Epochtimes.com

Erabaru.net. Dalam 20 hari sejak pertengahan bulan Juli lalu, 3 pertemuan telah dilangsungkan di 3 kota yakni Changchun, Beijing dan Chengdu, Tiongkok. Ketiga pertemuan tersebut memiliki tema bahasan yang sama, yaitu mengenai realisasi rencana sebuah proyek yang memimpin dunia pada tahun 2020.

Pada 14 Juli telah digelar Forum ke-9 Donor Organ Nasional dan Transplantasi, pertemuan memberikan data yang menyebutkan bahwa selama lima bulan tahun 2018, Tiongkok telah menyelesaikan total 2.459 kasus donasi organ.

Pada 31 Juli. Komite Kesehatan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengadakan konferensi pers, wakil direktur urusan medis  Guo Yanhong mengatakan bahwa enam bulan pertama tahun ini jumlah relawan warga Tiongkok yang secara sukarela menyumbangkan organ telah mencapai 2.999 kasus.

Pada 3 Agustus di kota Chengdu telah diadakan Konferensi Transplantasi Organ Tiongkok dan Pertemuan Tahunan ke-5 Dokter Transplantasi Organ Tiongkok, dari data yang dikeluarkan  dalam konferensi diketahui bahwa Tiongkok telah melakukan donasi organ sebanyak 18.433 kasus hingga pertengahan bulan Juli 2018.

Seperti di masa lalu, setiap kali pertemuan organ diadakan, jumlah organ yang disumbangkan naik tajam, tetapi rincian-rinciannya tidak dijelaskan oleh Palang Merah Tiongkok.

Baca juga : Klaim Reformasi Organ Tiongkok Dibantah oleh Penelitian Baru

Pada bulan Januari 2010, mantan Menteri Kesehatan mengeluarkan surat kepada Masyarakat Palang Merah Tiongkok tentang ‘Surat tentang mempercayakan Palang Merah Tiongkok untuk melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan donasi organ manusia’.

Pada 6 Juli 2012, Kantor Komisi resmi menyetujui pembentukan Pusat Manajemen Donasi Organ Manusia di bawah naungan Palang Merah Tiongkok dengan mendapat subsidi dari pemerintah pusat, tugasnya adalah untuk menerima limpahan seluruh tugas dari Kementerian Kesehatan tahun 2010.

© Minghui I Laporan Hak Asasi Manusia

Surat itu menjelaskan bahwa Palang Merah Tiongkok bertanggung jawab untuk memobilisasi donasi organ secara nasional, untuk mendaftar pekerjaan, sementara itu Palang Merah juga bertanggung jawab dalam pembentukan sistem manajemen pendaftaran donor organ manusia nasional, serta pembentukan database untuk donor organ manusia nasional dan sebagainya.

Pada saat yang sama ketika COTRS (China Organ Transplant Response System) diaktifkan, menerima tugas dari Kementerian Kesehatan, Palang Merah bertanggung jawab pada tugas sistem donasi organ, bertanggung jawab untuk menyaksikan apakah sistem medis sudah melakukan donasi organ sesuai hukum dalam kaitannya dengan perolehan organ dan pembagiannya, untuk memastikan bahwa pengadaan organ dan distribusi berjalan transparansi, adil dan dapat dilacak.

Artinya, dua tugas utama yakni donasi dan distribusi organ yang secara resmi telah dipercayakan kepada Palang Merah Tiongkok pada tahun 2010 oleh mantan Kementerian Kesehatan. Palang Merah Tiongkok kini diberi tanggung jawab penting untuk mengkoordinasi dan mengawasi kedua tugas tersebut.

Tapi selama ini data angka donasi organ dan pendistribusiannya yang dilaporkan berkala selalu menunjukkan kenaikan, meskipun iklim, pasar saham, nilai tukar, nilai inflasi senantiasa berfluktuasi, tapi angka donasi organ selalu naik, tanpa penjelasan keterangan, entah dari mana para donatur itu berasal, status dasar donatur seperti jenis kelamin, usia, geografis dan lainnya, tidak mungkin membuat orang percaya.

Zheng Shusen, Ketua Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhejiang yang memimpin konferensi di kota Chengdu pada 3 Agustus pernah mengungkapkan dalam majalah International Journal of Science edisi Februari 2017 bahwa dari artikel hasil studi timnya dalam majalah organ dalam tubuh manusia pada bulan Oktober 2016 yang kemudian dicabut menyebutkan bahwa menurut data transplantasi organ Tiongkok, hanya 1.910 kasus organ hati yang disumbangkan oleh warga Tiongkok selama tahun 2011 hingga 2014. 166 kasus berasal dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhejiang, sedangkan tim Lin Shusen menyebut angka 564 kasus dalam artikelnya jelas adalah angka yang dipalsukan.

Aktivis HAM sudah lama berkampanye untuk mengakhiri praktik kejam yang dilakukan rezim PKT, namun laporan terbaru mengklaim pengambilan paksa organ tubuh hidup masih berlangsung. (mail online)

Artikel yang ditarik itu juga membuat Wakil Menteri Kesehatan Tiongkok, Huang Jiefu mengaku datanya palsu, itu karena ia memimpin delegasi untuk menghadiri pertemuan organ di Vatikan katanya, tetapi alasan yang lebih penting dari peristiwa itu selain masalah penipuan, lebih jauh adalah masalah sumber asal organ yang tidak jelas.

Journal Liver International pernah meminta Zhenh Shusen untuk memberikan penjelasan, tetapi ia hanya menjawab secara singkat : organ yang tercantum dalam artikel itu berasal dari para donatur organ”. Ia terpaksa menjawabnya singkat karena ia tidak dapat memberikan informasi tentang donor, dia tidak bisa mendapatkan bukti tentang penggunaan organ dari para terhukum mati.

Jumlah operasi transplantasi Tiongkok yang tiba-tiba tinggi sejak tahun 1999, organ tersebut jauh di bawah angka para pidana yang dieksekusi mati. Dan sejauh sejauh ini tak satupun pihak bisa menunjukkan dari mana asal kesenjangan sumber organ donor yang besar itu.

Namun penyelidikan internasional, resolusi dari Parlemen Eropa dan Amerika Serikat semua percaya bahwa para praktisi Falun Gong dan tahanan hati nurani yang jumlahnya besar itu merupakan kelompok terbesar korban organ transplantasi yang diambil secara paksa.

Yang terungkap di ketiga konferensi itu selain mengenai angka terbaru dari kasus ‘donasi’ organ di Tiongkok, di saat yang sama juga pengungkapan sebuah rencana yang menjadi fokus publisitas adalah : Tahun 2017, Tiongkok telah menjadi peringkat kedua di dunia dalam  jumlah penyumbang organ untuk transplantasi. Diperkirakan pada tahun 2020 nanti, Tiongkok akan menjadi negara terbesar dunia dalam transplantasi organ manusia.

Partai Komunis Tiongkok sampai saat ini masih menindas Falun Gong, pengambilan paksa organ masih berlangsung secara ilegal. Hal yang digembar-gemborkan sebagai negara maju dalam masalah transplantasi organ bukanlah karena teknologi medis Tiongkok yang canggih, tetapi kengerian daripada pelaksanaan pengambilan paksa organ yang didukung oleh pemerintah Tiongkok komunis. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular