Washington – NASA sedang bersiap untuk mengirim stelit (Probe) yang jauh lebih mendekat ke Matahari, atau ‘Touch the Sun’. Satelit itu akan lebih mendekat ke Matahari daripada pesawat luar angkasa sebelumnya yang menantang panas guna memperbesar korona matahari.

Misi tersebut bertujuan mempelajari bagian terluar atmosfer bintang Bima Sakti yang menimbulkan badai matahari.

Satelit itu diberi nama Parker Solar Probe dan dijadwalkan lepas landas pada 11 Agustus 2018 mendatang. Pesawat ruang angkasa robot (tanpa awak) seukuran mobil kecil itu, dijadwalkan akan diluncurkan dari Cape Canaveral di Florida, AS.

Misi yang direncanakan sejak tujuh tahun lalu ini, diatur untuk terbang menuju korona Matahari yang berjarak 3,8 juta mil (sekitar 6,1 juta km) dari permukaan matahari. Jarak itu tujuh kali lebih dekat daripada satelit atau pesawat ruang angkasa lainnya.

“Kami akan sangat, sangat dekat. Kita akan benar-benar menyentuh partikel matahari,” kata Ilmuwan Planet NASA, Geronimo Villanueva pada hari Kamis (2/8/2018).

Misi terdekat sebelumnya ke Matahari adalah satelit yang disebut Helios 2. Pesawat tanpa awak itu dikirim pada tahun 1976, mendekati matahari dalam jarak 27 juta mil (43 juta km). Sebagai perbandingan, jarak rata-rata dari Matahari menuju Bumi adalah 93 juta mil (150 juta km).

Korona menimbulkan badai (angin) matahari, aliran partikel bermuatan terus menerus yang menembus tata surya. Angin matahari yang tidak dapat diprediksi menyebabkan gangguan di medan magnet planet Bumi, dan dapat merusak teknologi komunikasi di Bumi. NASA berharap temuan ini akan memungkinkan para ilmuwan untuk meramalkan perubahan dalam lingkungan ruang angkasa Bumi.

“Ketika badai besar terjadi di matahari, mereka mungkin membunuh, Anda tahu, satelit atau jaringan listrik di sini, di planet kita sendiri. Untuk memahami bagaimana proses itu terjadi, berapa lama waktu yang dibutuhkan, ketika kita harus dilindungi dari itu. Ini adalah hal utama yang (akan) kita jawab dengan misi ini,” kata Villanueva.

Proyek ini dibanderol dengan harga 1,5 miliar dolar AS atau sekitar 21 triliun rupiah. Ini adalah misi besar pertama di bawah program ‘Living With a Star’ dari NASA.

Satelit ini diatur untuk menggunakan tujuh ‘flybys Venus’ selama hampir tujuh tahun untuk terus mengurangi orbitnya mengelilingi Matahari. Menggunakan instrumen yang dirancang untuk merekam foto badai matahari dan mempelajari medan listrik dan magnet, plasma koronal dan partikel energik. NASA bertujuan untuk mengumpulkan data tentang cara kerja korona yang sangat magnetis.

Probe dengan sistem ‘American solar astrophysicist Eugene Newman Parker’, harus bertahan menghadapi panas dan radiasi yang sulit. Dia dilengkapi dengan perisai panas yang dirancang untuk menjaga instrumennya pada suhu yang dapat ditoleransi dari 85 derajat Fahrenheit (29 derajat Celcius) hingga, bahkan ketika pesawat ruang angkasa menghadapi suhu yang mencapai hampir 2.500 derajat Fahrenheit (1.370 derajat Celcius) pada lintasan terdekat dengan Matahari. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular