Oleh Joshua Philipp

Sebuah gerakan perpecahan telah didorong melalui masyarakat, dan itu menjadi semakin jarang bagi orang-orang yang memiliki pandangan yang berlawanan untuk melakukan diskusi yang beradab. Ada waktu yang belum lama berlalu ketika sudut pandang politik teman-teman tidak begitu berarti, dan ketika menemukan perbedaan pendapat tidak akan segera mengakhiri sebuah diskusi.

Konflik-konflik yang telah muncul sebagian disebabkan oleh hilangnya wacana tradisional, dan kita sebagian besar dapat berterima kasih secara ironis pada dua konsep komunis untuk ini: sistem politik moral pernah berubah yang disebabkan oleh “kebenaran politik” dari Mao Zedong dan teori Marxis dari Mazhab Frankfurt “toleransi represif,” di mana sudut pandang yang menyimpang dari narasi politik yang telah disetujui secara resmi harus dijalani dengan intoleransi dan penindasan dengan kekerasan.

Sebagian besar ini terkait dengan peracunan dialektika tradisional, metode diskusi dan debat yang dulu memungkinkan kita menemukan kebenaran dan kesamaan dalam sudut pandang yang berlawanan. Di antara metode-metode yang paling dikenal di Barat adalah metode Socrates, di mana orang-orang dari pandangan dan pendapat yang berbeda mengajukan dan menjawab pertanyaan, dan melalui diskusi mereka dapat memperluas pemahaman mereka dan menemukan kebenaran.

Ini adalah sistem dialektika tradisional yang memungkinkan kita untuk melakukan percakapan dengan mereka yang berpikir secara berbeda dari kita, untuk berinteraksi bahkan ketika kita tidak setuju, dan untuk mempertahankan tingkat harmoni di antara orang-orang dari keyakinan yang berbeda.

Namun, dalam bentuk-bentuk debat hari ini, percakapan sering kali dengan cepat berpindah ke serangan-serangan pribadi. Topik diskusi hanya menjadi alat politik untuk menuduh orang-orang yang tidak taat mematuhi apapun isu-isu sosial yang benar dari sudut pandang politik yang telah dilekatkan pada topik itu sendiri.

Pada akar masalah ini, baik di dalam kebenaran politik maupun “toleransi represif,” keduanya adalah dialektika komunis yang dikenal sebagai materialisme dialektik.

Sementara dialektika tradisional memungkinkan pihak-pihak yang berseberangan untuk menemukan unsur harmoni, maka materialisme dialektik melakukan yang sebaliknya. Materialisme dialektik komunisme secara khusus dirancang untuk menghasilkan “perebutan/perjuangan,” menggunakan teori dialektika Hegelian bahwa “konflik menggiring pemain depan.”

Materialisme dialektis secara khusus tentang mendorong orang-orang untuk tercerai-berai. Tujuannya adalah kebalikan dari dialektika tradisional. Ia bertujuan untuk mendorong dua pihak ke dalam konflik satu sama lain dan mengubah orang saling melawan satu sama lain.

Komunisme, yang didasarkan pada perjuangan dan materialisme ateis, menggunakan metode-metode ini untuk mengembangkan perjuangan dalam semua tingkat hirarki sosial dan di semua bagian masyarakat di mana kelompok-kelompok yang berbeda berinteraksi. Komunisme ingin Anda berjuang melawan sesuatu: percaya bahwa pria harus berjuang melawan pemerintah, wanita harus berjuang melawan pria, anak-anak harus berjuang melawan keluarga dan guru mereka, dan bahwa orang-orang harus berjuang melawan langit/surga.

Ketidakarmonisan sosial ini disengaja di dalam komunisme. Bagi Karl Marx dan Friedrich Engels, yang membentuk materialisme dialektis, gagasan bahwa “konflik menggiring pemain depan” berperan dalam teori mereka tentang “evolusi” sosial. Dengan menciptakan lebih banyak perselisihan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat dengan mempertajam antagonisme antara kelompok mana pun mereka mampu, ini akan memberikan “kemajuan” dari tujuan komunisme yang lebih dalam untuk menghancurkan moralitas, budaya, dan kepercayaan.

Kita dapat melihat efek dari konsep ini dalam semua gerakan sosial berdasarkan teori perjuangan komunis yang menggunakan dialektika yang bengkok ini, atau interpretasi-interpretasinya saat ini yang memuat “kebenaran politik” atau “toleransi represif.” Dalam feminisme Marxis, kita melihat perempuan berjuang melawan laki-laki dan keluarga; dalam gerakan-gerakan sosial seperti Black Lives Matter atau Occupy, kita melihat kelompok-kelompok dari masyarakat percaya satu-satunya solusi untuk masalah mereka adalah perjuangan tanpa akhir melawan ras atau kelas lain; dan batasan tersebut terus berlanjut.

Karena “toleransi represif” mengajarkan kelompok-kelompok ini bahwa boleh menggunakan “segala cara” ketika menyerang orang lain, kita melihat seksisme (diskriminasi seksual) digunakan untuk melawan “seksisme,” kita melihat rasisme digunakan untuk melawan “rasisme,” dan kita melihat kebencian digunakan untuk melawan “kebencian.”

Tentu saja, ini tidak untuk mengatakan bahwa kesalahan tidak ada di dalam masyarakat. Namun, di luar kemampuan kita untuk berdiskusi dan berinteraksi, perbedaan penting lainnya antara kepercayaan komunis dan masyarakat tradisional adalah tentang bagaimana kita seharusnya mengatasi masalah-masalah kita.

Dialektika tradisional mengajarkan kita untuk berdiskusi dengan damai ketika kita memiliki perbedaan pendapat, moralitas tradisional mengajarkan kita untuk melihat ke dalam diri kita sendiri saat berada dalam konflik. Bahkan ketika kita menemukan diri kita telah dipandang rendah oleh orang lain, moralitas tradisional mengajarkan kita agar dapat membuktikan orang lain salah dengan menunjukkan bahwa kita memiliki karakter lurus ketika menghadapi kesulitan-kesulitan.

Agama memiliki prinsip-prinsip seperti kepercayaan Kristen bahwa Anda harus “memberikan pipi yang lain” ketika dipukul pipi kiri, atau ajaran Buddhisme dan Taoisme bahwa kesulitan disebabkan oleh karma dari kesalahan masa lalu. Kepercayaan tradisional juga mengajarkan prinsip-prinsip etika sosial seperti menahan diri dan sopan-santun bahkan ketika menghadapi hal-hal yang kita anggap tidak menyenangkan.

Ada cerita rakyat dari Tiongkok kuno yang menggambarkan prinsip-prinsip ini, tentang keledai yang jatuh ke dalam sumur. Sangat simbolis tentang berapa banyak masyarakat tradisional yang menghadapi kesulitan.

Dalam cerita tersebut, seekor keledai jatuh ke dalam sumur, dan si petani tidak yakin apa yang harus dilakukan. Keledai menangis dan membuat suara-suara yang mengerikan, dan petani, menyadari bahwa dia tidak bisa mengeluarkan keledai dan bahwa sumur tersebut juga akan menjadi tidak dapat digunakan, sampai pada keputusan yang sulit tersebut bahwa dia mungkin dengan cara memberi manfaat mengisinya dengan tanah, mengubur keledai dalam proses tersebut.

Cerita berlanjut, mengisahkan bahwa ketika petani mulai menuangkan bersekop-sekop tanah ke dalam sumur, jeritan keledai menjadi semakin mengerikan. Namun setelah beberapa saat, tangisannya berhenti. Petani tersebut kemudian melihat ke dalam sumur dan melihat keledai sedang berdiri di atas tanah.

Melihat ini, petani mengambil sekopan-sekopan lain yang penuh tanah dan membuangnya ke dalam sumur. Keledai itu mengebaskan kotoran, lalu melangkah untuk berdiri di atas tumpukan tanah yang makin tinggi. Petani melakukan ini berulang kali, dan keledai itu berulang kali mengebaskan kotoran dan melangkah, sampai akhirnya sampai ke puncak dan terbebaskan dari sumur.

Kisah ini merupakan simbol kepercayaan tradisional tentang bagaimana kesulitan dapat membantu kita untuk meningkat: Kita dapat dikubur oleh mereka, atau kita dapat menggunakannya untuk meningkatkan diri kita sendiri.

Ini adalah bagaimana agama dan budaya tradisional berbeda dari komunisme. Agama memberi tahu Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri dan prinsip-prinsip yang lebih luhur. Tradisi memberitahu Anda untuk menahan diri dan berdiskusi. Komunisme memberi tahu Anda untuk melihat keluar diri, menyalahkan arah orang lain, dan berjuang tanpa henti. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds