Cadangan devisa Tiongkok naik sedikit pada bulan Juli, yang mengejutkan banyak analis, mengingat perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Cadangan devisa meningkat sebesar $5,8 miliar menjadi $3,1 triliun, menurut angka-angka dari People’s Bank of Tiongkok, bank sentral negara tersebut. Penurunan sekitar $12,1 miliar telah diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Thomson Reuters.

Keseimbangan devisa Tiongkok lebih tinggi dari bulan ke bulan, meskipun mata uang yuan terdepresiasi, yang meningkatkan risiko pelarian modal, dan pasar keuangan domestik yang bergejolak.

Depresiasi Yuan

Yuan Tiongkok (CNY) terdepresiasi sebesar 6,8 persen dari 1 Juni hingga 10 Agustus, sebagian karena meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat. Juli juga merupakan penurunan empat bulan berturut-turut untuk yuan terhadap dolar, beruntun terpanjang dalam tiga tahun.

Dengan adanya tren ini, para ekonom mempertimbangkan kemungkinan Beijing menggunakan beberapa cadangan devisanya untuk mempertahankan mata uangnya. Namun itu tidak terjadi pada bulan Juli, atau setidaknya cukup untuk memindahkan cadangan devisa lebih rendah dalam menghadapi faktor-faktor lain.

Apresiasi aset dan surplus perdagangan kemungkinan besar menjelaskan peningkatan cadangan devisa Tiongkok yang tidak terduga. Susunan cadangan devisa negara tersebut adalah rahasia negara, tetapi umumnya diyakini bahwa Tiongkok memiliki sekitar dua pertiga dari cadangan devisanya dalam aset berdenominasi dolar, dan sisanya dalam yen, euro, dan pound sterling.

“Alasan lain untuk kurangnya arus keluar modal bisa jadi daftar hukuman yang diumumkan baru-baru ini oleh regulator lintas batas … pada entitas-entitas yang telah melanggar peraturan arus dana lintas batas,” para ekonom di ING Group menulis catatan pada 7 Agustus. “Ini mungkin mencegah pelanggaran aturan di masa depan, dan, oleh karena itu, arus keluar modal besar.”

Pengungkit Bank Sentral

Ke depan, Beijing memiliki beberapa tuas yang bisa ditariknya. Pada 31 Juli, Bank Rakyat Tiongkok, People’s Bank of China (PBOC), memberlakukan persyaratan cadangan 20 persen pada short yuan, long dolar berikutnya, membuat perdagangan spekulatif terhadap yuan lebih mahal.

“Jika depresiasi yuan meningkat lagi, seperti awal bulan ini (sekitar 3% hingga 4% per hari), maka PBOC kemungkinan akan memperkenalkan kembali ‘faktor counter-cyclical (berlawanan dengan siklus ekonomi)’ untuk membatasi tingkat depresiasi yuan,” menurut ING. “Pada saat itu, yuan stabil akan mencegah arus keluar modal besar.”

PBOC tahun lalu menggunakan “faktor counter-cyclical” dalam perhitungannya untuk menetapkan laju titik tengah harian untuk yuan, dalam upaya untuk mengurangi kecenderungan volatilitas yang menurun. Faktor ini telah dihapus pada Januari 2018, setelah yuan menguat terus di paruh kedua tahun 2017.

PBOC telah lama berpendapat bahwa pengungkit mata uangnya lebih dari alat kebijakan, dan tidak akan digunakan untuk memanipulasi mata uang dalam menghadapi devaluasi atau untuk menghentikan arus keluar modal.

“Perlu dicatat bahwa dengan faktor counter-cyclical di tempat, itu tidak berarti yuan akan mengubah arah dari depresiasi menjadi apresiasi kecuali dolar melemah terhadap mata uang utama,” tambah ING.

Terakhir, imbal hasil obligasi Tiongkok masih relatif tinggi dan tetap menarik bagi investor-investor asing. Namun, spread dibandingkan dengan obligasi asing menurun baru-baru ini, karena imbal hasil treasury AS naik lebih tinggi pada bulan Juli. Obligasi Tiongkok 10 tahun menghasilkan sekitar 3,6 persen pada 10 Agustus.

Bahaya Masa Depan

Momok arus keluar modal tidak akan hilang selama ketegangan perdagangan tinggi. Para ekonom akan memperhatikan dua poin data ke depan.

Salah satunya adalah laporan keuangan Tiongkok saat ini menjadi kurang mendukung yuan, karena surplus perdagangan yang menyusut. Surplus perdagangan Tiongkok pada bulan Juli menyempit tajam menjadi $28,1 miliar, dibandingkan dengan $44,9 miliar pada bulan yang sama tahun lalu. Impor melonjak 27,3 persen periode yang sama tahun ke tahun, menurut data dari Perdagangan Ekonomi, meskipun beberapa penurunan produk Amerika dikenakan tarif seperti kedelai.

Faktor lain, merupakan jangka panjang, adalah tren perusahaan-perusahaan asing yang meninggalkan Tiongkok karena lingkungan bisnis dan hukum yang bermusuhan. Ini dapat memicu penurunan besar dalam cadangan devisa Tiongkok karena perusahaan-perusahaan tersebut mengkonversi yuan ke mata uang asing karena mereka membawa modal dan keuntungan kembali ke negaranya.

Beberapa langkah ini telah bertahun-tahun menjadi penyebab dan berlangsung  untuk waktu yang lama, mengingat meningkatnya biaya tenaga kerja di Tiongkok dan persaingan yang lebih besar dari produsen-produsen domestik.

Ada banyak contoh dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2015, raksasa elektronik Jepang Panasonic menutup semua pabriknya di Tiongkok setelah 37 tahun, sementara pada tahun 2017, pembuat hard-drive Amerika Seagate menutup pabriknya di Tiongkok Tenggara dan mem-PHK sekitar 2.000 pekerja. Tahun ini, konglomerat Korea Selatan Samsung mengumumkan penutupan sebuah pabrik di Shenzhen karena kekhawatiran akan tarif AS untuk barang-barang elektronik Tiongkok. (ran)

ErabaruNews

Share

Video Popular