Erabaru.net. Bantuan terhadap korban yang terdampak akibat gempa 7 SR di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan termasuk pengiriman logistik dan penanganan korban tertimpa bangunan hingga kini, Senin (06/08/2018).  

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan penanganan gempa di NTB terkendala beberapa hal yaitu terbatasnya alat berat, luasnya daerah yang terdampak, listrik pada di Lombok Utara dan Lombok Timur.

Selain itu, kata Sutopo, kendala lainnya saluran komunikasi mati, rusaknya jembatan seperti di tiga tempat yaitu jembatan Tampes, jembatan Lokok Tampes dan jembatan Luk yang menyebabkan aksesibilitas terganggu, terbatasnya ketersediaan logistik dan lainnya.

Menurut Sutopo, upaya penanganan terhadap dampak gempa masih terus dilakukan. Masa tanggap darurat penanganan dampak gempa telah diperpanjang hingga 11/8/2018 baik di Provinsi NTB, Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur.

Seorang wanita berjalan melewati puing-puing dari dinding yang runtuh setelah gempa kuat di Dusun Lendang Bajur, pulau Lombok, NTB 6 Agustus 2018 di foto ini diambil oleh Antara Foto. (Antara Foto / Ahmad Subaidi / via Reuters/The Epochtimes)

Sutopo menjelaskan, tambahan personil dan logistik terus dikirimkan diantaranya BNPB mengirimkan 21 ton bantuan logistik dan peralatan melalui cargo.  2 helikopter BNPB diperbantukan untuk penanganan darurat.

Selain BNPB, kata Sutopo, TNI memberangkatkan 3 pesawat Hercules C-130 untuk mengirim satgas kesehatan dengan membawa obat-obatan, logitik, tenda, dan alat komunikasi. Bahkan, KRI dr Suharso diberangkatkan dari Surabaya ke Lombok untuk dukungan kapal rumah sakit.

Baca Juga : Korban Gempa di Lombok Bertambah, 91 Orang Meninggal Dunia dan 209 Orang Terluka

Penanganan dari Basarnas dengan mengirimkan personil, helikopter, kapal dan peralatan untuk menambah kekuatan operasi SAR. Sedangkan Polri mengirimkan personil, tenaga medis dan obat-obatan dan 2 helikopter.

Adapun Kementerian Pariwisata mengaktivasi Tim Crisis Center untuk memantau kondisi wisatawan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggerakkan alat berat, menambah air bersih dan sanitasi. Kementerian/Lembaga dan NGO mengirimkan personil dan bantuan.

Lebih jauh Sutopo menjelaskan sejumlah bantuan masih diperlukan oleh para pengungsi untuk memenuhui kebutuhan mereka selama di pengungsian. Kebutuhan ini termasuk pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah permakanan khususnya makanan siap saji, air mineral, air bersih, tenda, terpal, tikar, selimut, pakaian, makanan penambah gisi, layanan trauma healing, dapur umum, obat-obatan, pelayanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya untuk pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi,” kata Sutopo. (asr)

Share

Video Popular