He Zhongli- Epochweekly.com

Di Thailand beredar kisah reinkarnasi seorang putri Thailand di dalam Goa Tham Luang Nang Non (Gua Besar Putri Tidur / Sleeping Beauty), bhikkhu tua Kruba Boonchum mendatangi gunung tempat putri itu tidur menyelesaikan dendam kesumat 300 tahun silam, semua remaja laki-laki itu berhasil dikeluarkan dari dalam gua. Pakar mengatakan meditasi mungkin faktor utama keberhasilan bertahan hidup para remaja dan pelatih yang terperangkap di dalam gua.

Tanggal 10 Juli 2018, 12 orang remaja dari tim kesebelasan remaja Thailand berikut satu orang pelatihnya berhasil diselamatkan dari dalam goa, sebuah aksi penyelamatan sulit tingkat dunia, aksi yang disebut “Mission Impossible” itu selesai dengan lancar, dan memenangkan aplaus dari masyarakat dunia.

Kesebelasan remaja yang bernama “Mu Pa (celeng)” ini adalah tim sepakbola dari sebuah sekolah di distrik Mae Sai propinsi Chiang Rai, Thailand (Utara). Tanggal 23 Juni sore hari, pelatih berusia 25 tahun membawa 12 orang remaja memasuki sebuah goa bawah tanah bernama Gua Besar Putri Tidur sepanjang 10 km yang terletak di perbatasan dengan Burma dalam rangka kegiatan eksplorasi, tapi akibatnya mereka semua terperangkap di dalamnya. Para remaja itu berusia antara 11 hingga 16 tahun.

Gua Tham Luang memiliki panjang 10 km, posisi terperangkapnya para remaja itu adalah 4 km dari mulut gua, jalur masuk gua ini memiliki lima titik bahaya, yang paling berbahaya adalah cabang berbentuk huruf T, yang sangat berliku dan ruang tidak lebih dari 60 cm.

Penyelaman gua dikategorikan yang tersulit, gua tempat para remaja terperangkap lebih rumit lagi. Karena genangan air sepenuhnya menutup gua, di dalam gua gelap gulita, apalagi jalan yang berliku-liku, dan dimana-mana ada batu karang yang menonjol. Dalam kondisi seperti ini, menyelam membutuhkan teknik tinggi, sekaligus juga harus memahami kondisi medan, agar bisa menghindari hambatan dan bebatuan yang tajam di tengah kegelapan.

Yang lebih menakutkan adalah, karena turun hujan, genangan air di dalam Gua Tham Luang sangat keruh, jarak pandang sangat buruk. Tim SAR sempat mendeskripsikan pekatnya genangan air dengan sebutan kopi Latte, ini adalah misi yang sangat sulit bagi penyelam profesional yang telah berpengalaman puluhan tahun sekalipun, apalagi bagi belasan remaja yang tidak terlatih menyelam bahkan tidak bisa berenang.

Setelah 18 hari terperangkap, puluhan penyelam berpengalaman dari banyak negara bersama penyelam dari Thailand sendiri, berhasil menyelamatkan 13 orang itu dari dalam goa. Misi ini dianggap rumit, berani, berbahaya dan pantas disebut “Mission Impossible” dalam kehidupan riel.

Pakar meditasi dari Stanford University mengatakan, meditasi mungkin faktor penting yang krusial untuk mempertahankan hidup para remaja dan pelatihnya di dalam gua. Foto adalah bhikkhu Thailand sedang meditasi di depan arca Buddha. (AFP)

Keseluruhan proses evakuasi itu, setiap orang remaja dibantu oleh tiga orang penyelam profesional, salah seorang penyelam di posisi terdepan membawa penerangan; setelah itu satu penyelam membawa remaja dengan tali pemandu, sekaligus membantu remaja itu membawa tabung oksigen; dan penyelam terakhir berjaga-jaga di belakang remaja itu untuk melindunginya. Agar para remaja tidak panik, setiap anak diberi obat penenang, agar tidak timbul masalah.

Keseluruhan proses, para remaja harus mengikuti tali panduan, bergerak maju mengikuti panduan penyelam. Di kelokan paling berbahaya, karena ruang terlalu sempit, penyelam pemandu terpaksa harus melepaskan tali panduan, membantu remaja menyelam seorang diri untuk menaiki posisi yang lebih tinggi, lalu mengikatkan tali panduan lagi saat tiba di lorong yang lebih luas.

Dalam proses penyelaman di gua, bahaya selalu mengintai, sedikit kelalaian akan berakibat kecelakaan. Sebelum berangkat, para remaja telah memahami keseluruhan situasi, dan bersama dengan para penyelam mereka mengetahui berbagai kondisi, untuk memastikan keberhasilan evakuasi.

Meditasi Bantu Remaja Thailand Bertahan Hidup

Setelah 18 hari terperangkap di dalam gua, terselamatkannya para remaja itu adalah keajaiban. Pakar dari Stanford University menyatakan, meditasi mungkin merupakan faktor krusial berhasil bertahan hidupnya para remaja itu.

Pelatih sepakbola bernama Ekapol Chanthawong (25 tahun) bersama 12 orang anggota timnya memasuki gua itu tanggal 23 Juni dalam rangka eksplorasi sebelum akhirnya terperangkap di dalamnya. Sembilan hari kemudian, dua orang penyelam Inggris mendapati 13 orang itu masih hidup di dalam gua. Mereka tidak menangis, hanya duduk diam bersila sambil meditasi di tengah kegelapan.

Waktu itu, Adul Sam-on (14) yang menguasai empat bahasa itu berkomunikasi dengan penyelam Inggris, ia berjasa dalam kelancaran evakuasi itu. Peristiwa ini membuat sekolah dari enam remaja di antara para korban itu memanfaatkan momentum tersebut untuk mempromosikan betapa pentingnya penguasaan bahasa Inggris, di sekolah itu digantungkan spanduk bertuliskan “Anda selamanya tidak akan tahu kapan akan membutuhkan bahasa Inggris”.

Pakar meditasi dari Stanford University bernama Leah Weiss mengatakan, meditasi mungkin adalah faktor yang vital bagi para remaja dan pelatihnya untuk bertahan hidup.

 “Bagi penganut Buddha, meditasi adalah metode utama saat mengalami penderitaan atau menghadapi bahaya.” Dia berkata, “Kurangnya udara dan makanan adalah masalah utama yang harus dihadapi para korban, meditasi sebenarnya sangat efektif untuk mengatasi kedua masalah ini.” Weiss juga menjelaskan, meditasi dapat membuat seseorang meningkatkan empati dan rasa simpatinya, juga bisa melambatkan denyut jantung, pernafasan dan metabolisme serta membuat orang menjadi tenang.

Bibi dari pelatih sepakbola Chanthawong memberitahu reporter AP bahwa Chanthawong pernah menjadi bhikkhu selama 10 tahun, ia bisa bermeditasi selama satu jam. “Meditasi pasti telah membantunya, juga membantu anak-anak lain agar tetap tenang.” Imbuhnya.

Sejumlah pengusaha paling sukses juga suka bermeditasi. Oprah Winfrey, CEO Salesforce Marc Benioff dan pendiri Thrive Global juga surat kabar Huffington Press yakni Arianna Huffington juga berkata, menjadikan meditasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari adalah kunci dari keberhasilan mereka.

Kisah Dendam Putri Thailand Dengan 13 Orang Korban

Gua Tham Luang terletak di Taman Hutan Khun Nam Nang Non di utara provinsi Chiang Rai, merupakan gua terbesar ke-4 di Thailand. “Nang Non” dalam bahasa Thailand berarti “putri tidur”. Gua Tham Luang sendiri panjang keseluruhan mencapai lebih dari 10 km, dan hingga saat ini belum ada seorang pun menyelesaikan seluruh penjelajahannya. Di mulut gua terdapat peringatan bagi warga agar tidak memasuki gua pada musim hujan dari bulan 7 hingga bulan 11.

Tanggal 29 Juni, Kruba Boonchum tiba di Gunung Putri Tidur, menyelesaikan dendam kesumat kehidupan sebelumnya Putri Thailand di Gua Tham Luang. Setelah keluar dari dalam gua ia berkata pada para kerabat, “Tidak perlu khawatir, semua anak-anak itu selamat, beberapa hari lagi mereka akan keluar.” (Getty Images)

Setelah 13 orang itu tertolong, di Thailand beredar sebuah cerita, mengisahkan dendam kesumat dari kehidupan sebelumnya antara 13 orang tersebut dengan Putri Thailand.

Menurut legenda, di Istana Jinghong milik Kerajaan Sibsongbanna ada seorang putri yang cantik, suatu hari sang putri sedang bermain di taman istana, dia jatuh hati pada seorang pemuda miskin yang memelihara kuda.

Raja ayah sang putri tidak merestui pernikahan mereka, memaksa sang putri menikahi seorang pangeran bangsawan. Sepasang sejoli itu pun melarikan diri dari Sibsongbanna dan tiba di Mae Sai di Chiang Rai, lalu putri raja itu pun mengandung. Suatu hari pemuda miskin itu pergi mencari makanan, ia tertangkap oleh para prajurit yang diutus raja untuk mencari mereka lalu dibunuh oleh para prajurit.

Setelah sekian lama menunggu sang kekasih tak kunjung pulang, putri raja kemudian mengetahui kekasih yang dicintai telah dibunuh, karena sedih dia pun mencabut jepit rambutnya dan menusuk dirinya sendiri, dari tubuhnya mengucur darah yang kemudian berubah menjadi Sungai Mae Sai, aliran darah bagian bawah tubuhnya berubah menjadi goa, sedangkan tubuhnya menjadi pegunungan yang mengitarinya, itulah Gunung Putri Tidur yang ada sekarang.

Warga setempat meyakini, roh sang putri masih bergentayangan di dalam gua itu, itu sebabnya di luar gua dibangun sebuah kuil mini. Setelah 13 orang tim sepakbola itu hilang, banyak warga setempat yang menyembahyangi arwah sang putri di sekitar lokasi kejadian dengan membawa sesajen berupa buah-buahan, penganan, telur dan air soda, berdoa bagi para korban yang hilang agar terlolos dari maut.

Tanggal 27 Juni, tepatnya 4 hari setelah menghilangnya para pemain sepakbola itu, seorang majikan pemilik rumah makan di Chiang Mai menulis artikel di situs sosial media, mengatakan bahwa putri raja yang telah meninggal lebih dari 300 tahun silam itu telah memberinya sebuah mimpi, menyuruhnya agar mencari seseorang bernama Kruba Boonchum Yannasangwalo.

Di dalam mimpi itu putri raja berkata, hanya dengan cara mencari bhikkhu Kruba Boonchum Yannasangwalo untuk bertemu dengan sang putri, maka putri raja akan membebaskan 13 orang remaja tersebut. Putri juga mengatakan dirinya telah menantikan Kruba Boonchum selama 300 tahun. Karena Kruba Boonchum adalah pemuda pemelihara kuda tersebut, yang merupakan kekasih sang putri pada kehidupan sebelumnya.

Majikan rumah makan itu mengatakan dirinya tidak pernah mendengar nama Kruba Boonchum itu, juga tak mengenal siapa dia, akhirnya dia menulis artikel tersebut di facebook, memohon orang yang bernama Kruba Boonchum itu agar datang menyelamatkan 13 orang remaja tersebut.

Putri raja mengatakan, Kruba Boonchum sebenarnya adalah orang Thailand, tapi berada di Burma. Putri raja memohon Kruba agar menemuinya, juga meminta agar Kruba kembali menetap di Lampang, Thailand. Jika Kruba memenuhi permintaannya, maka dia akan membebaskan 13 orang remaja itu.

Putri tidak hanya memberi mimpi kepada majikan rumah makan saja, di saat yang sama dia juga memberi mimpi pada Kruba. Akhirnya Kruba pun datang ke Gunung Putri Tidur.

Selain majikan rumah makan dan Kruba bermimpi bertemu Putri, banyak warga Thailand juga mengalami mimpi yang sama, mereka memimpikan orangtua dan kerabat dari 13 orang yang hilang itu, yakni orang-orang yang telah membunuh suami sang putri 300 tahun silam. Oleh sebab itu warga desa pun memohon Kruba datang, untuk menyelesaikan dendam kesumat berabad-abad silam ini.

Tanggal 29 Juni pukul 8 malam hari, Kruba Boonchum tiba di Gunung Putri Tidur. Sebelum ia tiba, langit masih sangat cerah; satu jam setelah ia tiba di sana, hujan deras pun turun. Kemudian ia masuk ke dalam gua dan melakukan ritual doa, lalu masuk jauh ke dalam gua. Dua jam kemudian, Kruba Boonchum keluar dari dalam gua. Kepada para kerabat di luar gua ia berkata, “Tidak perlu khawatir, semua anak-anak itu selamat, beberapa hari lagi mereka akan keluar.” Tapi waktu itu semua kalangan tidak berani optimis, sebab banjir di dalam gua sangat serius, kondisi sangat berbahaya.

Keesokan harinya pukul 2 sore, Kruba mengumpulkan semua pengikutnya untuk membacakan doa di depan mulut gua, memohon pada Buddha dan para Dewa juga Dewa Gunung agar menghentikan hujan, lalu memohon pada Dewa Gunung untuk membuka jalan dan melakukan ritual pembudhisan bagi putri yang telah tiada itu. Setelah tiga jam lebih, Kruba kembali ke vihara dan meneruskan membaca Paritta Buddha.

Tanggal 30 Juni saat Kruba melakukan ritual doa di mulut gua mengatakan, “Para penyelam SEAL semakin dekat dengan posisi anak-anak.” Dan benar saja, tiga hari kemudian  yakni tanggal 2 Juli tim SAR berhasil menemukan lokasi para korban berada.

Legenda yang memilukan, lingkungan yang indah, ditambah lagi berita mukjizat para remaja yang ternyata masih hidup, membuat nama Gua Tham Luang di Thailand menjadi “tersohor”. Pemerintah Thailand menyatakan, telah direncanakan untuk membuka sebuah jalan baru menuju gua itu, untuk menggerakkan industri pariwisata di distrik Mae Sai. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds