Jin Gudao

Awal tahun lalu ketika indeks mata uang AS di atas 100, beberapa kali Trump mengkritik mata uang AS terlalu kuat, dan tidak menguntungkan bagi ekspor AS. Awal tahun ini, setelah indeks mata uang AS turun di bawah 90, Trump berubah pernyataan mengatakan harus menopang AS agar menguat. Sekarang, indeks mata uang AS mengalami rebound hingga lebih dari 7% dan menjelang mendekati 95, hari Jum’at lalu (20/7) Trump kembali mengkritik dolar AS terlalu kuat.

Dari sudut pandang pasar valuta asing, Trump selalu memilih untuk beraksi saat indeks mata uang di puncak tertinggi atau terendah, pernyataannya pun langsung membuat tren berbalik arah, ketepatan penilaian Trump terhadap nilai mata uang bisa dikatakan merupakan analis mata uang yang paling akurat sepanjang tahun.

Hari Jum’at lalu setelah Trump kembali mengkritik mata uang AS terlalu kuat, indeks mata uang AS anjlok dari titik tertinggi tahun ini, sebesar 0,72% hingga menjadi 94,48, memecahkan rekor terendah dalam sehari dalam tujuh bulan terakhir.

Kali ini Trump mengkritik USD terlalu kuat latar belakangnya sangat berbeda dengan kejadian awal tahun lalu. Pada awal tahun lalu, indeks dolar AS dari angka 80 melambung tinggi hingga lebih dari 103 (naik 28%), banyak perusahaan swasta mengeluh terlalu kuatnya mata uang USD telah menggerogoti keuntungan pada laporan keuangan mereka, pada saat itu masih tidak ada masalah perang dagang AS-RRT.

Kali ini bertepatan dengan perang dagang AS-RRT akan segera menuai hasilnya, nilai tukar mata uang RMB terhadap dolar AS melemah drastis. Sejak bulan Maret lalu nilai tukar RMB terhadap USD dari 6,24 telah anjlok ke angka 6,8 pada hari Jum’at lalu, atau menurun hampir 9%, besaran penurunan ini telah sangat mendekati angka “bea masuk 10%” yang ditetapkan Trump terhadap impor produk dari RRT senilai USD 200 milyar.

Bayangkan, jika Beijing menggunakan cara pelemahan nilai kurs ibarat ‘jatuh bebas’ ini untuk menutupi kerugian akibat perang dagang ini, dan terus melakukan perang dagang yang tidak adil ini terhadap AS, apakah Trump yang cerdik itu akan berdiam diri saja?

Hari Jum’at (20/7) lalu begitu Trump melontarkan sebuah informasi penting yakni “teori penguatan USD” — berarti AS berniat untuk menekan nilai tukar mata uangnya, agar lawan dagang AS itu tidak bisa mengambil keuntungan.

Bedasarkan logika reaksi pasar beberapa kali sebelumnya, setelah Trump mengeluarkan pernyataannya itu, tidak tertutup kemungkinan indeks dolar AS akan kembali anjlok di bawah 90.

Pada saat itu tidak akan ada lagi alasan bagi RMB untuk terus melemah, jika tidak pihak AS sangat mungkin akan memberikan label “pengendali nilai tukar kurs” pada RRT dan akan memberlakukan sanksi.

Jum’at lalu Trump juga mengkritik The Fed menaikkan suku bunga terlalu tinggi yang tidak membantu justru semakin merepotkan, dalam cuitan di Twitter ia bekata: “Amerika tidak seharusnya terus menerus dihukum karena telah bertindak benar. Pengetatan (kebijakan moneter) ini tengah melukai semua yang telah kita lakukan. Pembayaran hutang di depan mata dan kita masih terus menaikkan suku bunga, benarkah?”

Walaupun dikatakan kebijakan The Fed bersifat independen, beberapa presiden AS sebelumnya selalu bersikap menghormati profesionalismenya, namun kali ini Trump jelas tidak rela membiarkan para pejabatnya menjadi “akademisi yang mencelakakan negaranya”.

Walaupun para pakar itu semua mengatakan kekuatan ekonomi AS saat ini seharusnya diimbangi dengan menaikkan suku bunga agar agak mendingin, tapi Trump telah melihat seluruh dunia hanya Amerika yang “dengan bodohnya” menaikkan suku bunga, pada akhirnya dolar AS hanya akan terus menguat, yang lebih lanjut akan melemahkan daya saing ekspor Amerika, ini akan membuat perang dagang Trump kehilangan efeknya, lawan dagang akan terus mengeruk keuntungan dari AS, inilah yang dikatakan Trump di akun Twitter-nya — “Amerika telah melakukan dengan benar tapi justru masih terus dihukum”.

Selain itu, para pejabat The Fed saat menaikkan suku bunga mungkin terlalu “egois departemen (ego sectoral)”, sehingga mengabaikan bahwa hutang negara AS telah mencapai USD 21 trilyun (304.021 triliun rupiah), dan pengurangan pajak Trump diperkirakan akan menambah beban finansial sebesar USD 1,5 trilyun (21.715 triliun rupiah) lagi.

Dengan beban finansial sebesar ini, jika The Fed terus menaikkan suku bunga, dikhawatirkan akan menjadi “musuh dalam selimut” bagi pemerintahan Trump, tidak hanya akan membuat keuangan AS semakin memburuk, kondisi terburuk adalah bursa efek AS akan kolaps karena pengetatan moneter, dan melemahkan tameng bagi Trump saat melakukan perang dagang dengan RRT.

Jum’at lalu Trump bersamaan menyatakan tidak berharap mata uang dolar AS terlalu kuat juga harus mempertahankan suku bunga yang rendah.

Fakta ini menandakan kebijakan Trump adalah terlebih dahulu memperbesar efek dari hasil perang dagang dengan RRT, sehingga mempercepat kembalinya investasi para pengusaha ke Amerika, agar perekonomian AS kembali berjalan dengan sirkulasi sehat, sampai kekuatan ekonomi dan finansial AS telah menjadi lebih kuat, baru ada kemampuan untuk mengurangi hutang, dan menaikkan suku bunga untuk membuat siklus pertumbuhan ekonomi ini agak mereda menjadi prioritas terakhir.

Dengan kata lain, pada tahapan ini The Fed yang terlalu keras, mungkin justru mengacaukan strategi yang tengah diterapkan oleh Trump. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular