Bucharest – Puluhan ribu demonstran bersatu melawan rezim partai pemerintah, Demokrat Sosial (PSD) yang berkuasa di Rumania, pada Jumat (10/8/2018) akhir pekan lalu. Mereka menggelar aksi demo anti korupsi di kota-kota di seluruh Rumania dan ibukota Bucharest.

Aksi kekerasan mewarnai demonstrasi, di mana polisi anti huru hara menembakkan gas air mata dan meriam air kepada kerumunan warga. Ratusan warga terluka dan membutuhkan perawatan medis.

Protes itu diorganisir dan dipromosikan oleh kelompok-kelompok orang Rumania yang bekerja di luar negeri, atau diaspora. Mereka marah pada apa yang mereka katakan sebagai korupsi yang membudaya, upah rendah dan upaya oleh PSD untuk melemahkan peradilan di salah satu negara paling korup di Uni Eropa.

Di Bucharest, beberapa pengunjuk rasa berusaha memaksa menerobos melewati pagar betis petugas keamanan yang menjaga gedung pemerintah. Demonstran lainnya melempar botol dan batu ke polisi anti huru hara. Kelompok ‘provokator’ diduga hadir di alun-alun kota.

Saat protes berlanjut sampai malam, polisi anti huru hara menggunakan meriam air atau water canon. Mereka juga menyemprotkan gas air mata ke arah kerumunan. Rekaman video yang dipasang di media sosial menunjukkan polisi memukul peserta aksi damai yang sudah mengangkat tangan mereka sebagai tanda menyerah.

“Lebih dari 400 orang membutuhkan bantuan medis, termasuk dua polisi huru hara yang terpisah dari unit mereka. Puluhan ribu orang mengadakan protes damai di kota-kota Rumania lainnya,” kata badan intervensi darurat Rumania, ISU.

Presiden Rumania, Centrum Klaus Iohannis mengutuk penggunaan kekuatan polisi yang tidak proporsional.

“Saya dengan tegas mengutuk intervensi brutal polisi anti huru-hara, sangat tidak proporsional dengan tindakan mayoritas orang di alun-alun,” katanya di halaman Facebook-nya.

“Kementerian dalam negeri harus menjelaskan dengan segera cara mereka menangani kejadian malam ini.”

Reporter Epoch Times terkena semprotan lada dalam protes anti korupsi di Bucharest, Rumania pada 11 Agustus 2018. (Vlad Negrilă/The Epoch Times)

Protes Diaspora
Aksi kerumunan demonstran di Bucharest disemarakkan oleh para diaspora. Seorang sopir truk, Daniel Ostafi, 42 tahun, yang pindah ke Italia 15 tahun yang lalu turut dalam aksi unjuk rasa. Dia mengaku merantau mencari masa depan karena Rumania gagal menyediakan lapangan kerja.

Mihai Podut, 27 tahun, seorang pekerja konstruksi yang meninggalkan Rumania sejak tahun 2014, juga turut dalam aksi kali ini. Dia mengaku sudah merantau ke Prancis dan Jerman, untuk bekerja.

Mereka bergabung dengan puluhan ribu demonstran di luar markas besar pemerintah dalam suhu yang sangat panas. Mereka melambaikan bendera Rumania dan Uni Eropa, sambil menuntut pengunduran diri kabinet. Pesan spanduk yang dipajang pada bangunan di sekitar alun-alun bertuliskan, “Kami adalah manusia” dan “Tidak ada kekerasan”.

Diperkirakan ada 3 hingga 5 juta orang Rumania bekerja dan tinggal di luar negeri, menurut data Bank Dunia. Jumlah itu adalah seperempat dari populasi negara anggota Uni Eropa tersebut. Mereka adalah, dari buruh harian hingga dokter.

Mereka mengirim pulang devisa di bawah 5 miliar dolar AS (73 triliun rupiah lebih) tahun lalu. Bekerja ke luar negeri menjadi jalur hidup untuk masyarakat pedesaan di salah satu negara paling tidak berkembang di Uni Eropa.

“Saya pergi untuk memberi anak-anak saya kehidupan yang lebih baik, yang tidak memungkinkan di sini,” kata Ostafi.

“Sayangnya, itu masih tidak mungkin. Orang-orang yang memerintah kita tidak memenuhi syarat, dan mereka korup,” katanya.

Dia berharap pemilihan parlemen berikutnya akan melibatkan jumlah pemilih yang lebih besar.

Protes damai telah berulang kali diadakan sejak Partai Demokrat Sosial mengambil alih kekuasaan pada awal 2017. Mereka mencoba mendekriminalisasi beberapa pelanggaran korupsi.

Awal tahun ini, mereka mendorong perubahan pada kode kriminal melalui parlemen. Kebijakan yang telah menimbulkan kekhawatiran dari Komisi Eropa dan Departemen Luar Negeri AS. Perubahan tersebut masih menunggu gugatan di Mahkamah Konstitusi.

Rumania menempati peringkat sebagai salah satu negara paling korup di Uni Eropa. Pemerintahan blok negara-negara Eropa itu menempatkan sistem peradilan Rumania di bawah pengawasan khusus.

Beberapa politisi dari koalisi yang berkuasa mengolok-olok aksi anti korupsi tersebut. Politisi mengatakan mereka tidak mengerti mengapa diaspora melakukan protes.

“Hampir semua sektor publik mengalami gangguan fungsi, harus diubah sepenuhnya dan diganti dengan orang-orang yang cakap,” kata Podut. “Saya akan meminta politisi yang berkuasa untuk bertukar tempat dengan kami, bekerja seperti yang kami lakukan dan melihat seperti apa kondisi kami.” (Reuters/The Epoch Times)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular