Oleh Niall McCrae

Ketika saya mengunjungi Australia Natal yang lalu, saya menyaksikan dengan sekilas ketertarikan tentang peliputan terus-menerus pada pemilihan di Sydney. Berbahaya bagi Partai Liberal: Kehilangan kursi Bennelong akan menyapu bersih mayoritas tipis Perdana Menteri Malcolm Turnbull di parlemen. Baru sekarang, saat membaca buku baru Clive Hamilton yang menggelisahkan “Silent Invasion“, saya menyadari maksud-maksud sepenuhnya dari pemungutan suara tersebut.

Pemilu sela (untuk mengisi jabatan politik yang kosong) disebut setelah John Alexander, anggota Parlemen untuk Bennelong, diduga memiliki kewarganegaraan ganda, yang akan menggagalkan posisinya. Partai Buruh memasang kandidat mereka yang paling menarik, Kristina Keneally, tetapi meskipun ada promosi intensif, Alexander tetap bertahan. Namun, Sky News Australia menghilangkan sebagian besar cerita tersebut. Ironisnya, ketika aturan kebangsaan adalah untuk mencegah pengaruh asing, tekanan pemilihan oleh Partai Komunis Tiongkok hampir menggulingkan pemerintah Australia.

Selama bertahun-tahun kursi Perdana Menteri populer John Howard, Bennelong adalah daerah pinggiran yang subur di pantai utara Sydney, biasanya sebuah kubu Liberal. Tetapi demografi tersebut sedang berubah. Pendatang baru yang kaya secara terus-menerus menggantikan rumah bergaya kolonial dengan bangunan-bangunan beton dan kaca yang mudah pecah, dan sebaliknya orang Tionghoa yang menetap terintegrasi dengan baik, para pendatang yang lebih baru kebanyakan bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin.

Beijing berusaha untuk mengontrol Tionghoa perantauan dan untuk mendapatkan pengaruh politik ke mana pun ia pergi. Sumbangan-sumbangan terbesar untuk kedua partai politik utama Australia berasal dari bantuan-bantuan Tionghoa. Di Bennelong, Front Persatuan, organisasi yang didanai PKT, menyerang undang-undang campur tangan asing pemerintah sebagai bentuk “rasis”. Setelah pengerahan intensif, ayunan ke Partai Buruh lebih dari 10 persen di wilayah-wilayah yang jumlah kedatangan orang-orang Tionghoa-nya tinggi.

buku Silent Invasion Clive Hamilton ungkap invasi cina tiongkok ke negara asing
Sampul buku Clive Hamilton “Silent Invasion.” (Hardie Grant Publishing)

Hamilton, profesor etika publik di Charles Sturt University di Canberra, pada awalnya disiagakan untuk infiltrasi negara Tiongkok ketika dia menyaksikan demonstrasi pembalasan dan kekerasan yang didalangi atas sebuah protes kampus oleh para mahasiswa dalam mendukung Dalai Lama. Secara efektif, orang-orang dalam satu yurisdiksi (wilayah hukum) dilarang menggunakan hak kebebasan berbicara mereka oleh para prajurit infanteri di negara lain. Sekarang, universitas-universitas Australia telah menerima pesan dan menjauhkan diri dari pembicara-pembicara yang menentang garis Partai Komunis.

Sejak jatuhnya komunisme Soviet, PKT telah berubah dari mempromosikan universal Marxisme menjadi nasionalisme Tiongkok (lebih spesifik, Han). Mao masih dihormati, tetapi dengan aspek yang berbeda. Kampanye Pendidikan Patriotik mengajarkan anak-anak sekolah bahwa negara mereka telah dihina oleh kekuatan kolonial, Amerika Serikat dan Jepang, tetapi sekarang sedang bangkit dari korban menjadi pemenang.

Pencucian otak tidak hanya berfungsi sebagai kontrol internal tetapi juga penyensoran di luar negeri. Praktisi Falun Gong, gerakan spiritual yang mempraktekkan meditasi, dilecehkan secara terus-menerus, seperti juga reporter dan distributor The Epoch Times, sebuah surat kabar internasional yang mengekspos pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok.

Pengejaran untuk para pembangkang difasilitasi oleh teknologi digital. Aktivitas di Facebook (situs web yang diblokir di Tiongkok) dipantau, tetapi tidak berhenti di situ. Suatu kebetulan yang luar biasa pemerintah Barat telah lalai dalam memberikan kontrak-kontrak kepada perusahaan Tiongkok untuk pekerjaan sensitif seperti sistem-sistem pengawasan.

Hangzhou Hikvision, sebuah perusahaan di bawah kendali negara Tiongkok, memasok kamera-kamera CCTV canggih yang terhubung dengan internet dengan kapasitas pelacakan wajah yang dipasang di kereta api bawah tanah London Underground dan di Bandara Gatwick. Secara potensial, data tersebut dapat dikirim ke server di Tiongkok, memungkinkan agen-agen untuk melacak para ekspatriat (seseorang yang tinggal sementara atau menetap di luar negeri) yang menjengkelkan ke mana pun mereka pergi.

Dengan demikian kepanjangan lengan hukum Tiongkok meluas jauh melampaui batas-batas nasional. Seperti dikutip oleh Hamilton, “Seorang buronan ibarat layang-layang: Tubuhnya berada di luar negeri tetapi benangnya ada di Tiongkok.” Pada 2015, Dong Feng, seorang praktisi Falun Gong yang tinggal di Australia, didesak oleh agen Tiongkok untuk kembali ke Tiongkok untuk menghadapi tuduhan-tuduhan penggelapan uang. Siapa pun yang menolak untuk bermain bola dengan rezim mungkin akan diancam dengan penganiayaan terhadap anggota keluarga.

Tahun ini, The New York Times melaporkan kasus Zhuang Liehang, yang melarikan diri ke Amerika pada tahun 2014 setelah mengorganisir protes-protes yang tidak membawa hasil terhadap perampasan-perampasan tanah resmi di desanya di tepi laut, Wukan. Di apartemennya di New York, dia menerima telepon dari penjara tempat ayahnya ditahan: “Hentikan apa yang kamu lakukan. Ini akan berdampak buruk bagi keluargamu.” Meskipun Zhuang khawatir ayahnya mungkin akan dihukum melalui proksi, ia terus memposting di Facebook. Ini menyebabkan beberapa panggilan telpon lagi, sebelum ancaman mereka berhenti.

Tidak diragukan lagi, untuk kembali ke Tiongkok berisiko. Penuntutan-penuntutan oleh negara jarang menghasilkan pembebasan, dan tuduhan-tuduhan melakukan apa yang disebut kejahatan politik sulit untuk disanggah. Pernyataan bersalah yang telah diumumkan sebagai “penjahat pikiran” ditargetkan menjadi sumber organ untuk mendorong industri transplantasi yang menguntungkan rezim tersebut. Karena ginjal yang sehat dapat dijual kepada pasien-pasien kaya, para tahanan adalah aset keuangan.

Queensland telah berhenti melatih ahli bedah Tiongkok karena kekhawatiran etis tentang bagaimana mereka akan menggunakan keterampilan-keterampilan mereka. Lebih jauh lagi, Tiongkok diyakini untuk bertanggung jawab setengah dari penghitungan hukuman pelanggaran global (sekitar seribu per tahun), meskipun catatan tidak diungkapkan.

PKT memangsa para elit liberal yang naif yang begitu bersemangat untuk merayakan multikulturalisme bahwa mereka buta terhadap agenda jahatnya. Dapat dimengerti bahwa negara-negara miskin yang bergantung pada investasi Tiongkok tidak menentang dogma tentang Taiwan, Tibet, dan pangkalan militer di Laut China Selatan, tetapi tidak ada alasan bagi negara-negara demokrasi yang sudah mapan.

Pendirian orang-orang Australia menjauhkan diri menentang rezim komunis, mengabaikan kontroversi dan hanya berhubungan dengan “tokoh-tokoh masyarakat” yang mendukung Beijing. Sebuah ilustrasi kebodohan yang berbudi luhur ini adalah potret di dalam buku Hamilton, diambil di Universitas Nasional Australia (UNA) yang bergengsi, dengan tulisan ini:

“Wakil rektor Brian Schmidt mengibarkan bendera dengan mahasiswa Ph.D. bersama propagandis Liga Pemuda Komunis Tiongkok, Lei Xiying. Saat belajar di UNA, Lei menghasilkan video patriotik yang kejam, dengan musik bela diri dan barisan pasukan, yang menjadi viral di Tiongkok. Di akun media sosialnya, dia menulis tentang ‘dumb [sumpah serapah] Aussies’.”

Bendera itu, tentu saja, bukan milik Australia tetapi dari Tiongkok yang komunis. Hamilton tak terhindarkan dituduh oleh para intelektual sebagai rasisme kelas menengah, tetapi dia menulis dengan hangat tentang orang-orang Tionghoa-Australia dan kontribusi mereka kepada masyarakat, sementara para pengeritiknya secara efektif menolak kebebasan sipil untuk sesama warga.

Seperti komunitas Tionghoa yang mapan tersebut, Hamilton prihatin dengan para pendatang baru yang terpolitisasi dan eksploitasi mereka dalam upaya mengejar supremasi global. Setelah berjuang untuk menerbitkan bukunya, Hamilton menyarankan, “Para akademisi di Australia mungkin mempertimbangkan fakta bahwa buku-buku ilmiah yang kritis terhadap PKT sekarang dijauhi oleh para penerbit.” Apakah pemerintah Barat siap untuk melakukan sesuatu tentang ini? (ran)

Dr. Niall McCrae adalah dosen senior di bidang kesehatan mental di King’s College London. Dia memiliki minat dalam sejarah sosial dan telah menulis dua buku: “The Moon and Madness” (2011) dan “Echoes from the Corridors: The Story of Nursing di British Mental Hospitals” (2016). McCrae menulis secara teratur untuk Salisbury Review dan berbagai situs web politik.

ErabaruNews

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds