Erabaru.net. Suatu malam aku tiba di rumah, saat istriku menyiapkan makan malam, kugenggam tangannya dan berkata, “Aku ingin bercerai.”

Ia tampak tidak terganggu oleh kata-kataku dan malah bertanya dengan lembut padaku, “Kenapa…?”

Aku menghindari pertanyaan itu sehingga membuatnya marah. Ia melempar sumpit dan berteriak, “Kamu bukanlah seorang pria!”

Kutahu ia ingin mengetahui masalah pernikahan kami, tetapi aku hampir tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan…

Kini hatiku milik si Jane di tempat kerja. Aku sudah tidak mencintai istriku, aku hanya iba padanya.

Dengan rasa bersalah yang mendalam, kususun perjanjian perceraian yang menyatakan bahwa istriku mendapat rumah, mobil, dan 30% saham perusahaanku.

Istriku melirik dan merobek perjanjian itu hingga berkeping-keping. Wanita yang menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku telah menjadi orang asing…

Aku merasa bersalah dengan kenangan yang telah kami bagi bersama, dan semuanya musnah ditelan waktu.

Istriku menangis tersedu-sedu, dan akhirnya ide perceraian itu tenggelam. Nyata dan sangat buruk.

Pada hari berikutnya, aku pulang kerja larut malam dan melihat istriku sedang menulis sesuatu di meja.

Ia tidak menginginkan apa pun dariku, tetapi memintaku agar tetap rukun selama 30 hari ke depan.

Alasannya sederhana: putra kami menghadapi ujian selama sebulan, dan istriku tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarnya akibat perceraian kami.

Istriku juga memintaku untuk mengingat bagaimana aku menggendongnya di hari pernikahan kami… Dan kini ia memintaku menggendongnya dari kamar tidur ke pintu depan rumah setiap pagi selama sebulan.

Kupikir istriku menjadi gila, tetapi demi mempertahankan hari-hari terakhir kami, kuterima semua permintaannya yang aneh.

Kami berdua sangat kikuk saat aku menggendongnya ke luar pada hari pertama, tetapi putra kami dengan senang bertepuk tangan di belakang kami, bernyanyi, “Ayah menggendong ibu dalam pelukannya!”

Dan kata-kata putraku menyentuh hatiku…

Aku menggendongnya dari kamar tidur ke ruang tamu, dan kemudian ke pintu depan rumah.

Istriku berbisik, “Jangan katakan padanya tentang perceraian.” Aku mengangguk dan menurunkannya dari gendonganku.

Kami tidak canggung pada hari kedua. Istriku bersandar di dadaku, dan aku dapat mencium wangi blusnya.

Kusadari bahwa telah lama aku tak memperhatikannya …

Ia sudah tidak muda lagi. Ada kerutan halus di wajahnya, dan rambutnya mulai memutih! Pernikahan kami telah membebaninya.

Sesaat, aku bertanya dalam hati apa yang telah kulakukan padanya…

Pada hari keempat, saat aku menggendongnya, aku merasakan keintiman kembali… Ini adalah wanita yang telah memberikan sepuluh tahun hidupnya kepadaku.

Pada hari kelima dan keenam, kusadari bahwa keintiman kami tumbuh kembali. Aku semakin mudah menggendongnya saat sebulan hampir berlalu, dan tiba-tiba kusadari bahwa ia menjadi sangat kurus.

Suatu pagi, hatiku terpukul saat kusadari istriku mengubur begitu banyak derita dan kepahitan dalam hatinya, dan tanpa kusadari, kubelai kepalanya.

Ilustrasi. Kredit: blogspot

Putra kami datang pada saat itu dan berkata, “Ayah, saatnya untuk menggendong ibu keluar!” Baginya, melihat ayahnya menggendong ibunya keluar telah menjadi bagian penting setiap pagi.

Istriku memberi isyarat kepada putra kami untuk mendekat, dan memeluknya erat-erat. Kupalingkan wajahku karena aku takut aku mulai berubah pikiran.

Aku menggendong tubuh istriku erat-erat dan tangan istriku melingkari leherku, mirip pada hari pernikahan kami.

Pada hari terakhir, saat aku menggendongnya, aku hampir tidak dapat melangkah. Aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku menaiki anak tangga menuju tempat Jane dan berkata, “Maafkan aku, Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku lagi”.

Kusadari semuanya. Telah kubawa istriku ke rumah kami di hari pernikahan kami, dan aku harus memeluknya “sampai maut memisahkan kami”.

Aku pulang ke rumah dengan bunga di tangan dan tersenyum lebar. Tetapi istriku meninggal dalam tidurnya saat kupergi.

Ternyata ia telah berjuang melawan kanker selama beberapa bulan terakhir, tapi aku terlalu sibuk dengan Jane sehingga tidak menyadarinya…

Istriku tahu bahwa ia akan segera meninggal, itu sebabnya permintaan terakhirnya sangat penting baginya …

Ia ingin putra kami melihatku sebagai seorang suami yang penuh kasih dan kami tetap rukun sampai “sampai maut memisahkan kami”.

Pernikahan adalah suci. Menemukan sahabatmu dan mencintainya tanpa syarat “sampai napas terakhirmu”

Aku mencintaimu, istriku. (vv/an)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular