Ribuan orang yang diduga menjadi korban platform pinjaman peer-to-peer (P2P) baru-baru ini berkumpul di dekat markas besar regulator bank Tiongkok, Komisi Pengaturan Perbankan (CBRC), untuk mencari ganti rugi setelah kehilangan investasi-investasi mereka.

Pemerintah setempat mengirim sejumlah polisi – sebanyak 30.000, menurut Radio Free Asia (RFA) – untuk membubarkan para pemrotes yang berkumpul pada 6 Agustus.

P2P memungkinkan orang meminjamkan satu sama lain sambil mendapatkan suku bunga tinggi, lebih tinggi daripada yang ditawarkan oleh bank. Perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan platform P2P menghubungkan para investor yang haus akan hasil dengan individu-individu yang kekurangan uang atau usaha kecil-usaha kecil.

Namun banyak operator platform P2P yang baru saja ditutup. Beberapa perusahaan berubah menjadi penipuan. Perusahaan-perusahaan lain tidak dapat sepenuhnya mengembalikan investasi pelanggan dan sebaliknya menawarkan untuk membayar kembali uang dalam angsuran, atau dengan opsi saham, sebagai alternatif. Untuk investor yang paling tidak beruntung, beberapa perusahaan tutup tanpa penjelasan apa pun.

Lebih dari seratus bus, mengangkut puluhan ribu polisi, tiba di Beijing, menurut Voice of America (VOA), untuk menjaga daerah dekat kantor CBRC. Banyak korban P2P, termasuk dua yang berbicara dengan VOA, ditangkap dan digiring ke dalam bus sebelum mereka dapat menyuarakan keluhan-keluhan mereka.

investasi pinjaman peer to peer ala platform P2P memakan korban di cina tiongkok
Petisi P2P dikawal ke bus oleh petugas keamanan di Beijing pada 6 Agustus 2018. (Greg Baker / AFP / Getty Images)

Kehadiran polisi yang luar biasa tersebut telah memaksa pembatalan sebuah gugatan kelompok yang telah dijadwalkan.

Para korban P2P dari seluruh negeri diminta untuk protes di Beijing setelah ucapan-ucapan oleh ketua CBRC, Guo Shuqing, pada seminar keuangan di Shanghai pada tanggal 15 Juni. Menurut Xinhua yang dikelola pemerintah, Guo telah memperingatkan warga Tiongkok tentang rencana-rencana untuk menginvestasikan tabungan mereka harus berhati-hati terhadap bahaya penggalangan dana ilegal. Penabung harus bersiap untuk kehilangan semua uang mereka jika mereka meminjamkan lebih dari 10 persen suku bunga, karena kemungkinan itu adalah penipuan, kata Guo.

Ucapan-ucapan Guo ditafsirkan sebagai tanda bahwa regulator Tiongkok akan segera mulai pindah pada industri P2P yang diatur secara buruk tersebut. Secara kebetulan, hanya sehari kemudian, runtuhnya salah satu operator P2P utama negara tersebut, Tangxiaoseng yang berbasis di Shanghai, diberitakan. Banyak investor tidak dapat mengembalikan uang mereka.

Sejak itu, cerita-cerita tentang operator-operator P2P yang gagal, berhenti operasi, atau para eksekutif mereka menghilang telah bermunculan. Menurut laporan 5 Agustus oleh surat kabar bisnis Tiongkok, Yicai, lebih dari 180 operator telah melaporkan beberapa jenis masalah keuangan.

Dikejutkan oleh banyaknya platform P2P yang gagal, banyak penabung Tiongkok bergegas mengambil uang mereka, bahkan dari platform P2P yang sehat dan sedang beroperasi, sebelum deposito mereka jatuh tempo.

Setelah gagal mendapatkan bantuan dari otoritas lokal, banyak korban yang telah menempatkan tabungan mereka di platform P2P yang gagal telah memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Beijing. Sebagian besar telah pergi ke kantor-kantor dimana platform yang gagal tersebut terdaftar di ibukota, berharap bahwa mereka dapat meminta uang mereka kembali, atau ke markas CBRC, dengan tujuan mengajukan petisi pada otoritas pemerintah untuk memperbaiki masalah tersebut.

Banyak korban dibawa pergi oleh polisi di tengah malam dari tempat penginapan mereka di Beijing, menurut RFA. Di stasiun kereta cepat Shanghai, beberapa korban ditangkap bahkan sebelum mereka dapat melakukan perjalanan ke Beijing.

Wu, seorang korban yang melakukan perjalanan ke Beijing dari Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, mengatakan kepada VOA bahwa platform P2P dimana dia berinvestasi telah menerima persetujuan dari CBRC. Selain itu, CCTV yang dikelola negara juga memberitakan tentang platform tersebut, jadi dia percaya itu aman untuk berinvestasi.

Korban lain, Fang dari Provinsi Zhejiang di pantai timur Tiongkok, mengatakan kepada VOA dia telah tertipu sekitar 800.000 yuan ($116,940) dari investasinya dalam sebuah platform P2P.

Perusahaan pinjaman P2P pertama di dunia adalah Zopa, sebuah perusahaan Inggris yang didirikan pada Maret 2005. Konsep pinjaman ini kemudian muncul di Tiongkok pada tahun 2007, sebelum lepas landas pada tahun 2010. Pada tahun 2013, volume transaksi P2P di Tiongkok mencapai sekitar 105,8 miliar yuan (sekitar US$15,5 miliar), dibandingkan dengan hanya 3,1 miliar yuan (sekitar $454 juta) pada tahun 2011, menurut majalah EWS yang dikelola pemerintah Tiongkok.

Pinjaman P2P dianggap sebagai bagian dari sistem perbankan bayangan (shadow banking) Tiongkok. Menurut statistik yang dilaporkan secara luas oleh media Tiongkok, ada 50 juta pengguna P2P terdaftar di Tiongkok, dengan total 1,3 triliun yuan (sekitar $190 miliar) dalam pinjaman luar biasa.

He Qinglian, seorang ekonom Tiongkok yang terkenal, menulis dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan pada The Epoch Times edisi bahasa Mandarin bahwa sebagian besar korban P2P tersebut adalah kelas menengah atau menengah bawah, yang tidak memiliki cukup uang untuk berinvestasi dalam pasar real estat, karena harga perumahan terus meroket. Akibatnya, mereka beralih ke platform P2P, menghasilkan suku bunga dari sekitar 7 hingga 14 persen, untuk melindungi simpanan mereka terhadap nilai depresiasi yuan, menurut He. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds