dan Eropa. Di bawah inisiatif tersebut, rezim akan membangun infrastruktur di sepanjang rute tersebut, mencakup negara-negara di Asia Tengah, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika.

CASIC telah mengambil proyek-proyek di banyak negara, termasuk proyek bandara self-checkout (self-service) di Hong Kong; proyek keamanan pelabuhan di Pakistan; dan proyek pengendalian listrik di Indonesia, Malaysia, Uzbekistan, dan Bhutan, menurut artikel Mei 2017 yang dipublikasikan di situs web Kementerian Perdagangan Tiongkok. Di Kenya, perusahaan tersebut membantu memperluas jaringan listrik negara. Dan di Kamerun, CASIC mengembangkan proyek pengolahan limbah.

Pada tanggal 9 Juli, Pakistan melihat peluncuran sukses dari dua satelit penginderaan jauhnya di Tiongkok, menggunakan roket yang dibuat oleh CASIC, menurut situs web Dewan Negara Tiongkok.

Sementara itu, kehadiran CETC di sepanjang rute OBOR dapat ditemukan di Mesir dan Austria. CETE Electronics Equipment Group, yang didirikan dan didirikan oleh CETC, menandatangani kemitraan dengan Akademi Riset Ilmiah dan Teknologi Mesir, untuk membangun bersama laboratorium energi terbarukan, menurut laporan Maret 2016 yang dipublikasikan di situs CETE Electronics Equipment Group.

Kemudian, pada bulan November 2016, CETC mengumumkan pembangunan sebuah perusahaan di Graz, Austria, untuk tujuan menjangkau perusahaan-perusahaan dan sekolah-sekolah di Eropa, menurut portal berita Tiongkok Sina.

Anak perusahaan CETC, Hebei Far East Communication System Engineering, melaporkan di situs webnya pada 21 Juli bahwa mereka bertanggung jawab atas pembangunan sistem komando darurat nasional di Ekuador, sistem komunikasi kereta api di Hanoi, Vietnam, dan proyek listrik di Kongo. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular